Minggu, 06 Agustus 2017

Tell Me Why (Part 18)

Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang melambaikan tangannya ke arah Baim. Dia tercengang sebentar lantas menghampiri gadis itu. Sembari berjalan Baim hanya bertanya-tanya dalam hati, benarkah gadis itu adalah Danisha? Kenapa terlihat sedikit berbeda? Seingat Baim dulu Danisha berpenampilan sangat cuek dan jauh dari kata modis namun tidak tomboy juga. Hanya saja gaya berpakaiannya agak berbeda dengan gadis-gadis kekinian. Biasanya Danisha hanya mengenakan kaus, blue jeans, dan kardigan warna hitam atau abu-abu. Sesekali saja mengenakan kemeja lengan pendek yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam atau biru tua. Terlihat begitu simpel dan apa adanya, seolah-olah dia tidak suka mengikuti tren masa kini.
Namun yang dilihat Baim sekarang, sungguh berbeda dengan yang dilihatnya dulu. Baim hanya tertegun sembari mengamati penampilan Danisha dari ujung kepala sampai ujung kaki; rambut hitam panjang bergelombang yang dulu sering dikuncir cepol kini terurai dengan indahnya, kaus dan kardigannya diganti dengan sepotong mini dress berwarna pastel, sepatu sneakersnya telah berubah menjadi sepasang chunky heels yang sangat cocok dengan kakiknya yang jenjang.
Baim menelan ludahnya.Terperangah.
"Apa lo lihat-lihat begitu? Baru sadar kalau gue ini cantik banget ya?", tanya Danisha dengan nada menggoda Baim yang masih memasang tampang cengo.
"Lima tahun lebih ngga ketemu masih cupu aja lo, Im. Ngga berubah sama sekali. Payah!", ejek Danisha diiringi tawa renyah. Lagi-lagi Baim tertegun melihatnya.
"Jangan bengong aja, ayo pesen makanannya.", ditariknya lengan Baim menuju counter untuk memesan burger dan soda.
Baim lagi-lagi hanya bisa tertegun sembari matanya tak lepas dari Danisha yang begitu...ah, cantiknya!
*
"Jujur aja gue sedikit kaget ngelihat lo yang sekarang. Bikin pangling aja.", ucap Baim dengan wajah memerah begitu Danisha menanyakan kenapa sejak tadi dia hanya memandangnya tanpa kedip.
Danisha terkekeh dan meletakkan burgernya di atas nampan, "Kayaknya semua temen kuliah yang ketemu gue mengatakan hal yang sama ya. Lagian kenapa sih pada heran banget sama penampilan gue sekarang?", Danisha menyeruput colanya, "Emang gue dulu keliatan cupu banget apa ya, Im?"
Baim mengerlingkan matanya, mencari jawaban yang paling tepat.
"Cupu sih engga, cuma engga modis dan kekinian aja sih. Tapi ngga cupu kok, menurut gue dandanan lo oke oke aja."
"Jadi ngga salah juga dong kalo gue mengubah sedikit penampilan gue ini?"
"Ya engga, itu kan hak lo, Cha."
Danisha tercekat mendengar cara Baim memanggilnya.
"Lo masih inget aja panggilan gue di rumah."
"Lo juga masih inget suka manggil gue Juple.", Baim terkekeh.
"Karena cuma itu yang ngingetin gue sama lo, Im. Ngga ada orang lain yang gue panggil dengan nama itu selain lo."
"Dan gue lebih suka manggil lo Cicha dari pada Danish atau Nisha kayak temen-temen lo yang lain."
Wajah Danisha terlihat sedikit memerah. Baginya panggilan Cicha terdengar begitu spesial karena hanya orang terdekatnya yang memanggilnya begitu. Hanya orangtuanya, saudara-saudaranya, dan Baim, yang dulu pernah mengisi hatinya.
"Mantan pacar gue yang lain ngga ada yang manggil Cicha lho. Kebanyakan ya manggilnya Danish. Padahal gue ngga suka dipanggil begitu. Kedengarannya kayak lagi manggil cowok."
"Ngomong-ngomong soal mantan, lo masih sama yang dulu lo balikan itu?", tanya Baim mengganti topik pembicaraan.
Tanpa disangka Danisha menggeleng diiringi tampang kesal.
"Tau ngga lo, gue nyesel senyesel-nyeselnya balikan sama dia. Aselik dia ngeselin abis!", Danisha menyeruput colanya lagi.
"Dia itu bawelnya kebangetan, posesif, insecure, hobi banget mengekang gue, tapi begitu dibawelin balik dia ngamuk. Eh tapi pas gue minta putus dia mohon-mohon jangan putusin dia. Apaan coba drama banget jadi cowok. Ih, najis banget kalo inget diaaa!"
Mata Baim terbelalak, "Ngamuk? Suka mukul lo gitu?"
"Mukul sih engga, Im. Tapi omongannya itu lho ngga enak didenger. Kadang suka kelewat kasar dan ngata-ngatain gue sembarangan. Siapapun kalau digituin kan ngga ada yang betah Im, yang ada malah kesiksa lahir batin. Akhirnya dua tahun lalu gue tinggalin aja dia."
"Kenapa lo mau balikan sama dia waktu itu?", tanya Baim dengan wajah sinis karena mengingat setelah Danisha memutuskannya dia kembali pada mantannya itu.
Danisha menghela napas panjang, lantas memandang Baim dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Itulah begonya gue, Ple. Itulah yang bikin gue nyesel setengah mampus. Harusnya gue ngga percaya sama janji-janji dia yang udah kayak caleg lagi kampanye. Waktu itu gue masih terlalu labil dan buru-buru ambil keputusan untuk pisahan aja sama lo, gue keburu panas saat gue tau lo punya sahabat cewek yang menurut gue jauh lebih cantik daripada gue. Gue ngerasa ngga ada apa-apanya dibandingkan dia yang sering bikin lo ketawa, dan terlihat enjoy kalo lagi bareng dia. Gue terlalu cemburu sampai ngga mikir apa-apa lagi selain putusin lo aja terus balikan sama Reval."
Baim mendengus, "Tapi dulu lo bilangnya bakal baik-baik aja dengan adanya Namira."
"Yah, namanya juga perasaan, Ple. Gue ngga bisa nahan cemburu banget waktu itu."
"Dan kenapa lo baru putusin dia dua tahun lalu? Tiga tahunnya lo ngapain aja?", tanya Baim lagi.
"Oh, itu. Gue jalan sama orang lain di belakang Reval."
Baim tercengang, "Lo selingkuh?!"
"Ya abis gimana, Reval ngotot ngga mau putus, tapi di sisi lain gue ngga tahan sama dia dan pengen lepas dari dia. Ya udah, waktu itu ada temen sekelas yang tau masalah gue, mau dengerin semua curhatan gue, terus ngakuin kalau udah suka sama gue bahkan sebelum gue jadian sama lo, ya langsung gue terima aja perasaan dia."
Baim menggelengkan kepalanya, tidak menyangka. "Parah lo, Cha. Jangan-jangan lo begitu juga ke gue ya?"
Danisha mengangguk pelan, "Jujur aja iya waktu gue ngerasa lo lebih nyaman ngomong sama Namira dibanding gue."
"Sialan..", umpat Baim setengah berbisik, namun masih terdengar oleh Danisha.
"Maaf ya baru ngaku sekarang. Hehehehe.", Danisha terkekeh seraya tangannya hendak meraih pipi Baim namun segera ditepis laki-laki itu.
"Ngga usah pegang-pegang, tangan lo bekas mayonaise!"
Danisha tertawa lebih lantang.
"Gimana sama Namira, gue denger dulu ngga lama setelah wisuda lo jadian juga sama dia.", tanya Danisha sambil menyuap kentang goreng ke mulutnya.
Baim mendengus,entah kenapa rasanya dia enggan membahas soal ini.
"Udah putus ya?", Danisha memandang Baim lekat-lekat, seakan bisa membaca isi pikiran Baim.
Baim menghela napas panjang. "Harus banget gue jawab nih."
"Ngga perlu, raut muka lo udah bisa menjawabnya."
"Lantas apa jawabannya kalau gitu?"
"Lo masih cinta sama dia tapi oleh suatu alasan lo ngga bisa sama dia lagi. Kan?"
Seketika Baim terperangah. "Lo belajar jadi cenayang ya sekarang?"
"Hahahahaha."

