Klik!
Andra mengunci lokernya dan bersiap untuk pulang. Pikirannya sudah tidak karuan hari ini, dan yang dia ingin segera lakukan adalah pulang ke kosannya dan tidur tanpa melakukan apa-apa lagi. Terlebih meladeni kebawelan Ghina yang makin menuntutnya macam-macam. Sebenarnya bukan hanya Ghina saja yang menjadi bebannya sekarang, tapi Mama Ghinalah faktor utamanya, Andra mengehela napas berat. Kepalanya terasa pusing jika Ghina dan Mamanya memenuhi pikirannya.
"Bajirut!", seru Andra kaget begitu berbalik ada sesosok makhluk berwajah jahil di belakangnya. "Kaget gue oncom!", kontan saja Andra melayangnkan tinju ke arah orang itu. Baim.
"Lagian lo ngapain ngelamun di depan loker, nyet?", tanya Baim sembari tertawa geli melihat ekspresi kaget Andra yang menurutnya sangat konyol.
"Rado lembur? Kok ngga bareng?", Andra balik bertanya. Baim mengangguk seraya membuka lokernya, menyimpan sepatu kerja dan mengambil minibackpacknya.
"Lagi niat kerja tuh dia. Sama bayar hutang cuti empat harinya tempo hari itu."
"Baguslah kalau dia udah semangat lagi buat kerja."
"Lo sendiri kenapa lesu mulu belakangan ini?"
Andra mengangkat bahu, "Ngga ngerti. Capek aja pokoknya, capek segalanya."
"Kurang kopi kali lo."
"Kurang bir, iya."
"Kapan tobatnya sih lo ah!", Baim berdecak heran.
*
Andra mendadak terbangun dari tidurnya begitu terdengar suara ketukan pintu bertubi-tubi. Apa mungkin ibu Kos? Bukannya bulan ini sudah dibayar ya? Andra menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
Masih setengah mengantuk, Andra membuka pintu kosnya, dan..
"Sayaaangg!", seru seorang gadis berambut hitam sebahu beserta satu kotak kue di tangannya. "Happy 6th Anniversary darliiinggg!"
Andra tertegun dan memasang ekspresi bingung. "Ha? Apaan?"
"Hari ini kita tepat 6 tahun sayang! Masa kamu ngga inget sih hari ini tanggal berapa?", Ghina menepuk dahinya sendiri. "Daaaann, hari ini aku mau bikin perayaan khusus buat anniv kita makanya kamu buruan mandi terus siap-siap. C'mon babe, udah siang ini!", segera Ghina meletakkan kotak kuenya di meja dan mendorong Andra ke kamar mandi. Andra yang masih terkantuk hanya pasrah dan menurut saja.
"Mau ke mana kita emangnya?", tanya Andra begitu Ghina menyerahkan kunci mobilnya padanya.
"Ke restaurant barunya teman Mama, baru aja buka satu mingguan gitu. Tadinya waktu acara pembukaan restaurant aku mau ngajak kamu ikut, eh malah kamu terima lemburan minggu kemaren."
"Di mana?"
"Ngga terlalu jauh kok dari kampus kita, masih di satu jalan yang sama."
"Ngerayainnya di situ?"
Ghina mengangguk sembari tersenyum lebar, "Tentu aja! Soalnya aku juga ngajakin Mama sama Papa datang ke sana juga. Sama Brietta dan Namira juga sih biar tambah rame."
Andra tercenung, "Ghin, kamu ngga salah tanggal itu? Ini anniv kita kan bukan perayaan ulangtahun kamu?"
"Sayangku ya ampun kamu masih ngantuk apa gimana sih?", Ghina berdecak heran, "Aku sengaja ngajakin mereka biar sekalian kamu bisa ngomongin soal kelanjutan hubungan kita."
"Apa?!", Andra sontak menginjak pedal rem mendadak.
"Ndra! Gila kamu ya!", tukas Ghina kesal karena rem dadakan Rado membuatnya kaget bukan main.
"Kamu tuh yang gila!", balas Andra, kali ini nadanya meninggi.
"Kok aku sih?"
"Ngapain kamu bikin acara beginian sih, ha? Kenapa ngga cukup kita berdua aja yang ngerayain? Kenapa harus pake undang orangtua sama teman segala?", tukas Andra dengan nada kesal.
"Kok kamu marah sih? Aku ngga akan begini kalau kamu gerak cepat, Ndra. Lagian apa salahnya sih kamu ngomongin soal kita lebih lanjut dihadapan banyak orang apalagi ini orangtuaku dan teman-temanku. Remember, this is our anniversary, Babe!"
"Ya tapi kan ngga mendadak gini juga lah, Ghin. Aku kan belum siap apa-apa. Aku masih perlu waktu!"
Ghina mendengus, "Kenapa sih selalu aja begitu alasan kamu? Mau sampai kapan kamu begitu terus, Ndra? Kamu mau biarin aku nunggu sampai kapan, sampai berapa tahun lagi? Aku ngga bisa digiinin terus tau ngga, aku butuh kepastian yang jelas, orangtuaku pun sama, Ndra. Mereka udah berharap banyak sama kamu, plis lah jangan kecewain mereka."
"Justru karena aku ngga mau ngecewain mereka makanya aku masih perlu waktu buat mempersiapkan semuanya Ghina. Kamu pikir kita punya masalah ini sepele apa? Aku cowok, dan aku yang paling banyak memikul tanggung jawab, dan kamu tugasnya nunggu sampai aku mampu..."
"Omong kosong!", Ghina menepis tangan Andra yang hendak menggenggamnya. "Lama-lama aku bosan dengerin kamu begini terus, Ndra. Kamu pikir nunggu itu ngga capek, apa? Ngga jenuh ngga jemu, apa? Aku cuma pengin kamu bilang sama orangtuaku soal kita, ngga lagi minta kamu buat nyari materi. Oke kalo kamu bermasalah sama materi aku bisa nutupin semua itu, kamu bisa pake uang aku dulu, tabunganku cukup kok buat..."
"Ghin!", potong Andra cepat. Berkali ia menghela napas, berat.
"Sadar atau ngga, ucapan kamu barusan seakan ngga ngehargai aku sebagai laki-laki ya. Kamu pikir aku ngga mampu biayain segala keperluan ini itu, apa? Aku bisa kalau aku mau, aku bisa nyari dan aku sekarang lagi sibuk cari tambahan buat semuanya. Tapi kamu..", Andra mencibir, "Mentang-mentang kamu lahir dari keluarga kaya terus bisa seenaknya begitu sama aku? Oke, fine. Aku memang bukan anak dari orang kaya seperti keluarga kamu, Bapak aku cuma pensiunan Guru, semua Kakak aku cuma karyawan kantoran biasa, Ibuku cuma seorang penjahit langganan ibu-ibu komplek yang hobi nunggak bayar pesanan. Aku nggak kayak kamu yang begitu lahir ngga pusing buat beli susu, popok, bayar sekolah, beli jajanan mahal, main ke mall..aku harus usaha keras dulu supaya segala kemauan aku kebeli. Dan itu pake hasil jerih payah aku sendiri, ngga ngemis sama orangtua seenak jidat!"
Ghina tertegun, sadar bahwa ucapannya menyakiti hati Andra. "Ndra, maksud aku ngga gitu.."