"Kalau masih cinta, tapi ngga bisa bareng lagi emang sedih banget sih, Im.", celetuk Danisha begitu keluar dari tempat makan dan kini berjalan menuju parkiran.
Baim yang berjalan di sampingnya hanya menoleh sembari tersenyum tipis.
"Emang lo udah pernah ngerasain gimana sedihnya?", tanya Baim.
Danisha mengangguk tegas,"Pernah. Banget."
"Oh ya?"
"Iya. Sekarang ini gue lagi ngerasain gimana sedihnya."
"Oh ya?", tanya Baim lagi kali ini dengan nada menggoda namun Danisha menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Danisha meraih tangan Baim dan menggenggamnya erat.
Seketika Baim menyadari sesuatu. Ah, yang benar saja!
"Cha, lo.."
"Ngga apa-apa, Ple. Jangan merasa terbebani dengan ini.", ucap Danisha lembut seraya melepas genggamannya.  "Anyway, gue seneng banget bisa ketemu lo lagi setelah sekian lama. Mana nyari nomer telepon lo susah banget, untung gue ketemu temen kerja lo yang juga tetangga gue. Serius gue ngga pernah sesenang ini ketemu sama mantan.", Danisha berusaha tertawa dibalik matanya yang makin berkaca-kaca dan nyaris menjatuhkan dari pelupuk matanya.
"Gue balik ya, Ple. Makasih loh udah bersedia ketemu gue. Moga ngga ada penyesalan ya.", ucap Danisha seraya membuka pintu mobilnya.
Baim hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa mengatakan apa-apa lagi sampai mobil Danisha melaju meninggalkan dirinya yang masih termangu.
'Ah, kenapa lo begini sih, Im?!', rutuk Baim pada dirinya sendiri.
Dalam hati sebenarnya Baim ingin mengatakan bahwa bisa saja dia menerima perasaan Danisha kembali, namun dia masih belum terlalu yakin dan perasaannya pada Namira juga begitu berat untuk dilepaskan.
Baim tertegun, mendadak teringat sesuatu soal Namira...ah, Rado!
'Bentar, dia ngga lagi nemenin Namira di kedai sampai selarut ini kan?', batin Baim bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dilirknya jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Baim meraih ponselnya, dan menekan nomor Rado.
"Halo" Rado mengangkatnya.
"Di mana lo?",tanya Baim.
"Baru balik dari kedainya Namira. Gimana kencan lo?"
Baim tercekat mendengarnya, entah kenapa tiba-tiba ada yang menganggu perasaannya. Nada bicara Rado sedikit..
"Ya udah, ini gue mau balik. Besok aja gue ceritain."
Klik. Baim mengakhiri panggilan.
Baim menghela napas panjang. 'Lo ngga bakalan kayak dulu lagi kan, Do. Engga kan?'

Setelah itu, pikiran Baim kembali ke masa lalu. Masa yang sebenarnya sangat enggan untuk ia ingat kembali.

to be continued..




Sabtu, 05 Agustus 2017

Tell Me Why (Part 17)

Bingung.
Baim menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Memutar otak, mencari cara agar Namira batal datang ke rumahnya atau lebih baik dianya saja yang pergi dan bertindak seolah-olah semua itu terjadi secara mendadak. Ah, terlalu biasa, pikir Baim. Ia pun kembali memutar otak dan tiba-tiba muncul bayangan Rado dalam benaknya. Baim mengangguk pasti dan segera menekan nomor Rado, meminta pertolongan darurat.
"Plis deh, Im. Lo ada-ada aja deh ah.", keluh Rado begitu Baim mengatakan ide konyolnya. "Namira mana bisa dibohongin pake model begituan."
"Coba aja dulu, Do. Lo bilang aja mau balikin kolor gue yang lo pinjem buat renang Minggu kemaren. Dan begitu nyampe sini guenya udah ngga ada di rumah."
Terdengar Rado menghela napas, "Im, kenapa lo ngga jujur aja sih ke Namira kalo lo mau ketemuan sama mantan lo itu?"
"Gila kali lo, ntar dikiranya gue balikan lagi sama dia. Ngga ah."
"Loh, bukannya bagus kan kalo Namira mikirnya begitu? Kan jadinya lo ngga terbebani lagi sama dia yang hampir tiap hari ngajakin ketemuan."
"Masalahnya dulu gue pernah bilang ke Namira kalo sampe kapanpun ngga ada istilah kembali ke mantan. Yakali ngga lucu banget kalo gue terlihat ngejilat ludah sendiri."
"Ya tinggal bilang aja lo mau ketemu biasa, melepas rindu, reunian, atau apa kek."
"Ngga. Pokoknya lo ke sini sekarang bantuin gue!", seru Baim sedikit ngotot.
Rado sekali lagi hanya bisa menghela napas, "Kadang gue ngerasa malu jadi temen lo, Im."
*
Namira sedikit terkejut mendapati Rado keluar dari rumah Baim. Padahal aslinya Rado baru saja sampai dan segera menjalankan misi rahasia yang direncanakan Baim yang notabene masih berada di dalam rumah.
"Eh, Mira.", sapa Rado pada Namira dengan sedikit canggung. Raut wajahnya dibuat seakan-akan dia tidak menyangka akan bertemu Namira saat itu.
"Abis ngapain lo?", tanya Namira menghampiri Rado yang berdiri di depan gerbang rumah Baim.
"Ah, ini, gue abis balikin kolornya Baim, tempo hari gue pinjem buat renang di Atlantis sekalian mau ngajakin dia futsalan, eh tapi dianya ngga ada di rumah.", ujar Rado mulai berakting.
Namira mengerutkan dahinya, "Baim ngga ada di rumah? Ke mana dia?"
"Tau tuh, tadi gue cuma ketemu sama si Mbok.", tunjuk Rado ke arah rumah Baim. "Lo mau ketemu Baim?"
Raut wajah Namira terlihat kuyu mendengar Baim sedang tidak ada di rumah. Sebelumnya dia memang sudah punya firasat bahwa Baim akan menghindarinya lagi, tapi ada sedikit harapan Baim mau menemuinya.Tapi sayangnya tidak demikian.
"Dia ngehindari gue mulu, Do. Ngga capek apa ya?", tanya Namira pada dirinya sendiri namun matanya melihat ke arah Rado.
Rado tercekat, sedikit bingung karena ini tidak ada dalam skenario. Menurut Baim setelah Rado mengatakan Baim tidak ada di rumah, Namira akan langsung pergi entah balik ke rumah atau menuju kedai.
"Ah, ngga gitu kali, Mir. Mungkin dia emang ada keperluan mendadak dan mendesak.", ujar Rado asal.
"Keperluan mendadak setiap kali gue ajakin ketemu? Ngga masuk akal.", Namira mendengus. "Ya udahlah kalau dia maunya begitu."
Rado jadi kikuk sendiri melihat Namira yang begitu kecewa seperti itu. Mendadak ada sebuah hasrat yang mendorongnya agar melakukan sesuatu.
"A-anu, Mir. Lo ngga ke kedai hari ini?", tanya Rado iseng.
"Tadinya gue mau ke sana setelah ketemu Baim, tapi berhubung ngga ketemu jadinya gue mager. Mau lanjut tidur aja lah dari pada ketemu klien."
"Jadi lo mau ketemu klien hari ini?", tanya Rado lagi. Namira mengangguk.
"Iya, mau dekor kedai."
"Ya udah ayok gue temenin ke sana biar lo ngga bete."
KLANG!
Mendadak seperti ada suara kaleng jatuh dari atap rumah. Suasana seketika menjadi canggung. Namira memandang Rado dengan pandangan aneh. Dan Rado seketika mengutuk dirinya sendiri.
'LO NGOMONG APAAN SIH DOOOO??!!'
Ah tapi sudahlah, hanya itu yang terlintas dipikirannya.
Semenit berlalu, Namira kemudian terkekeh pelan. Rado berbalik menatap Namira dengan bingung.
"Jadi maksudnya lo mau nganterin gue ke kedai gitu?", ulang Namira setelah tawanya reda.
Rado mengangguk sembari tersenyum canggung, "Ya kalo lo ngga keberatan sih."
"Ya udahlah ayok.",ujar Namira akhirnya.
"Ha?"
"Lo tungguin gue bentar, mau ambil tas sama helm dulu."
Sekian detik Rado hanya melongo dan baru sadar saat menerima pesan dari Baim yang diam-diam mengawasinya dari kamarnya di lantai dua.