"Kalau kamu masih ngga sabaran dan bosan nunggu aku, ya sudah terserah kamu aja. Aku ngga akan nuntut macam-macam dari kamu.", ucap Andra seraya melepas sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobil, "Maaf aku udah ngga mood, kamu pergi ngerayain sendiri aja."
"Ndra..", Ghina mencoba mencegah Andra namun Andra dengan cepat mencegat taksi dan berlalu.
Ghina hanya termangu sendiri di mobilnya. Pikirannya kacau. Hatinya seakan teriris pisau tajam, sakit. Dan beberapa detik terlewati, hujan deras pun membasahi wajahnya.
kling!
From: Fransisca Brietta Assa
Lama amat jemput sang kekasihnya? Nyeleweng ke mana dulu lo?
To: Fransisca Brietta Assa
Batal. Andra pergi.
to be contiunued..
Sabtu, 22 April 2017
Sabtu, 01 April 2017
Tell Me Why (Part 11)
Sepi. Mata Namira menjelajahi seisi ruangan kedainya. Sudah pukul tujuh malam tapi pelanggannya masih belum berdatangan. Namira tercenung, bukankah ini Sabtu malam? pikirnya. Tapi segera ia bangkit dari kursinya dan kembali merapikan juga membersihkan area kedainya.
Namun tak lama kemudian Namira mendengar suara decitan mobil tepat di depan kedainya. Mobil Honda Jazz pink terparkir di sana.
"Sehat?", sapa si pengemudi mobil dengan semringah. Matanya yang kecil makin tidak terlihat sebab senyumnya yang merekah.
Namira mendengus, "Harusnya gue yang nanya ke lo, Brietta. Lo sehat udah bikin anak orang patah hati separah itu?"
Senyum Brietta memudar, ekspresinya berubah sendu seketika. "Nam, gue baru dateng udah lo cengin aja? Ngga mau biarin gue duduk dulu dengan tenang ditemani secangkir hot lemon tea yang dibuat oleh pemilik kedai nan cantik rupawan ini, ha?"
Brietta tak peduli dengan ekspresi Namira yang cengo mendengar celotehan tak pentingnya, segera ia duduk di tempat favoritnya di sudut kedai itu.
"One cup hot lemon tea, please?", pinta Brietta dengan berseru pada Namira yang baru hendak ke dapur.
"Yes, Ma'am", sahut Namira seraya melengos pergi.
*
Sudah lima suapan, padahal Brietta janji pada dirinya sendiri akan teguh pada prinsip saat menyantap kue. Paling banyak adalah tiga sendok kecil suapan. Nyatanya kali ini dia melanggar janjinya sendiri.
Namira hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Cakenya ngga manis ya, Bri?", tanya Namira iseng.
Brietta mengangguk seraya mengunyah kuenya perlahan, "Mungkin karena lo ngasih krimnya cuma dikit makanya ngga kemanisan."
"Lo udah ngga diet lagi?"
"Masih, masih kok."
"Itu udah lebih dari tiga suapan loh, gue ngingetin aja nih."
Brietta tersenyum simpul, "Kali ini gue mau puas-puasin makan kue lo. But next time, ngga lagi-lagi pokoknya."
"Enak ngga?"
Brietta mengangguk cepat, "Banget. red velvet cake ini kue terenak kedua setelah brownies kukus lo itu. Serius enak banget. Nambah boleh?"
"Bri, inget sama diet lo, oke? Gue ngga mau dibilang provokator atas kegiatan diet lo yang sebenarnya ga perlu-perlu banget itu."
Brietta tercenung, "Ngga perlu-perlu banget mata lo. Berat badan gue udah 48 kilogram sekarang!"
"Tapi tinggi lo 164 sentimeter Princess. Lo itu kurus ngapain diet?!", tanya Namira setengah ngotot.
"Yeh, lonya aja yang kontet. Eh, tinggi 160 berat 55. Iya bener, kontet.", celoteh Brietta asal diikuti tawa lantang.
"Bangke lo!", umpat Namira sembari melempar tisu bekas ke arah Brietta.
"Rado udah ngga pernah ngehubungin lo lagi setelah itu?", kali ini pertanyaan Namira sontak membuat Brietta meletakkan garpunya di atas meja. Diseruputnya teh lemon perlahan.
"Untung gue bisa stay cool dan ngga keselek waktu pertanyaan konyol itu keluar dari mulut lo." Brietta mencibir.
"Jadi jawabannya iya atau nggak?"
"Iya, Rado udah ngga pernah ngehubungin gue lagi sekarang. Tepatnya udah seminggu namanya ngilang dari display henpon gue.", jawab Brietta mencoba untuk sesantai mungkin.
"Lo ngga ada niatan buat ngehubungin dia duluan, apa?"
"Dih, buat apa gue ngehubungin dia duluan? Yang sering bilang kangen kan dia, yang sering sepik kan dia, yang sering ngajakin pergi kan dia. Kenapa harus gue?"
Namira terkikik pelan, "Lo sampe kapan sih melihara gengsi lo yang luar biasa batunya itu, ha? Plis lah, Bri. Gengsi lo itu yang justru bikin rugi lo sendiri tau ngga?"
"Nam, plis ya. Gue ngga ngrasa rugi sedikitpun asal lo tau. Ada dia atau ngga ada dia hidup gue bakal baik-baik aja. Yang bikin beda sekarang cuma ngga ada lagi cowo tengil juga usil yang nyepikin gue mulu tiap harinya. Itu doang. Dan gue malah ngerasa lega, akhirnya hidup gue tenang kembali."
"Yakin, lo?"
"Lah, kenapa gue harus ngga yakin?", Brietta mengangkat kedua tangannya.
"Lo ngga ngerasa kangen sama dia?
"What? No! Big No! Gue fine-fine aja tuh ngga ada dia selama ini."
Namira mencibir, "Omong kosong. Gengsi doang digedein, badan tuh digedein, udah kayak lidi aja masih sok mau diet segala."
"Omong kosong badan lo kontet!", Brietta melempar tisu bekas ke arah Namira.
"Nam, gue udah pernah ceritain masa lalu gue yang lumayan pahit itu kan? Gue cuma ngga mau hal yang sama terulang lagi. Untuk itu gue berusaha sebisa mungkin untuk..."
"Menghindar?", terka Namira yang membuat Brietta mematung. "Ya kan? Lo cuma takut sama perasaan lo sendiri makanya lo ngehindarin Rado kan?"
"Ngga git.."
"Padahal lo tau dari awal kalo Rado ngga pernah peduli sama kalung lo, sama agama lo, sama ras lo. Dia tau lo Katholik, dia tau lo makan babi, dia tau lo campuran Tionghoa-Minahasa sedangkan dia anak Jawa dari keluarga muslim yang taat, mana pernah masuk pesantren pula. Tapi dia tetep mau deketin lo terus, ngusilin lo terus, biar apa coba? Karena apa coba?"
"Ya itu kan..."
"Gue cuma ngga mau lo nyesel berat kayak gue Bri. Makanya tolong lah, hilangin tuh gengsi lo yang segede gunung."
"Ngga akan nyesel gue janji!"
"Lo aja hari ini ngelanggar janji diet lo sendiri. Apa gue masih harus percaya sama kelabilan lo itu?"
"Gue nyoba untuk bersikap realistis, Namira. Realistis! Kita ngga lagi main drama, apa lagi drama Korea favorit gue!"
Namira menepuk dahinya sendiri, "Brietta, please.."
Brietta mendengus, "Kalaupun gue ngakuin soal perasaan gue yang sebenarnya ke Radopun ngga akan berefek apapun, Nam. Ngga akan mengubah keadaan sama sekali. Keluarga gue udah blak-blakan nolak dia, keluarga dia udah sinis duluan pas ngeliat kalung gue. Yang kayak gini apa harus gue pertahanin, Nam?"
"Do you like him? Answer me.", tanya Namira kali ini to the point.
"Nam, gue.."
"Apa? Suka kan?"
Brietta tak menjawab, namun Namira tahu jawabannya hanya dengan melihat raut muka Brietta.
"Bri.."
"What?"
"Seenggaknya lo jujur sama dia tentang perasaan lo. Bilang terus terang."
"Then...what? "
"Lo bikin Rado jadi lega dan ngga menyesali perasaannya yang dia kasih buat lo. Bikin dia ngga ngerasa sia-sia berusaha dapetin hati lo selama ini."
Brietta menghela napas pendek. "Bagi gue semuanya udah terlambat, Nam. Ngapain juga gue harus ngelakuin hal yang udah jelas ngga ada gunanya, ngga berefek apa-apa kayak gitu."
"Tapi, Bri.."
"Pikirin juga soal Baim, Namira. Dia butuh kejelasan juga soal hubungan kalian."
"Kenapa lo jadi lari ke Baim? Kita kan lagi bahas lo sama Rado, anak pinter."
"Karena lo sendiri juga lagi bermasalah, dan masalahnya ada di diri lo."
"Masalahnya dia ngga tau soal kondisi gue yang sebenarnya, Brietta."
"Kondisi lo?", alis Brietta terangkat, tatapannya penuh selidik pada Namira yang spontan menutup mulutnya sendiri.
"Emang lo kenapa Nam? Hei, lo punya rahasia pasti ya! Cerita ngga!"
Mampus. Rutuk Namira pada dirinya sendiri.
to be continued..
Namun tak lama kemudian Namira mendengar suara decitan mobil tepat di depan kedainya. Mobil Honda Jazz pink terparkir di sana.
"Sehat?", sapa si pengemudi mobil dengan semringah. Matanya yang kecil makin tidak terlihat sebab senyumnya yang merekah.
Namira mendengus, "Harusnya gue yang nanya ke lo, Brietta. Lo sehat udah bikin anak orang patah hati separah itu?"
Senyum Brietta memudar, ekspresinya berubah sendu seketika. "Nam, gue baru dateng udah lo cengin aja? Ngga mau biarin gue duduk dulu dengan tenang ditemani secangkir hot lemon tea yang dibuat oleh pemilik kedai nan cantik rupawan ini, ha?"
Brietta tak peduli dengan ekspresi Namira yang cengo mendengar celotehan tak pentingnya, segera ia duduk di tempat favoritnya di sudut kedai itu.
"One cup hot lemon tea, please?", pinta Brietta dengan berseru pada Namira yang baru hendak ke dapur.
"Yes, Ma'am", sahut Namira seraya melengos pergi.
*
Sudah lima suapan, padahal Brietta janji pada dirinya sendiri akan teguh pada prinsip saat menyantap kue. Paling banyak adalah tiga sendok kecil suapan. Nyatanya kali ini dia melanggar janjinya sendiri.
Namira hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Cakenya ngga manis ya, Bri?", tanya Namira iseng.
Brietta mengangguk seraya mengunyah kuenya perlahan, "Mungkin karena lo ngasih krimnya cuma dikit makanya ngga kemanisan."
"Lo udah ngga diet lagi?"
"Masih, masih kok."
"Itu udah lebih dari tiga suapan loh, gue ngingetin aja nih."
Brietta tersenyum simpul, "Kali ini gue mau puas-puasin makan kue lo. But next time, ngga lagi-lagi pokoknya."
"Enak ngga?"
Brietta mengangguk cepat, "Banget. red velvet cake ini kue terenak kedua setelah brownies kukus lo itu. Serius enak banget. Nambah boleh?"
"Bri, inget sama diet lo, oke? Gue ngga mau dibilang provokator atas kegiatan diet lo yang sebenarnya ga perlu-perlu banget itu."
Brietta tercenung, "Ngga perlu-perlu banget mata lo. Berat badan gue udah 48 kilogram sekarang!"
"Tapi tinggi lo 164 sentimeter Princess. Lo itu kurus ngapain diet?!", tanya Namira setengah ngotot.
"Yeh, lonya aja yang kontet. Eh, tinggi 160 berat 55. Iya bener, kontet.", celoteh Brietta asal diikuti tawa lantang.
"Bangke lo!", umpat Namira sembari melempar tisu bekas ke arah Brietta.
"Rado udah ngga pernah ngehubungin lo lagi setelah itu?", kali ini pertanyaan Namira sontak membuat Brietta meletakkan garpunya di atas meja. Diseruputnya teh lemon perlahan.
"Untung gue bisa stay cool dan ngga keselek waktu pertanyaan konyol itu keluar dari mulut lo." Brietta mencibir.
"Jadi jawabannya iya atau nggak?"
"Iya, Rado udah ngga pernah ngehubungin gue lagi sekarang. Tepatnya udah seminggu namanya ngilang dari display henpon gue.", jawab Brietta mencoba untuk sesantai mungkin.
"Lo ngga ada niatan buat ngehubungin dia duluan, apa?"
"Dih, buat apa gue ngehubungin dia duluan? Yang sering bilang kangen kan dia, yang sering sepik kan dia, yang sering ngajakin pergi kan dia. Kenapa harus gue?"
Namira terkikik pelan, "Lo sampe kapan sih melihara gengsi lo yang luar biasa batunya itu, ha? Plis lah, Bri. Gengsi lo itu yang justru bikin rugi lo sendiri tau ngga?"
"Nam, plis ya. Gue ngga ngrasa rugi sedikitpun asal lo tau. Ada dia atau ngga ada dia hidup gue bakal baik-baik aja. Yang bikin beda sekarang cuma ngga ada lagi cowo tengil juga usil yang nyepikin gue mulu tiap harinya. Itu doang. Dan gue malah ngerasa lega, akhirnya hidup gue tenang kembali."
"Yakin, lo?"
"Lah, kenapa gue harus ngga yakin?", Brietta mengangkat kedua tangannya.
"Lo ngga ngerasa kangen sama dia?
"What? No! Big No! Gue fine-fine aja tuh ngga ada dia selama ini."
Namira mencibir, "Omong kosong. Gengsi doang digedein, badan tuh digedein, udah kayak lidi aja masih sok mau diet segala."
"Omong kosong badan lo kontet!", Brietta melempar tisu bekas ke arah Namira.
"Nam, gue udah pernah ceritain masa lalu gue yang lumayan pahit itu kan? Gue cuma ngga mau hal yang sama terulang lagi. Untuk itu gue berusaha sebisa mungkin untuk..."
"Menghindar?", terka Namira yang membuat Brietta mematung. "Ya kan? Lo cuma takut sama perasaan lo sendiri makanya lo ngehindarin Rado kan?"