From: Baim Kupret
Gimana? Mission accomplished kan?

Buru-buru Rado membalas sebelum Namira keluar dari rumahnya
'Sedikit melenceng dari skenario, tapi oke kok'

'Eniwei gue mau anter Namira ke kedai. Is it okay for you?'

From:Baim Kupret
'Wait..WHAT? NGGA SALAH LO?

Rado menghela napas. 'Gue juga ngerasa ada yang salah Im,' batinnya dengan perasaan sedikit bersalah.
*
Sebenarnya hubungan pertemanan Rado dan Namira bisa dibilang cukup dekat meski perkenalan mereka juga karena Baim yang mempertemukan. Namun ketika Baim mulai melakukan pendekatan lebih serius ke Namira yang tadinya hanya sebatas sahabat dari kecil menjadi gebetan lalu pacaran, Rado tidak seintensif dulu menghubungi Namira, mengiriminya pesan dan sesekali melakukan video call karena mereka kuliah di kota yang berbeda. Dan saat itu juga Rado bertemu dengan Brietta dan jatuh cinta dengan gadis oriental tersebut.
"Udah?", tanya Rado pada Namira yang menghampirinya di teras kedai bersamaan dengan perginya si klien.
Namira mengangguk. "Sorry ya kalo rada lama, gue kira ngebahas soal dekor kedai ngga nyampe sejam begini. Lo pasti bosen nungguin ya sampe abis kopi dua cangkir?"
Rado menggeleng sembari tersenyum, "Yaelah Mir kayak sama siapa aja."
"Laper ngga? Mau brownies?", tawar Namira ,"Gue kasih cuma-cuma nih buat lo."
"Ngga lagi pengen yang manis-manis. Kripik aja ada kripik?"
"Ohh, ada tuh banyak. Kemaren Brietta yang nyumbangin stok kripik kentang..", Namira tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihat ada aura lain pada Rado saat nama Brietta disebut.
"Lo..masih suka calling-callingan sama Brietta?", tanya Namira kemudian.
Rado mendengus, "Masih pake nanya lagi. Udahlah, gue ngga mau nambahin masalah buat dia. Buat gue sendiri juga."
"Bokap lo jadi ngirim lo ke Kairo?"
"Lo tau dari mana soal itu?", Rado mengerutkan dahi karena seingat dia, dia hanya cerita pada Baim dan Andra...ah! "Ghina ya?", tebak Rado.
Namira mengangguk. "Ya masa gue tau dari Baim. Dia diajakin ngomong dua kalimat aja susah banget."
Rado tersenyum tipis, "Lo enak masih bisa leluasa buat ngehubungin Baim, rumah sebelahan, masih bisa ngeliatin meski dari jauh. Lah gue boro-boro."
"Leluasa ngehubungin ngga ada artinya kalo si empunya ngga mau nanggepin balik, Do. Sia-sia belaka."
"Seenggaknya lo udah mencoba."
"Kadang gue ngerasa nyesel udah mencoba."
"Baim masih peduli sama lo, Mir."
"Begitupun Brietta, Do."
"Dia engga suka sama gue."
"No. She did."
"Ha?"
"Brietta cuma kegedean gengsi aja, Do."
Rado menghela napas pendek, "Percuma juga lah, Mir. Ngga ada gunanya, sia-sia belaka."
Namira mendengus, "Kenapa semuanya terdengar sia-sia aja ya?"
"Nah, iya kan. Mendingan udahan deh ngomongin hal yang sia-sia begini."
"Kan lo yang mulai."
"Lah? Lo tuh."
"Eh? Iya ya? Hehehe. Sori."
"Mana kripiknya sini keluarin!"

Namira tersenyum. Dan entah kenapa Rado tercekat melihat senyum Namira malam ini. Ada yang lain, ada sesuatu yang beda. Sesuatu yang aneh.

to be continued..


Minggu, 30 Juli 2017

Tell Me Why (Part 16)