"Ngga git.."
"Padahal lo tau dari awal kalo Rado ngga pernah peduli sama kalung lo, sama agama lo, sama ras lo. Dia tau lo Katholik, dia tau lo makan babi, dia tau lo campuran Tionghoa-Minahasa sedangkan dia anak Jawa dari keluarga muslim yang taat, mana pernah masuk pesantren pula. Tapi dia tetep mau deketin lo terus, ngusilin lo terus, biar apa coba? Karena apa coba?"
"Ya itu kan..."
"Gue cuma ngga mau lo nyesel berat kayak gue Bri. Makanya tolong lah, hilangin tuh gengsi lo yang segede gunung."
"Ngga akan nyesel gue janji!"
"Lo aja hari ini ngelanggar janji diet lo sendiri. Apa gue masih harus percaya sama kelabilan lo itu?"
"Gue nyoba untuk bersikap realistis, Namira. Realistis! Kita ngga lagi main drama, apa lagi drama Korea favorit gue!"
Namira menepuk dahinya sendiri, "Brietta, please.."
Brietta mendengus, "Kalaupun gue ngakuin soal perasaan gue yang sebenarnya ke Radopun ngga akan berefek apapun, Nam. Ngga akan mengubah keadaan sama sekali. Keluarga gue udah blak-blakan nolak dia, keluarga dia udah sinis duluan pas ngeliat kalung gue. Yang kayak gini apa harus gue pertahanin, Nam?"
"Do you like him? Answer me.", tanya Namira kali ini to the point.
"Nam, gue.."
"Apa? Suka kan?"
Brietta tak menjawab, namun Namira tahu jawabannya hanya dengan melihat raut muka Brietta.
"Bri.."
"What?"
"Seenggaknya lo jujur sama dia tentang perasaan lo. Bilang terus terang."
"Then...what? "
"Lo bikin Rado jadi lega dan ngga menyesali perasaannya yang dia kasih buat lo. Bikin dia ngga ngerasa sia-sia berusaha dapetin hati lo selama ini."
Brietta menghela napas pendek. "Bagi gue semuanya udah terlambat, Nam. Ngapain juga gue harus ngelakuin hal yang udah jelas ngga ada gunanya, ngga berefek apa-apa kayak gitu."
"Tapi, Bri.."
"Pikirin juga soal Baim, Namira. Dia butuh kejelasan juga soal hubungan kalian."
"Kenapa lo jadi lari ke Baim? Kita kan lagi bahas lo sama Rado, anak pinter."
"Karena lo sendiri juga lagi bermasalah, dan masalahnya ada di diri lo."
"Masalahnya dia ngga tau soal kondisi gue yang sebenarnya, Brietta."
"Kondisi lo?", alis Brietta terangkat, tatapannya penuh selidik pada Namira yang spontan menutup mulutnya sendiri.
"Emang lo kenapa Nam? Hei, lo punya rahasia pasti ya! Cerita ngga!"
Mampus. Rutuk Namira pada dirinya sendiri.
to be continued..
Minggu, 19 Maret 2017
Tell Me Why (Part 10)
Gadis itu
sudah berdiri di depannya, matanya menatap lurus seolah tidak ada beban. Baim
menelan ludahnya yang mendadak getir. Pertemuannya kali ini dengan Namira
terasa begitu canggung dan aneh. Bahkan suasana tempat pertemuan mereka pun
terasa begitu berbeda, ada aura aneh yang menyelimuti tidak seperti biasanya.
Padahal mereka sering bertemu di tempat ini, sebuah kafe dengan nuansa Korea
favorit Namira.
Namira
memberi kode pada Baim agar segera duduk berhadapan dengannya. Baim hanya
menghampiri tanpa memberi respon apa-apa lagi.
“Udah,
ngga usah main kucing-kucingan lagi sama gue.”, tukas Namira langsung ke inti.
“Sebenarnya gue malas ngeladenin sifat kekanakan lo ini tapi apa boleh buat,
karena gue tau lo orangnya harus dibaik-baikin duluan biar mau ngomong.”
Baim
mendengus, sedikit kesal dengan ‘salam pembukaan’ Namira yang tidak bisa
berbasa-basi. Tanya kabar dulu kek apa gimana, batin Baim sebal.
“Yu, kalo
lo mutusin gue karena gue yang sering bilang malas sama yang namanya komitmen,
oke itu terserah lo, gue ngga berhak ngelarang dan ngatur lo buat mutusin gue.
Cuma yang ngga gue suka sikap lo setelah itu, Yu. Kenapa lo jadi suka
ngehindarin gue? Kalo kita putus terus kita ngga bisa balik jadi teman baik
lagi apa? Kita kenal dari kecil Yu, ke mana-mana selalu sama-sama, ngga ada
masalah fatal yang bikin kita kepisah dan menjauh. Ngga ada. Tapi kenapa lo
sekarang jadi begini? Mentang-mentang kita putus pacaran terus putus juga
hubungan pertemanan kita yang sejak kecil itu Yu? Plis lah jangan kekanakan
gini, inget umur lah, udah ngga bukan masanya lagi lo bersikap childish begini.”
Baim tertegun.
Semua perkataan Namira terasa begitu menusuk dadanya. Tak begitu dalam, hanya
terasa banyak duri yang menempel pada kulit hingga membuat perih yang tak
terkira.
“Lo mau
ngasih alasan apalagi sekarang Yu?”, Tanya Namira dengan nada datar, wajahnya
pun tak kalah datar. Berbeda dengan Baim yang dengan sekuat tenaga menahan
perasaan yang tak karuan dalam hatinya. Ekpresi Namira membuat Baim berpikir
bahwa Namira tidak benar-benar menyayanginya seperti ia menyayangi gadis itu. Atau
sebenarnya Namira juga sama seperti dirinya yang tengah menahan perasaan yang setengah
mati ia sembunyikan?
“Gue Cuma
malas ketemu lo. Gue masih kesal sama segala tingkah dan ucapan lo yang
terdengar ngga masuk akal di logika gue, itu aja.”, jawab Baim setelah menghela
napas beberapa kali.
Namira berdecak
heran, “Segitunya banget lo sama gue, Yu? Ngga ngerti gue.”
“Justru
gue yang ngga pernah ngerti sama lo, Nam.”, Baim mendengus. “Kayaknya Cuma lo
cewek yang dengan angkuhnya bilang enggan berkomitmen. Lo seakan ngga butuh adanya
sosok pendamping di hidup lo. Lo pikir lo bisa hidup sendirian sampai tua apa? Pikirin
juga keluarga lo, Nam. Mereka juga pasti pengin lo bisa berkeluarga, dan ngga
jadi perawan sampai tua. Dan gue punya keinginan itu Nam, pengin bisa sama-sama
lo sampai kita tua, punya anak cucu..tapi malah lo ngga berkeinginan yang sama
seperti gue”.
“Lo juga
harusnya mikir Yu, emangnya membangun rumah tangga itu segampang main ular
tangga apa? Berat asal lo tau. Lo liat Tante gue yang hampir tiap hari ke rumah
gara-gara berantem mulu sama suaminya, atau tetangga kita yang baru nikah
setengah tahun cerai tiba-tiba, atau Ustad yang wara-wiri dakwah di masjid komplek
kita, yang sering kasih nasehat soal pernikahan ujung-ujungnya ditinggalin
istrinya juga. See, pernikahan itu
bukan perkara ecek-ecek yang bisa lo gampangin. Apa lo pengin nikah Cuma karena
penasaran rasanya making love itu
gimana? Iya?”