"Kamu..serius dengan yang barusan kamu bilang?", tanya Mama dengan tajam menatap Namira. Gadis itu akhirnya mengangguk dengan perasaan yang begitu berat.
Mama menghela napas pendek, "Emangnya kamu lagi dekat sama orang lain sampai si Baim kamu tinggalin begitu?"
Namira tercekat, entah kenapa dia merasa Mamanya mengira dialah yang memutuskan secara sepihak dengan Baim.
"Ma, ngga ada orang lain buat Namira, selama ini cuma ada Baim doang.", jawab Namira.
"Lalu kenapa putus? Atau dia yang.."
Namira buru-buru menggeleng, "Baim juga ngga punya orang lain, Ma Justru kami putus karena masih saling sayang dan menghargai pilihan masing-masing."
Kening Mama berkerut, tidak paham. "Pilihan soal apa? Kita kan ngga lagi ikutan pilkada, Neng."
"Ngga gitu, Ma. Bukan itu, yang ini lebih rumit daripada masalah pilkada."
Namira menarik napas panjang, mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.
"Ma, maafin kalau alasan aku terdengar aneh dan ngga masuk akal atau yang lebih parah malah bikin Mama marah dan kecewa."
Mama memajukan posisi duduknya, merapatkan pada anaknya. "Ya udah, Mama dengarkan."
"Sebenarnya Baim yang mutusin aku, Ma. Dia yang udah terlalu kecewa sama aku karena aku..aku ngga pernah mau kalau diajak nikah..", Namira memandang Mamanya dengan sedikit takut. Dan sudah terlihat raut wajah Mamanya yang kaget dan bingung dengan apa yang sudah dikatakannya.
"Aku ngga suka kalau dia ngajakin aku buat tunangan apalagi nikah, Ma."
"Tapi kenapa? Bukannya Baim anak yang baik, mandiri dan soleh?"
"Masalahnya bukan ada di Baim, Ma. Tapi semua masalah ada di aku. Aku yang pemikirannya lain dengan dia, aku ngga sependapat sama dia, prinsip kami beda. Maka itu.."
"Bentar, Mama ngga ngerti sebenarnya kamu ini kenapa deh, Neng? Memangnya ada apa sama kamu? Jangan-jangan kamu sakit ya? Ha?"
"Aku cuma ngga mau kayak Mama dan Papa. Aku takut kalau berkomitmen ujung-ujungnya malah pisah. Aku ngga mau. Aku takut, Ma!", seru Namira diiringi tetesan kecil yang jatuh di pipinya.
Mama terhenyak. Tidak menyangka bahwa anaknya ternyata memendam luka lama yang harusnya hanya dia saja yang merasakan.
"Namira.."
"Maaf Ma, aku cuma terlalu takut kehilangan orang yang aku sayangi aja. Maka itu aku ngga bisa nerima ajakan Baim untuk berkomitmen lebih jauh karena aku tau soal pernikahan itu ngga segampang dan ngga seindah di drama televisi. Aku tau kalau kenyaataannya jauh lebih rumit dan butuh banyak pertimbangan ini itu. Aku ngga siap buat ngadepin ini, Ma. Aku ngga mau ngerasain perpisahan yang lebih nyakitin lagi. Putus sama Baim aja aku udah tersiksa, apalagi kalau sampe.."
"Cerai seperti Mama dan Papa?"
Mama membelai kepala Namira dengan penuh sayang, "Mama minta maaf ya udah bikin kamu ikut ngerasain luka dan beban yang harusnya Mama aja yang nanggung. Tapi kamu ngga harusnya mikir begitu untuk kehidupan kamu sendiri Nam, pikirkan saja yang senang-senang, yang selayaknya bikin kamu bahagia. Jangan biarkan diri kamu larut dalam ketakutan atas mindset yang kamu ciptakan sendiri. Pengalaman Mama jangan kamu jadikan contoh, tapi kamu bisa lihat banyak pernikahan yang berhasil, yang bahagia sampai maut memisahkan."
"Aku ngga bisa Ma, rasa takut itu selalu ada bahkan pada saat aku ngga keingetan soal Mama dan Papa. Justru karena Baim selalu ada di depan mata aku makanya aku makin takut, Ma. Aku sayang banget sama Baim, aku ngga mau kehilangan dia sebagai sahabat aku Ma."
"Nam, dengar Mama deh..", Mama menepuk bahu Namira pelan, "Coba kamu berusaha untuk mengubah mindset kamu itu dan melawan ketakutan kamu sekeras mungkin. Mama ngga rela kalau sampai kamu begini terus sampai tua. Mama juga ingin melihat kamu berjodoh dan dipinang oleh seseorang. Mama pengin gendong cucu Mama, melihatnya tumbuh dewasa. Pengin lihat kamu bahagia dengan suami kamu, sebagai pengganti kisah Mama yang ngga layak untuk dijadikan panutan. Tolong Namira, kali ini dengarkan Mama. Mama ngga mau kamu larut dalam ketakutan yang konyol. Pernikahan itu untuk diikrarkan lalu dijalani, bukan untuk ditakuti. Hadapilah, Nak."
"Tapi Ma, semua itu terlalu sulit dan berat buat aku. Aku.."
"Perlahan cobalah untuk mengubahnya, Nam. Demi kebaikan kamu, demi masa depan kamu juga. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mama juga."
"Tapi gimana kalau aku cukup ngerasa bahagia kalau hanya dengan begini?"
"Seenggaknya Mama lihat dulu seberapa besar usaha kamu. Selanjutnya, kamu yang memutuskan."
Namira terlihat berpikir sebentar, tak lama ia mengangguk pelan.
"Oke, aku akan nyoba. Demi Mama."
"Dan demi diri kamu sendiri."
Mamanya tersenyum lantas memeluknya erat dan penuh kasih sayang.
*
TING!
Baim membuka sebuah pesan yang masuk di handphonenya. Pikirnya mungkin Namira atau Andra yang iseng curhat lantaran bosan menunggu Ghina di salon. Tapi ternyata dia salah, justru ada nomor asing yang mengiriminya pesan.

From: +628234456xxx
Hai, Im. Ini gue Danisha. Masih inget gue kan?

Baim tercengang membaca pesan itu. Danisha yang diingatnya adalah adik tingkatnya di kampus dulu. Yang juga sekaligus mantan kekasihnya.

'Kenapa harus muncul di saat begini sih?', batin Baim seraya memikirkan balasan apa yang akan dia dikirimkan pada gadis bernama Danisha itu.
Ya, dia adalah mantan kekasih Baim saat kuliah dulu. Mereka berpacaran hanya sekitar dua bulan dan putus secara sepihak. Danisha memutuskan untuk berpisah karena ia lebih memilih kembali dengan mantan kekasihnya juga menjadikan Namira sebagai alasannya untuk putus. Saat itu, Baim tidak menceritakan soal sahabatnya dari kecil yang selalu bersama-sama dengannya hingga akhirnya berpisah saat kuliah. Dan pada suatu hari Danisha berniat menemui Baim di studio band rentalan seraya membawakan makanan yang dia masak sendiri dengan penuh cinta. Tapi begitu sampai di sana dia melihat Baim tengah bersama seorang gadis berkulit kuning langsat dengan potongan rambut shaggy sebahu tertawa-tawa entah sebab apa.
Ya, gadis itu adalah Namira yang tengah mudik dari kuliahnya di Semarang.
Baim menjelaskan bahwa Namira adalah sahabatnya dari kecil, Danisha pun mengerti namun tetap saja ada perasaan tidak suka ketika melihat Baim asyik dengan perempuan lain, sekalipun ia tau hanya sekedar sahabat.
Tak lama setelah kejadian itu, Danisha pun memutuskan Baim. Baim bukannya sedih tapi justru bersyukur, karena ia jadi tau bahwa Danisha bukanlah seorang yang baik untuknya dan pasti ada orang lain yang lebih baik dari Danisha. Baim pun berharap agar Danisha kelak bahagia dengan pilihannya untuk kembali dengan mantannya itu.
Tak disangkanya, hari ini gadis itu kembali menghubunginya setelah sekian lama. Sudah lebih dari enam tahun semenjak mereka putus Baim tak lagi berkontak dengan Danisha, bukan karena saling memendam benci tapi karena Baim tau pacar Danisha saat itu terlalu overprotektif dan insecure terhadapnya. Maka itu Baim memilih untuk putus kontak saja dengan Danisha.
Baim pun membalas pesan dari Danisha setelah memikirkannya cukup lama.

'Iya gue masih inget sama lo. Sehat?'

Secepat kilat balasan dari Danisha pun datang.

'Kebetulan gue lagi ngga sehat, pengin cari hiburan biar fresh'

'Terus lo jadiin gue hiburan itu?' Baim membalasnya dengan perasaan sedikit kesal.

'Iya, gue mau manfaatin lo buat jadi hiburan gue. hehehehe. ngga deng becanda, Im.
Gue kangen Im, mau ketemu. Bisa ngga?'

Baim mendengus, ternyata Danisha masih sama saja seperti dulu, tidak suka bertele-tele dan lugas. Sedikit mirip dengan Namira hanya beda pada cara mengatur gengsi. Dan Namira lebih menjaga gengsinya daripada Danisha yang cuek dan tidak tau caranya untuk jaim.

'Oke. Mau ketemu kapan?'

"Nanti sorean bisa? Jam 4 gue baru keluar kantor'

'Deuh, anak kantoran nih sekarang. Oke deh. Mekdi deket kampus aja gimana?'

'Deal! See u soon, Pleee'

'Bangke!', Baim mengumpat pada dirinya sendiri. Masih ingat saja Danisha dengan 'panggilan sayang'nya untuk Baim; Juple. Dia tersenyum sendiri mengingatnya.
Ada perasaan senang yang menyelimuti Baim dengan tiba-tiba. Namun tak lama senyumnya memudar saat sebuah pesan masuk di handphonenya.

From: Namira Ramadhina
Di rumah ngga?Gue ke rumah lo sekarang ya. Jangan cari alasan buat kabur lo!

'YA ALLAH YA TUHANKU..!' Baim berseru seraya memegang keningnya sendiri, tiba-tiba terasa pening.

to be continued..


Sabtu, 20 Mei 2017

Tell Me Why (Part 15)

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, Namira masih belum  beranjak dari tempat tidurnya padahal harusnya hari ini dia membuka kedai dan melayani pelanggan. Bahkan dia lupa bahwa hari ini ada pertemuan dengan salah seorang kenalannya yang seorang arsitek untuk membahas soal renovasi kedainya. Namira baru ingat ketika Ghina menelponnya untuk menanyakan soal itu.
"Mira,lo lagi kenapa coba? Ini meeting penting loh harusnya lo inget. Kan gue udah minta lo yang nemuin dia, gue kan mau pergi sama Andra dan nyokap. Aduh gimana sih lo?", keluh Ghina di seberang sana.
Namira terkekeh pelan, "Gue mager banget sumpah Ghin. Ya udah ntar gue telpon orangnya aja deh, meetingnya ditunda dulu."
"Mir, plis deh. Lo mentingin kegiatan mager lo itu daripada meeting yang jauh lebih penting? Tau ah, terserah lo aja. Sisanya lo yang urus ya, tugas gue cuma ngingetin lo doang. Pokoknya gue mau denger kabar itu kedai bakal direnovasi dalam waktu dekat. Oke?"
"Iya iya, serahin aja sama gue.", balas Namira sekenanya seraya menutup telpon.
Dia menghela napas dalam. Entah apa yang sedang mengusik pikirannya hingga rasanya malas untuk melakukan apapun akhir-akhir ini. Yang dia ingat hanya pertemuan terakhirnya dengan Baim dua hari lalu saat dia baru pulang dari rumah Ghina. Dia tak sengaja berpapasan dengan sahabatnya dari kecil itu di depan rumahnya. Baim yang hendak membuang sampah hanya tersenyum tipis saat Namira menyapanya. Senyum yang tidak biasa, terlihat canggung dan sedikit memaksa. Namira begitu asing melihat Baim yang sekarang, kenapa begitu besar perubahan hubungan diantara mereka, pikir Namira.
Baim masih belum tahu alasan Namira tidak pernah tertarik dengan komitmen adalah karena trauma dan phobianya. Rasanya Namira belum sanggup menceritakannya pada orang lain. Ah, kecuali pada Brietta. Kalau saja waktu itu dia tidak keceplosan bicara dan Brietta tidak mendesaknya mengaku, Namira akan tetap tutup mulut dan menjaga rahasianya rapat-rapat.
"Lo harus ngomong soal ini sama Baim, Nam! Sampai kapan lo bakal ngerahasiakan soal ini?", tanya Brietta pasca Namira menceritakan soal phobia pernikahan yang dideritanya.
Namira menggeleng, "Gue ngga bisa bilangnya, Bri. Berat tau rasanya, dan gue juga takut sama respon dia selanjutnya bakal gimana. Gue takut dia malah makin jauh dari gue.", jawabnya lesu.
"Astaga, Namira. Lo lebih kenal Baim dari siapapun, dia pasti bisa menerima kondisi lo.Kebiasaan lo yang suka sendawa atau nguap ngga pake nutup mulut pake tangan aja dia maklumin kok."
Namira spontan menepuk dahinya sendiri, "Brietta masalah ini tuh ngga sesepele itu. Selama 26 tahun hidup gue, yang paling ngeganggu gue adalah soal phobia ini dan ngga gampang buat ngerasainnya sendirian, tapi juga nggak fair kalo gue bagi masalah ini sama orang lain. Gue ngga mau yang lain terbebani."
"Gue? Gue gimana? Setelah lo cerita semuanya, gue fine-fine aja kan?"
"Beda orang beda respon, Bri. Ngga semua bisa menerima dan memaklumi."
"Kenapa lo bisa mikir kalo Baim ngga akan bisa memaklumi?"
"Pertama, dia pasti akan kecewa dan marah banget karena gue ngerahasiakan ini begitu lama dari dia. Kedua, kalaupun gue cerita ngga akan mengubah apa-apa, gue tetep ngga akan bisa sama dia. Ketiga, setelah dia tau, yang ada dia makin jauh dari gue. Karena dia terlalu sayang sama gue, dia ngga bisa lagi jadi sahabat gue. Makin sering ketemu, makin berat dia ngelepas gue. Itu yang pernah dia bilang ke gue, Bri. Gue bisa apa kalau akhirnya bakal seperti itu?"
Brietta menghela napas pendek, "Oke, biarin lo mikir aneh kayak gitu. Tapi seadainya Baim tau dan dia malah bersikekeuh mempertahankan lo dan tetep ngajakin lo nikah, gimana? Apa lo bisa mengubah mindset lo soal pernikahan itu?"
"Kan gue udah bilang, kalaupun gue cerita ngga akan ngubah apapun. Jadi buat apa gue ceritain?"
"Terus lo maunya gimana sama Baim sekarang?"
Namira menggigit bibir bawahnya, "Gue cuma mau kami bersahabat lagi seperti dulu. Bagi gue itu udah cukup, dan gue akan ngerasa baik-baik aja setelah itu."
"Itu kan elo, kalo Baim? Duh, Nam, gue tau lo juga sayang banget sama Baim, tapi lo malah cuma pengen sahabatan aja sama dia. Emang lo rela apa kalo someday dia bakal ketemu sama orang lain dan berjodoh sama orang itu?"
Namira terhenyak. Dia belum terpikir soal itu,
"Gue..gue ngga tahu, Bri. Ngebayanginnya aja gue ngga mampu."
*
Namira tersentak begitu mendengar ketukan pintu kamarnya. Tersadar dia melamun begitu lama.
"Bentar," sahut Namira seraya membuka kunci pintu. Terlihat Mamanya yang berdiri di balik pintu sembari membawa nampan berisi camilan dan buah-buahan.
"Ngga laper, Neng? Ngamar mulu seharian ini. Kedai siapa yang ngurusin?", tanya sang Mama dengan nada menyindir.
Namira terkekeh, "Lagi mager, Ma. Males ke kedai, lagian Ghina juga lagi pergi."
"Lho, harusnya kamu yang jaga kedai dong kalo Ghinanya pergi. Kan kalian yang ngurus itu kedai sama-sama, kalo yang satu berhalangan, yang satunya yang menghandle dong. Bukannya malah dibiarin tutup.", ucap Mama seraya meletakkan nampan di atas meja. 
"Baim kok lama ngga ke sini ya?", tanya Mama tiba-tiba yang sontak  saja membuat Namira tersedak.
"Uhuk!"
"Kalian masih baik-baik aja kan?"
Aduh, mau jawab gimana ya? pikir Namira dalam hati. 
"I-itu, Ma. Baim kan sibuk kerja, lembur terus, jadi ngga sempet main. Aku juga.."
"Halah, sesibuk apapun dia pasti nyempetin main ke rumah kok. Kemaren Mama ketemu Mail di toko, dia bilang Baim juga lagi seneng menyendiri di kamarnya waktu Mama nanyain Baim ke mana aja ngga pernah ke rumah lagi. Kalian kompakan amat sih? Mama jadi penasaran sama kalian deh, ada yang ngga Mama tau ya?"
Aduh, mau jawab gimana lagi ya? Pikir Namira dalam hati, lagi.
"Mungkin Baimnya lagi capek, Ma. Makanya.."
"Tapi kok Mama sering lihat motornya Andra parkir di depan ya, sama Rado juga tuh belakangan ini. Heran, mereka sering main ke sebelah tapi ngga pernah ke rumah. Toh biasanya kalo geng cowok itu pada kumpul, kamu juga ikutan nimbrung. Kok sekarang udah ngga lagi?"
Pertanyaan demi pertanyaan dari Mama makin membuat Namira gugup dan bingung hendak menjawab apa. Namira bimbang, apakah akan terus terang saja pada Mamanya kalau dia dan Baim sudah lama putus dan kini Baim menjauhinya. Atau tetap berusaha menutupinya dan membuat anggapan mereka baik-baik saja?
"A-anu, Ma.."
"Tapi Mama pikir kok Baim santai banget ya. Si Andra yang badungnya minta ampun gitu aja udah siap seriusan sama Ghina, kok dia ngga bertindak ke kamu juga sih?"
Namira terhenyak, "M-maksud Mama?"
"Dia belum ada omongan mau nikahin kamu atau gimana gitu?"
DEG! Seketika ada sebuah dorongan kuat dalam diri Namira yang entah darimana datangnya. Mulutnya terbuka, dan..
"Nikah gimana Mama, yang ada aku putus sama Baim."
Mama tersentak. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi tidak biasa.
Spontan Namira menutup mulutnya.
Ah. Kelepasan bicara lagi.