“Nam, jaga
omongan lo ya!”, jari telunjuk Baim terangkat di depan wajah Namira. Gadis itu
terlihat sedikit kaget namun berusaha tetap tenang.
“Salah? Eh
kok sekarang lo udah berani bentak gue gini ya?”
Baim menghela
napas, “Serius, gue bener-bener kesal sama lo kali ini. Kita udahin ajalah
percakapan ngga bermutu ini. Percuma juga, ngga ada gunanya, ngga ngebalikin
keadaan juga.”, Baim beranjak dari kursinya, namun tangan Namira mencegahnya.
“Gue
masih sayang sama lo asal lo tau.”, ucap Namira seraya menggenggam tangan Baim.
“Jadi jangan terus-terusan ngehindarin gue. Rasanya sakit tau ngga.”
Baim tertegun,
dipandanginya wajah Namira yang mendadak berubah sendu.
“Tetaplah
jadi sahabat gue, Yu. Cuma itu yang gue penginin.”
Baim melepas
genggaman tangan Namira. “Gue ngga akan bisa ngelepas lo kalo lo begini Nam. Perasaan
gue jauh lebih berat dari yang lo kira.”
“Sampai
kapan lo mau ngeginiin gue, sih? Lo sadar kan kalo lo sendiri juga tersiksa?”
“Gue
lebih tersiksa kalo kita masih sama-sama tapi pemikiran, keinginan dan prinsip
kita ngga pernah sama. Walau begitu besarnya perasaan gue ke lo, Nam, gue ngga
bisa nerima perbedaan itu.”
“Tapi gue
bener-bener ngga suka pernikahan, Yu. Itu semacam momok yang bikin gue paranoid
selama ini. Gue takut tau nggak.”
“Meski
itu sama gue?”
Namira mengangguk
pelan, terlihat sedikit ragu. “Meskipun sama lo, gue juga ngga terlalu yakin.”
Baim mendengus,
“Kalaupun gue kasih waktu buat lo mikirin semua ini baik-baik, lo juga ngga
akan mengubah pendirian lo kan? “
“Yu, gue Cuma
pengin kita tetap jadi sahabat baik. Plis, kali ini kendalikan ego lo.”
“Lo juga,
Nam. Kendalikan ego ngga masuk akal lo itu. Gue pulang dulu, gue capek.”, Baim
tak peduli lagi, dia pun berjalan keluar kafe meninggalkan Namira yang
termangu.
Di tempat
duduknya, Namira menatap kepergian Baim dengan perasaan yang kacau. Di satu
sisi dia tidak ingin ditinggalkan oleh orang yang begitu dia sayangi itu, namun
di sisi lain dia masih belum bisa menyembuhkan phobia pernikahan yang dideritanya sejak kedua orangtuanya bercerai
saat dia baru kelas 2 SMP.
Namira merasa
sesak jika kembali diingatkan oleh kejadian itu, ketika dia pulang ke rumah
namun tak lagi melihat Papanya. Yang dia lihat hanya Mamanya yang tengah
membersihkan lemari dari barang-barang milik Papanya. Saat itu Namira masih
belum mengerti apa yang tengah terjadi sampai akhirnya dia bertanya pada
Mamanya dengan takut-takut.
“Papa ke
mana, Ma? Kenapa Mama buang semua barang-barang Papa?”
Mamanya
hanya menjawab dengan wajah sendu yang ia tutupi dengan senyum, “Mama sama Papa
udah ngga bisa sama-sama lagi, Sayang. Papa sekarang udah punya kehidupannya
sendiri. Dan kita pun akan menjalani hidup kita berdua.”
“Kenapa?”,
Tanya Namira kecil lagi. “Apa Mama dan Papa udah ngga saling sayang lagi?”
Mama
menggeleng, “Enggak sayang. Justru Mama sama Papa berpisah karena saling
menyayangi. Ini semua juga demi Namira kok.”
“Tapi
Namira lebih suka kalau Mama dan Papa tetap sama-sama, Ma. Jangan pisah begini.”
Mamanya hanya
menariknya dalam pelukan tanpa menjawab lagi. Membagi kesedihannya secara tidak
langsung pada Namira yang juga ternyata mengakibatkan adanya phobia pada anak gadisnya tersebut.
Namun sampai
saat ini Mama Namira tidak pernah tau kalau Namira mengidap phobia pernikahan. Karena Namira
menutupinya dari siapapun, bahkan dari kedua sahabatnya sekalipun.
Namira menghela
napas yang terasa begitu berat. Diusapnya kedua pipi yang basah oleh air mata
yang sedari tadi menetes tanpa henti. Namira meringis, dia tidak pernah
menyangka bahwa sakitnya akan sedalam dan separah ini.
Namira tidak
bisa menahannya lagi, air matanya jatuh lebih deras kali ini.
Sabtu, 18 Maret 2017
Tell Me Why (Part 9)
10 missed calls from Namira Ramadhina.
Baim menghela napas pendek. Entah kenapa dia masih ingin terus mengabaikan gadis itu dengan cara apapun. Tidak mengangkat telponnya, tidak membalas pesan-pesannya, menghindari agar tidak bertemu dengannya, padahal mereka bertetangga. Dan sudah cukup sering Namira datang ke rumahnya untuk bertemu, tapi Baim selalu mencari alasan agar tidak menemuinya atau sengaja pergi ke rumah Rado atau kos Andra dan menginap di sana.
Dan yang membuat heran, Namira tidak pernah lelah untuk terus mencoba menghubunginya.
Baim bingung, sebenarnya apa yang diinginkan oleh gadis itu? Kenapa dia bersikap seolah tidak ingin Baim memutuskan dirinya seperti itu sedangkan dia sendiri tidak ingin berkomitmen secara serius dengan Baim. Aneh.
Baim mengambil tasnya dari loker kemudian menghampiri Andra yang juga baru mengunci lokernya.
"Si Rado mau cuti berapa hari itu? Gila aja empat hari ngga masuk kerja.", celetuk Andra begitu melihat Baim menghampirinya. Baim mengangkat bahu.
"Jenguk aja yuk, kali aja dia sakit parah atau apa gitu."
"Dia bukannya sakit parah Im, tapi depresi gara-gara ditolak mentah-mentah sama orangtuanya Brietta."
"Ngga mentah-mentah juga kali, Ndra.", ralat Baim. "Cuma cara mereka aja yang terlalu blak-blakan. Kalo gue yang digituin ya juga pasti shock lah."
"Ya udah mending kita ke rumahnya aja dah daripada penasaran.", ujar Andra.
Begitu mereka keluar dari pabrik menuju tempat parkiran motor, sebuah panggilan dari orang yang sama untuk Baim pun datang lagi.
Namira.
Baim mendengus, "Dia kok jadi nelponin gue mulu ya, Ndra?", tanya Baim pada Andra yang sudah siap dengan motornya.
"Itu tandanya dia kangen sama lo, Im. Udahlah angkat aja, ngapain sih lo ngehindar lama-lama begitu? Untungnya apa coba?", ujar Andra enteng. "Jangan suka melihara gengsi lo, kayak cewek aja sih ah."