to be continued..

Sabtu, 13 Mei 2017

Tell Me Why (Part 14)

Sudah hampir dua jam Ghina hanya termenung di kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan meminta kepada orangtuanya agar membiarkannya sendiri dulu. Tentu saja hal ini membuat Mama Ghina bingung dan panik bukan kepalang, karena beberapa jam sebelumnya Ghina sangat bersemangat menyelenggarakan hari jadiannya dengan Andra, namun setelah Ia pamit untuk menjemput Andra,Ia kembali dengan wajah kusut, lesu, dan mata yang sedikit sembab. Melihat Ghina seperti itu, orangtua serta kedua sahabatnya pun bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi?
Brietta segera menelpon Andra, Namirapun ancang-ancang untuk mengomeli laki-laki yang dipacari oleh sahabatnya selama enam tahun itu.
"Lo apain Ghina, Nyet?! Lo ngga inget apa sekarang hari penting buat kalian? Seenaknya aja lo ngerusak momen indah begini! Lihat tuh, si Ghina sampe sembab gitu matanya! Tanggung jawab lo, kampret!", Brietta spontan ngomel membabi buta ketika telepon diangkat.
"Eng, bentar. Ini Brietta apa Namira ya?",Brietta sontak mengangkat alisnya. Kenapa ini orang malah menanyakan siapa dirinya?
"Ngga penting gue Brietta apa Namira, yang penting sekarang lo dateng ke rumah Ghina sekarang! Tanggung jawab lo!", tukas Brietta masih mencak-mencak.
"Bilangin dia suruh bawa bunga mawar seratus tangkai sebagai permintaan maaf, Bri. Buruan!", bisik Namira pada Brietta.
"Oh iya, bawa juga seratus tangkai mawar sebagai tanda permintaan maaf lo buat Ghina. Harus kudu musti seratus, ngga pake nawar!"
"Buset, beneran ngga boleh nawar tuh? Lima tangkai aja gimana?"
"Heh! Ngelawan lagi lo! Lo yang salah kok ngga ngerasa sama sekali sih?"
Terdengar suara tawa renyah di seberang sana. Brietta melotot, kesal.
"Malah ketawa lagi!"
"Hahaha sorry, sorry Bi. Lagian kocak banget sih permintaan kalian. Anyway, gue bukan Andra. Gue Rado, kebetulan lagi di rumah Baim. Tadi Andra juga di sini sih, tapi lagi on the way rumah Ghina kok. Tinggal ditunggu aja."
Brietta sontak terhenyak. Kok Rado sih? batinnya bingung.
"Ng-ngapain lo yang angkat sih?",tanya Brietta, salting.
"Tadi Andra perginya buru-buru, lupa deh sama handphonenya.", jawab Rado diikuti tawa kecil. "Lama ya rasanya ngga denger suara lo, Bri. Lo apa kabar?"
Deg! Brietta merasa ada yang berdebar di dadanya mendengar ucapan itu. 
"Bangke, malah nanyain soal Brietta. Modus amat lo, Nyet?", terdengar suara orang lain di seberang sana. Brietta tersentak.
"Yeehh! Nanya doang, Im! Eh, maaf ya Bri, gue lagi sama Baim nih. Lo di rumah Ghina sekarang? Gimana, Andra udah nyampe belom?"
"Ah? Itu kayaknya ada suara motor diparkir deh. Mungkin si Andra kali ya. Ya udah kalo gitu ya, Do. Bye."
Klik! Brietta memutuskan sambungan telpon.
"Mati gue..", desah Brietta sembari memegang dadanya. Ia merasa ada desiran keras di dalamnya.
Namira memandangnya dengan bingung, "Yang tadi bukan Andra?"
Brietta mengangguk, "Rado yang ngangkat. Sia-sia banget dong gue ngomel-ngomelnya tadi?"
"Andranya mana?"
"Lagi ke sini katanya."
"Lo baper gara-gara akhirnya bisa ngobrol lagi sama Rado?", Namira mengerlingkan matanya, menggoda Brietta.
Sontak Brietta menepuk bahu Namira keras, "Ya enggak lah!", bantahnya.
Namira mencibir, dia paham bahwa sahabatnya itu jelas berbohong. Karena Namira tahu, perasaan Brietta pada Rado sesungguhnya masih terlalu kuat.
***

Ghina membuka pintu kamarnya begitu mendengar seruan Andra yang memekik telinganya. Suara laki-laki itu terlalu nyaring hingga membuatnya tidak tahan dan buru-buru ingin meneriakinya balik.
"BISA NGGAK KAMU NGGA PAKE MANGGIL-MANGGIL AKU MULU SAMBIL NYANYI-NYANYI NGGAK JELAS BEGITU?! BIKIN POLUSI SUARA TAHU,NGGAK?!", seru Ghina sembari membuka pintu kamarnya. Andra yang sudah menunggu di balik pintu sontak melemparkan tubuhnya ke arah Ghina, memeluknya erat.
"Maaf ya, sayang. Aku yang salah, malah aku yang marah ke kamu. Tahu ngga, tadi di depan aku udah diomelin sama Mama kamu, sama Namira dan Brietta juga. Jadi kamu jangan nambah-nambahin omelan ya, aku udah puas diomelin, oke?", ucap Andra lembut yang seketika membuat Ghina terharu.
"Aku tuh takut, Ndra, kalau kita bakal selesai kali ini.", ucap Ghina, menahan isak tangisnya.
Masih dalam dekapan Ghina, Andra menggeleng keras. "Ngga, sayang. Ngga akan kita selesai kali ini. Kita akan terus sama-sama sampe kita ubanan, sampe gigi kita ompong, sampai maut memisahkan."
Ghina tersenyum penuh haru, "Kamu jangan bandel lagi dong, jangan bikin aku nunggu terlalu lama."
"Iya, aku ngga akan nyuruh kamu nunggu lama kok. Aku nurut aja gimana maunya kamu sekarang, oke?"
"Tunangan dulu ya."
Andra melepas pelukannya, menatap Ghina dengan jahil. "Gimana kalo ciuman dulu?"
Ghina menepuk lengan Andra kemudian mencubitnya gemas. Andra balas mengecup bibirnya tak kalah gemas.