Baim termenung sesaat. Seolah termakan oleh ucapan Andra, jemarinya secara spontan menekan tombol hijau pada layar handphonenya.
"Lo di mana sekarang? Udah balik kerja?", suara lantang terdengar begitu Baim mengangkatnya.
"Mau ke rumah Rado.", jawab Baim seadanya. Dadanya berdesir kencang tiba-tiba. Apakah ini efek sudah terlalu lama dia tidak berbicara dengan Namira? Baim tidak terlalu yakin.
"Nanti temuin gue kalo balik dari sana. Kita perlu bicara, penting. Dan tolong kali ini lo jangan ngehindarin gue, Im."
Baim tidak merespon, ditekannya tombol merah pada layar handphonenya, memutuskan pembicaraannya dengan Namira.
"Ngomong apaan dia?", tanya Andra penasaran.
Baim menggeleng pelan, "Bukan hal penting."
"Serius lo?", tanya Andra lagi yang tak yakin dengan jawaban Baim.
"Udahlah, bahas ntar aja. Urus si Rado dulu ayo lah.", tukas Baim seraya menstater motornya lalu melaju meninggalkan parkiran pabrik.
*
Sesampainya di rumah Rado...
Andra dan Baim saling pandang, suasana canggung begitu menyelimuti ruang tamu rumah ini. Di depan mereka sudah ada orangtua Rado yang menyambut mereka dengan aura yang kurang menyenangkan. Sedangkan Rado masih mengurung diri di kamar, enggan keluar menemui kedua temannya.
"Sebenarnya sudah dari awal saya mengingatkan anak itu agar selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Buat apa dia selama sembilan tahun di pesantren kalau segala ilmunya tidak pernah dia gunakan?", ucap Haji Hanafi, Papa Rado dengan wajah kesal.
"Saya sudah pernah melihat gadis itu sewaktu datang ke acara syukuran rumah baru ini, secara visual memang enak dipandang, tapi bagi kami tampang saja tidak cukup. Akhlaklah yang paling utama. Bagaimana kami bisa melepaskan anak bungsu kami dengan seorang gadis yang pakai jilbab saja tidak, eh malah pakai kalung salib. Tentu saja kami menolak dengan keras!"
Baim menelan ludah. Andra lebih kelihatan tegang juga bingung harus bagaimana. Masalah ini terasa begitu berat jika sudah menyeret kedua orangtua Rado yang notabene dari keluarga muslim yang taat.
"Umi sih ngga masalah Mas mau berteman dengan siapa saja, dari suku mana saja, dari agama apa saja, cuma yang Umi ngga suka, kenapa Mas malah menjalin hubungan khusus dengan gadis yang tidak seagama dengan dia, dengan kami. Harusnya dia bisa mengenalkan seorang gadis muslim yang solehah, mengkhitbahnya, lalu menikah segera. Tapi yang terjadi malah seperti ini, Umi ngga habis pikir sama dia.", Hajah Siti Syarifah, Mama Rado ikut ambil suara.
"Dan sekarang anak itu mengurung diri di kamar merenungi nasibnya yang ditolak oleh keluarga gadis itu? Benar-benar anak dungu! Buat apa dia sia-siakan waktu yang berharga untuk ibadah demi seorang kafir!"
Baim dan Andra kompak tersentak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Papa Rado begitu marah mengenai masalah ini. Sempat terpikir oleh Baim, Rado akan segera dijodohkan dengan gadis yang dulu sempat dikenalkan oleh orangtuanya. Baim ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika mereka bertiga sedang berkumpul di rumah Rado, teman Papa Rado datang beserta Istri dan anak gadisnya. Dan gadis itulah yang rencananya akan dijodohkan dengan Rado. Tapi Rado menolaknya dengan alasan dia ingin mencari pasangan hidupnya sendiri tanpa acara perjodohan. Kontan saja Papanya sangat marah padanya, karena dia merasa sudah mencarikan sosok yang paling tepat untuk Rado tapi Rado malah menolaknya mentah-mentah.
Sejak itu, hubungan Rado dan Papanya sedikit renggang. Bahkan Rado sampai keluar rumah dan menempati kos yang tak jauh dari kos Andra. Tapi belakangan ini, Mama Rado selalu menyuruhnya untuk pulang ke rumah dan tidak perlu kos lagi. Rado pun menurutinya meskipun sesekali dia tetap pulang ke kosnya.
Setelah mendengarkan keluh kesah orangtua Rado, Baim dan Andra pun izin untuk menemui Rado di kamarnya. Tak disangka, Rado menyambut kedua sahabatnya dengan tangan terbuka.
"Bau lo! Ngga mandi berapa hari buset dah?!", tanya Andra seraya melepas pelukan Rado sambil tangannya menutup hidung.
Baim pun merasakan ada aroma tidak sedap dari Rado yang seperti tidak mandi selama empat hari.
"Serius Do lo ngga mandi empat hari?", susul Baim.
Rado menggeleng keras. "Gue mandi, cuma ngga pake sabun aja."
"Buset dah!" Andra melempar bantal ke arah Rado. "Parah banget sih ini anak!"
"Kayaknya bentar lagi gue bakal dikirim ke Mesir nih nyusulin kakak sulung gue. Atau ngga gue dilempar lagi ke pesantren biar diurusin kakak kedua gue. Njrit, sial bener gue.", celoteh Rado dengan wajah kuyu.
Andra terbelalak, "Serius lo, Do? Eh terus kerjaan lo di sini gimana, Nyet? Masa iya lo mau resign gitu aja? Sayang banget kali, Men."
"Kalo bokap gue udah ngomong gue bisa apa, curut? Mana bisa gue nentang bokap gue terus-terusan. Yang ada ntar gue dikutuk jadi batu cobek." Rado menghela napas pendek, "Lagian gue sama Brietta udah tamat, Ndra. Ngga ada harapan sama sekali."
Baim menepuk bahu Rado pelan, "Seenggaknya lo udah berusaha untuk mencoba sebisa lo. Ngga ada yang salah soal itu, apalagi soal perasaan lo."
"Dan Brietta udah tau kalau lo suka sama dia tuh udah cukup, Do. Paling enggak, kejujuran lo ke dia bisa bikin perasaan lo lega dan ngga ngerasa ngegantungin dia lagi. So, dia jadi ngga bertanya-tanya lagi kan?", susul Andra. "Soal lo bakal dilempar ke Mesir atau pesantren lo yang di Surakarta itu kita ngga bisa bantu apa-apa, Men. Ini udah jadi masalah intern keluarga lo. Kita sih maunya apa aja dah yang terbaik buat lo. Yah, ambil hikmahnya aja lah, Do, kali aja di sana lo bisa ketemu jodoh lo."
Rado tersenyum simpul mendengar celotehan Andra yang menurutnya sedikit waras.
"Tumben omongan lo lagi rada bener, Ndra? Biasanya lo yang paling sesat di antara kita bertiga."
"Anjrit, lo. Gue berusaha ngehibur malah dicengin! Bukannya bilang makasih lo!", tukas Andra mengomel.
Rado terkekeh, "Thanks berat, Bray. Lo berdua emang yang terbaik deh buat gue. Sayang lo berdua batangan, coba kalo ngga, udah gue kawinin lo berdua dah."