"Sialan, kenapa gue harus lihat part yang ini sih?", umpat Brietta berbisik pada Namira yang mengintip di balik dinding pemisah ruang tamu dan kamar Ghina.
Namira terkikik, "Kenapa, pengen kissing juga lo?"
"Sama siapa? sama guling, sering."
"Kata lo bibir Rado seksi, merah alami gitu sampe lo tergoda."
Brietta melolot, "KAPAN GUE PERNAH BILANG BEGITU, MIRAAAA?!!"

to be continued..

Minggu, 07 Mei 2017

Tell Me Why (Part 13)

"Ngapain lo?", tanya Baim heran begitu mendapati Andra sudah duduk lesehan di teras rumahnya. Andra membuang napas sebal.
"Bagi rokok dong. Punya gue dibuang Ghina tadi di kosan.", Andra  menadahkan tangannya pada Baim.
"Lo bukannya harusnya lagi sama Ghina sekarang? Kata Brietta kalian lagi anniversay-an.Widih yang udah enam tahun barengan mulu kayak anak kembar siam, selamat ya.", celoteh Baim tanpa menghiraukan Andra yang masih menadahkan tangannya minta rokok.
Andra mendengus, "Selamat palalu! Yang ada gue baru ribut sama dia."
Baim terhenyak, "Serius lo? Kenapa lagi sih kalian ini?"
"Im, coba lo yang ada di posisi gue, pasti lo bakal sama keselnya sama gue dah."
"Emangnya ada apaan sih?"
"Intinya Ghina nyepelein gue dan ngerendahin gue sebagai laki-laki yang notabene bakal jadi kepala keluarga yang tugasnya cari nafkah dan biayain hidup keluarga gue nantinya.", Andra menghela napas berat. "Ghina bilang kalo gue belum sanggup soal biaya nikah, dia yang bakal tanggungin dulu. Jelas aja gue kesel abis lah dengernya. Dia pikir gue ngga mampu, apa? Gue mampu, cuma belum cukup aja yang gue punya sekarang. Yang gue perluin adalah sedikit waktu lagi, tapi dia sangat tidak sabaran nunggu gue."
Baim terkikik mendengar cerita Andra. "Eh kunyuk, yang harusnya ngambek tuh Ghina bukan lo. Dia yang udah terlalu lama nungguin lo ngumpulin modal sampe cukup. Wajar lah kalo dia lama-lama gregetan sama lo yang ngga bertindak cepat juga."
"Ya tapi ngga perlu sampe ngomong gitu juga kali, Im. Harga diri gue berasa kayak diinjek-injek tau, ngga? Sumpah kesel banget gue digituin. Dia bilang begitu seolah semuanya begitu gampang buat dijalani, tapi dia kan ngga ada di posisi gue. Dia enak dari keluarga kaya raya, bokapnya pengusaha properti sukses, nyokapnya pegawai di BUMN, mana dia anak satu-satunya yang selalu dimanja sama orangtuanya. Dia bahkan ngga perlu cari-cari kerja buat biayain hidupnya sendiri, cuma modal patungan sama Namira buat bikin kedai dan taraaa, dia jadi manajer secara instan."
"Lo sebenarnya kesal sama kata-kata dia atau lo kesal karena dia terlihat jauh lebih 'mampu' daripada lo makanya lo iri?"
Andra terhenyak.
"Ndra, ngga perlu ngerasa harga diri lo diinjak-injak sama Ghina lah. Ya harusnya lo bersyukur punya pasangan yang bisa membantu lo soal materi nantinya. Toh bukannya menikahi gadis kaya dibolehkan? Coba sana tanya sama Ustad Hanafi."
"Maksud lo bokapnya Rado? Ngga, sungkan gue. Orangtua Rado ngga ada yang demen liat gue main sama anak bontotnya. Mungkin pikirnya gue bakal ngasih pengaruh negatif ke Rado kali."
"Tapi gimana dengan orangtuanya  Ghina? Mereka selalu welcome sama lo dari dulu kan? Bokapnya Ghina tau kalo lo demen ngebir meskipun ngga sering dan ngga sampe mabok. Nyokap Ghina yang kata lo cerewet, suka ngatur lo buat  ini itu, tapi tetep baik sama lo meskipun lo pernah hampir masuk penjara gara-gara berantem sama orang di klub malam. Dan Ghina, dia kurang sabar apa sama lo nyeeettt?"
"Lo kok malah ungkit soal aib gue itu sih ah. Bukannya ngehibur gue, ngebela gue, eh malah.."
"Gue mau belain lo kalo lo bersikap bener, Ndra. Tapi kali ini harusnya lo sadar kalo sabarnya Ghina ada batesnya juga. Udahlah Ndra, buang gengsi lo soal materi itu. Toh mereka ngga ngatain lo matre atau gimana kan, selama ini juga Ghina ngga pernah ngeluarin duit kalo jalan sama lo. Orangtua Ghina pasti tau persis lah gimana usaha lo, tapi ngga salah juga kalo lo nerima sedikit bantuan dari mereka. Itung-itung meringankan beban lo dikit lah, Ndra."
Andra menghela napasnya kembali, "Kenapa kali ini gue ngerasa semua kata-kata lo itu masuk akal ya?"
"Karena emang semuanya  masuk akal, kampret! Lo kapan pinternya sih astaga."
"Gue harus gimana dong sekarang? Yakali ngga lucu banget gue dateng ke acara itu setelah gue ninggalin Ghina gitu aja di jalan tadi."
"Masih gengsi aja lo?"
"Ah!", Andra mendapat ide. "Gimana kalo lo pura-pura nyeret gue ke sana biar seolah gue masih ngambek tapi dipaksa lo buat dateng? Im, bantu gue banget kali ini, oke?"
Baim ternganga mendengar ide aneh Andra yang spontan itu.
"Kadang gue suka ngerasa malu jadi temen lo, sumpah.", tukas Baim sambil geleng-geleng kepala.

to be continued..