Kontan saja Rado segera diserbu jitakan maut dari kedua temannya kemudian disusul tawa lepas mereka dengan serempak.
"Lo buruan lamar si Ghina gih. Ngga takut apa lo kalo emaknya tau-tau jodohin dia sama orang lain gara-gara lo ngga bertindak juga?", ucap Rado pada Andra setelah tawa mereka reda.
"Yah, lo malah jadi bahas soal gue sama Ghina. Udahlah santai aja lo, Do. Bakal gue jadiin kok si Ghina. Tinggal tunggu waktunya aja nanti.", timpal Andra, enteng.
"Yakin lo segera dijadiin?", tanya Baim menggoda.
"Emangnya elu yang malah mutusin cewek lo sehabis ciuman di mobil?", sindir Andra lengkap dengan tatapan jahilnya.
Wajah Baim memerah.
"Geblek emang si Baim, habis ciuman tuh baiknya dikasih cincin, eh malah diputusin. Lo suka ngatain gue sama Andra gila tapi lo sendiri lebih sableng. Bego lo emang!", olok Rado sembari terkekeh.
"Brengsek! Si Ghina nih pasti yang bocorin ke lo ya! Ini lagian si Namira ngapain cerita detail banget sih ah elah bikin malu aja!", keluh Baim menahan malu.
Terdengar tawa lantang Rado dan Andra secara serempak.
"Im, lo mending balikan aja deh sama Namira. Pertahanin dia apapun rintangannya. Selagi lo ada kesempatan, selagi lo berdua ngga dibatasi perbedaan yang bikin fatal. Jangan sampe akhirnya lo nyesel belakangan, Im. Gue ngomong gini karena gue ngga pengin lo ngerasain yang semacam gue gini. Sumpah Im ngga enak banget.", ucap Rado menasehati.
Baim terdiam sesaat, berpikir.
TING!
From: Namira Ramadhina
Temuin gue sekarang. Bisa?
Baim menghela napas panjang. Kali ini dia harus kembali memutuskan, jalan keluar mana yang akan dia pilih. Anggaplah kemarin hanya sebuah try out.
to be continued..
Baim menghela napas pendek. Entah kenapa dia masih ingin terus mengabaikan gadis itu dengan cara apapun. Tidak mengangkat telponnya, tidak membalas pesan-pesannya, menghindari agar tidak bertemu dengannya, padahal mereka bertetangga. Dan sudah cukup sering Namira datang ke rumahnya untuk bertemu, tapi Baim selalu mencari alasan agar tidak menemuinya atau sengaja pergi ke rumah Rado atau kos Andra dan menginap di sana.
Dan yang membuat heran, Namira tidak pernah lelah untuk terus mencoba menghubunginya.
Baim bingung, sebenarnya apa yang diinginkan oleh gadis itu? Kenapa dia bersikap seolah tidak ingin Baim memutuskan dirinya seperti itu sedangkan dia sendiri tidak ingin berkomitmen secara serius dengan Baim. Aneh.
Baim mengambil tasnya dari loker kemudian menghampiri Andra yang juga baru mengunci lokernya.
"Si Rado mau cuti berapa hari itu? Gila aja empat hari ngga masuk kerja.", celetuk Andra begitu melihat Baim menghampirinya. Baim mengangkat bahu.
"Jenguk aja yuk, kali aja dia sakit parah atau apa gitu."
"Dia bukannya sakit parah Im, tapi depresi gara-gara ditolak mentah-mentah sama orangtuanya Brietta."
"Ngga mentah-mentah juga kali, Ndra.", ralat Baim. "Cuma cara mereka aja yang terlalu blak-blakan. Kalo gue yang digituin ya juga pasti shock lah."
"Ya udah mending kita ke rumahnya aja dah daripada penasaran.", ujar Andra.
Begitu mereka keluar dari pabrik menuju tempat parkiran motor, sebuah panggilan dari orang yang sama untuk Baim pun datang lagi.
Namira.
Baim mendengus, "Dia kok jadi nelponin gue mulu ya, Ndra?", tanya Baim pada Andra yang sudah siap dengan motornya.
"Itu tandanya dia kangen sama lo, Im. Udahlah angkat aja, ngapain sih lo ngehindar lama-lama begitu? Untungnya apa coba?", ujar Andra enteng. "Jangan suka melihara gengsi lo, kayak cewek aja sih ah."
Baim termenung sesaat. Seolah termakan oleh ucapan Andra, jemarinya secara spontan menekan tombol hijau pada layar handphonenya.
"Lo di mana sekarang? Udah balik kerja?", suara lantang terdengar begitu Baim mengangkatnya.
"Mau ke rumah Rado.", jawab Baim seadanya. Dadanya berdesir kencang tiba-tiba. Apakah ini efek sudah terlalu lama dia tidak berbicara dengan Namira? Baim tidak terlalu yakin.
"Nanti temuin gue kalo balik dari sana. Kita perlu bicara, penting. Dan tolong kali ini lo jangan ngehindarin gue, Im."
Baim tidak merespon, ditekannya tombol merah pada layar handphonenya, memutuskan pembicaraannya dengan Namira.
"Ngomong apaan dia?", tanya Andra penasaran.
Baim menggeleng pelan, "Bukan hal penting."
"Serius lo?", tanya Andra lagi yang tak yakin dengan jawaban Baim.
"Udahlah, bahas ntar aja. Urus si Rado dulu ayo lah.", tukas Baim seraya menstater motornya lalu melaju meninggalkan parkiran pabrik.
*
Sesampainya di rumah Rado...
Andra dan Baim saling pandang, suasana canggung begitu menyelimuti ruang tamu rumah ini. Di depan mereka sudah ada orangtua Rado yang menyambut mereka dengan aura yang kurang menyenangkan. Sedangkan Rado masih mengurung diri di kamar, enggan keluar menemui kedua temannya.
"Sebenarnya sudah dari awal saya mengingatkan anak itu agar selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Buat apa dia selama sembilan tahun di pesantren kalau segala ilmunya tidak pernah dia gunakan?", ucap Haji Hanafi, Papa Rado dengan wajah kesal.
"Saya sudah pernah melihat gadis itu sewaktu datang ke acara syukuran rumah baru ini, secara visual memang enak dipandang, tapi bagi kami tampang saja tidak cukup. Akhlaklah yang paling utama. Bagaimana kami bisa melepaskan anak bungsu kami dengan seorang gadis yang pakai jilbab saja tidak, eh malah pakai kalung salib. Tentu saja kami menolak dengan keras!"
Baim menelan ludah. Andra lebih kelihatan tegang juga bingung harus bagaimana. Masalah ini terasa begitu berat jika sudah menyeret kedua orangtua Rado yang notabene dari keluarga muslim yang taat.
"Umi sih ngga masalah Mas mau berteman dengan siapa saja, dari suku mana saja, dari agama apa saja, cuma yang Umi ngga suka, kenapa Mas malah menjalin hubungan khusus dengan gadis yang tidak seagama dengan dia, dengan kami. Harusnya dia bisa mengenalkan seorang gadis muslim yang solehah, mengkhitbahnya, lalu menikah segera. Tapi yang terjadi malah seperti ini, Umi ngga habis pikir sama dia.", Hajah Siti Syarifah, Mama Rado ikut ambil suara.