Sabtu, 22 April 2017

Tell Me Why (Part 12)

Klik! 
Andra mengunci lokernya dan bersiap untuk pulang. Pikirannya sudah tidak karuan hari ini, dan yang dia ingin segera lakukan adalah pulang ke kosannya dan tidur tanpa melakukan apa-apa lagi. Terlebih meladeni kebawelan Ghina yang makin menuntutnya macam-macam. Sebenarnya bukan hanya Ghina saja yang menjadi bebannya sekarang, tapi Mama Ghinalah faktor utamanya, Andra mengehela napas berat. Kepalanya terasa pusing jika Ghina dan Mamanya memenuhi pikirannya.
"Bajirut!", seru Andra kaget begitu berbalik ada sesosok makhluk berwajah jahil di belakangnya. "Kaget gue oncom!", kontan saja Andra melayangnkan tinju ke arah orang itu. Baim.
"Lagian lo ngapain ngelamun di depan loker, nyet?", tanya Baim sembari tertawa geli melihat ekspresi kaget Andra yang menurutnya sangat konyol.
"Rado lembur? Kok ngga bareng?", Andra balik bertanya. Baim mengangguk seraya membuka lokernya, menyimpan sepatu kerja dan mengambil minibackpacknya.
"Lagi niat kerja tuh dia. Sama bayar hutang cuti empat harinya tempo hari itu."
"Baguslah kalau dia udah semangat lagi buat kerja."
"Lo sendiri kenapa lesu mulu belakangan ini?"
Andra mengangkat bahu, "Ngga ngerti. Capek aja pokoknya, capek segalanya."
"Kurang kopi kali lo."
"Kurang bir, iya."
"Kapan tobatnya sih lo ah!", Baim berdecak heran.
*
Andra mendadak terbangun dari tidurnya begitu terdengar suara ketukan pintu bertubi-tubi. Apa mungkin ibu Kos? Bukannya bulan ini sudah dibayar ya? Andra menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
Masih setengah mengantuk, Andra membuka pintu kosnya, dan..
"Sayaaangg!", seru seorang gadis berambut hitam sebahu beserta satu kotak kue di tangannya. "Happy 6th Anniversary darliiinggg!"
Andra tertegun dan memasang ekspresi bingung. "Ha? Apaan?"
"Hari ini kita tepat 6 tahun sayang! Masa kamu ngga inget sih hari ini tanggal berapa?", Ghina menepuk dahinya sendiri. "Daaaann, hari ini aku mau bikin perayaan khusus buat anniv kita makanya kamu buruan mandi terus siap-siap. C'mon babe, udah siang ini!", segera Ghina meletakkan kotak kuenya di meja dan mendorong Andra ke kamar mandi. Andra yang masih terkantuk hanya pasrah dan menurut saja.

"Mau ke mana kita emangnya?", tanya Andra begitu Ghina menyerahkan kunci mobilnya padanya.
"Ke restaurant barunya teman Mama, baru aja buka satu mingguan gitu. Tadinya waktu acara pembukaan restaurant aku mau ngajak kamu ikut, eh malah kamu terima lemburan minggu kemaren."
"Di mana?"
"Ngga terlalu jauh kok dari kampus kita, masih di satu jalan yang sama."
"Ngerayainnya di situ?"
Ghina mengangguk sembari tersenyum lebar, "Tentu aja! Soalnya  aku juga ngajakin Mama sama Papa datang ke sana juga. Sama Brietta dan Namira juga sih biar tambah rame."
Andra tercenung, "Ghin, kamu ngga salah tanggal itu? Ini anniv kita kan bukan perayaan ulangtahun kamu?"
"Sayangku ya ampun kamu masih ngantuk apa gimana sih?", Ghina berdecak heran, "Aku sengaja ngajakin mereka biar sekalian kamu bisa ngomongin soal kelanjutan hubungan kita."
"Apa?!", Andra sontak menginjak pedal rem mendadak.
"Ndra! Gila kamu ya!", tukas Ghina kesal karena rem dadakan Rado membuatnya kaget bukan main.
"Kamu tuh yang gila!", balas Andra, kali ini nadanya meninggi.
"Kok aku sih?"
"Ngapain kamu bikin acara beginian sih, ha? Kenapa ngga cukup kita berdua aja yang ngerayain? Kenapa harus pake undang orangtua sama teman segala?", tukas Andra dengan nada kesal.
"Kok kamu marah sih? Aku ngga akan begini kalau kamu gerak cepat, Ndra. Lagian apa salahnya sih kamu ngomongin soal kita lebih lanjut dihadapan banyak orang apalagi ini orangtuaku dan teman-temanku. Remember, this is our anniversary, Babe!"
"Ya tapi kan ngga mendadak gini juga lah, Ghin. Aku kan belum siap apa-apa. Aku masih perlu waktu!"
Ghina mendengus, "Kenapa sih selalu aja begitu alasan kamu? Mau sampai kapan kamu begitu terus, Ndra? Kamu mau biarin aku nunggu sampai kapan, sampai berapa tahun lagi? Aku ngga bisa digiinin terus tau ngga, aku butuh kepastian yang jelas, orangtuaku pun sama, Ndra. Mereka udah berharap banyak sama kamu, plis lah jangan kecewain mereka."
"Justru karena aku ngga mau ngecewain mereka makanya aku masih perlu waktu buat mempersiapkan semuanya Ghina. Kamu pikir kita punya masalah ini sepele apa? Aku cowok, dan aku yang paling banyak memikul tanggung jawab, dan kamu tugasnya nunggu sampai aku mampu..."
"Omong kosong!", Ghina menepis tangan Andra yang hendak menggenggamnya. "Lama-lama aku bosan dengerin kamu begini terus, Ndra. Kamu pikir nunggu itu ngga capek, apa? Ngga jenuh ngga jemu, apa? Aku cuma pengin kamu bilang sama orangtuaku soal kita, ngga lagi minta kamu buat nyari materi. Oke kalo kamu bermasalah sama materi aku bisa nutupin semua itu, kamu bisa pake uang aku dulu, tabunganku cukup kok buat..."
"Ghin!", potong Andra cepat. Berkali ia menghela napas, berat.
"Sadar atau ngga, ucapan kamu barusan seakan ngga ngehargai aku sebagai laki-laki ya. Kamu pikir aku ngga mampu biayain segala keperluan ini itu, apa? Aku bisa kalau aku mau, aku bisa nyari dan aku sekarang lagi sibuk cari tambahan buat semuanya. Tapi kamu..", Andra mencibir, "Mentang-mentang kamu lahir dari keluarga kaya terus bisa seenaknya begitu sama aku? Oke, fine. Aku memang bukan anak dari orang kaya seperti keluarga kamu, Bapak aku cuma pensiunan Guru, semua Kakak aku cuma karyawan kantoran biasa, Ibuku cuma seorang penjahit langganan ibu-ibu komplek yang hobi nunggak bayar pesanan. Aku nggak kayak kamu yang begitu lahir ngga pusing buat beli susu, popok, bayar sekolah, beli jajanan mahal, main ke mall..aku harus usaha keras dulu supaya segala kemauan aku kebeli. Dan itu pake hasil jerih payah aku sendiri, ngga ngemis sama orangtua seenak jidat!"
Ghina tertegun, sadar bahwa ucapannya menyakiti hati Andra. "Ndra, maksud aku ngga gitu.."
"Kalau kamu masih ngga sabaran dan bosan nunggu aku, ya sudah terserah kamu aja. Aku ngga akan nuntut macam-macam dari kamu.", ucap Andra seraya melepas sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobil, "Maaf aku udah ngga mood, kamu pergi ngerayain sendiri aja."
"Ndra..", Ghina mencoba mencegah Andra namun Andra dengan cepat mencegat taksi dan berlalu.
Ghina hanya termangu sendiri di mobilnya. Pikirannya kacau. Hatinya seakan teriris pisau tajam, sakit. Dan beberapa detik terlewati, hujan deras pun membasahi wajahnya.

kling!

From: Fransisca Brietta Assa
Lama amat jemput sang kekasihnya? Nyeleweng ke mana dulu lo?

To: Fransisca Brietta Assa
Batal. Andra pergi.

to be contiunued..