"Dan sekarang anak itu mengurung diri di kamar merenungi nasibnya yang ditolak oleh keluarga gadis itu? Benar-benar anak dungu! Buat apa dia sia-siakan waktu yang berharga untuk ibadah demi seorang kafir!"
Baim dan Andra kompak tersentak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Papa Rado begitu marah mengenai masalah ini. Sempat terpikir oleh Baim, Rado akan segera dijodohkan dengan gadis yang dulu sempat dikenalkan oleh orangtuanya. Baim ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika mereka bertiga sedang berkumpul di rumah Rado, teman Papa Rado datang beserta Istri dan anak gadisnya. Dan gadis itulah yang rencananya akan dijodohkan dengan Rado. Tapi Rado menolaknya dengan alasan dia ingin mencari pasangan hidupnya sendiri tanpa acara perjodohan. Kontan saja Papanya sangat marah padanya, karena dia merasa sudah mencarikan sosok yang paling tepat untuk Rado tapi Rado malah menolaknya mentah-mentah.
Sejak itu, hubungan Rado dan Papanya sedikit renggang. Bahkan Rado sampai keluar rumah dan menempati kos yang tak jauh dari kos Andra. Tapi belakangan ini, Mama Rado selalu menyuruhnya untuk pulang ke rumah dan tidak perlu kos lagi. Rado pun menurutinya meskipun sesekali dia tetap pulang ke kosnya.
Setelah mendengarkan keluh kesah orangtua Rado, Baim dan Andra pun izin untuk menemui Rado di kamarnya. Tak disangka, Rado menyambut kedua sahabatnya dengan tangan terbuka.
"Bau lo! Ngga mandi berapa hari buset dah?!", tanya Andra seraya melepas pelukan Rado sambil tangannya menutup hidung.
Baim pun merasakan ada aroma tidak sedap dari Rado yang seperti tidak mandi selama empat hari.
"Serius Do lo ngga mandi empat hari?", susul Baim.
Rado menggeleng keras. "Gue mandi, cuma ngga pake sabun aja."
"Buset dah!" Andra melempar bantal ke arah Rado. "Parah banget sih ini anak!"
"Kayaknya bentar lagi gue bakal dikirim ke Mesir nih nyusulin kakak sulung gue. Atau ngga gue dilempar lagi ke pesantren biar diurusin kakak kedua gue. Njrit, sial bener gue.", celoteh Rado dengan wajah kuyu.
Andra terbelalak, "Serius lo, Do? Eh terus kerjaan lo di sini gimana, Nyet? Masa iya lo mau resign gitu aja? Sayang banget kali, Men."
"Kalo bokap gue udah ngomong gue bisa apa, curut? Mana bisa gue nentang bokap gue terus-terusan. Yang ada ntar gue dikutuk jadi batu cobek." Rado menghela napas pendek, "Lagian gue sama Brietta udah tamat, Ndra. Ngga ada harapan sama sekali."
Baim menepuk bahu Rado pelan, "Seenggaknya lo udah berusaha untuk mencoba sebisa lo. Ngga ada yang salah soal itu, apalagi soal perasaan lo."
"Dan Brietta udah tau kalau lo suka sama dia tuh udah cukup, Do. Paling enggak, kejujuran lo ke dia bisa bikin perasaan lo lega dan ngga ngerasa ngegantungin dia lagi. So, dia jadi ngga bertanya-tanya lagi kan?", susul Andra. "Soal lo bakal dilempar ke Mesir atau pesantren lo yang di Surakarta itu kita ngga bisa bantu apa-apa, Men. Ini udah jadi masalah intern keluarga lo. Kita sih maunya apa aja dah yang terbaik buat lo. Yah, ambil hikmahnya aja lah, Do, kali aja di sana lo bisa ketemu jodoh lo."
Rado tersenyum simpul mendengar celotehan Andra yang menurutnya sedikit waras.
"Tumben omongan lo lagi rada bener, Ndra? Biasanya lo yang paling sesat di antara kita bertiga."
"Anjrit, lo. Gue berusaha ngehibur malah dicengin! Bukannya bilang makasih lo!", tukas Andra mengomel.
Rado terkekeh, "Thanks berat, Bray. Lo berdua emang yang terbaik deh buat gue. Sayang lo berdua batangan, coba kalo ngga, udah gue kawinin lo berdua dah."
Kontan saja Rado segera diserbu jitakan maut dari kedua temannya kemudian disusul tawa lepas mereka dengan serempak.
"Lo buruan lamar si Ghina gih. Ngga takut apa lo kalo emaknya tau-tau jodohin dia sama orang lain gara-gara lo ngga bertindak juga?", ucap Rado pada Andra setelah tawa mereka reda.
"Yah, lo malah jadi bahas soal gue sama Ghina. Udahlah santai aja lo, Do. Bakal gue jadiin kok si Ghina. Tinggal tunggu waktunya aja nanti.", timpal Andra, enteng.
"Yakin lo segera dijadiin?", tanya Baim menggoda.
"Emangnya elu yang malah mutusin cewek lo sehabis ciuman di mobil?", sindir Andra lengkap dengan tatapan jahilnya.
Wajah Baim memerah.
"Geblek emang si Baim, habis ciuman tuh baiknya dikasih cincin, eh malah diputusin. Lo suka ngatain gue sama Andra gila tapi lo sendiri lebih sableng. Bego lo emang!", olok Rado sembari terkekeh.
"Brengsek! Si Ghina nih pasti yang bocorin ke lo ya! Ini lagian si Namira ngapain cerita detail banget sih ah elah bikin malu aja!", keluh Baim menahan malu.
Terdengar tawa lantang Rado dan Andra secara serempak.
"Im, lo mending balikan aja deh sama Namira. Pertahanin dia apapun rintangannya. Selagi lo ada kesempatan, selagi lo berdua ngga dibatasi perbedaan yang bikin fatal. Jangan sampe akhirnya lo nyesel belakangan, Im. Gue ngomong gini karena gue ngga pengin lo ngerasain yang semacam gue gini. Sumpah Im ngga enak banget.", ucap Rado menasehati.
Baim terdiam sesaat, berpikir.
TING!
From: Namira Ramadhina
Temuin gue sekarang. Bisa?
Baim menghela napas panjang. Kali ini dia harus kembali memutuskan, jalan keluar mana yang akan dia pilih. Anggaplah kemarin hanya sebuah try out.
to be continued..
Selasa, 07 Maret 2017
Tell Me Why (Part 8)
Canggung.
Rado menghela napas untuk kesekian kalinya. Rasa gugup sejak satu jam lalu belum juga lenyap, padahal jam makan malam sudah lewat. Matanya hanya melirik malu-malu pada Brietta yang kini duduk di sampingnya, yang juga balas meliriknya.
"Sebenernya nih ya, Do..", Brietta membuka suara, "Ada satu hal yang pengin banget gue ungkapin ke lo daritadi. Ini ganggu gue banget jujur aja."
Rado terkesiap, "Soal apa?"
"Outfit lo!", Brietta menunjuk pakaian yang dikenakan Rado. "Asli gue ngga ngerti sama lo! Lo kira mau kondangan pake kemeja batik kayak gitu? Astaga, Rado! Untung bonyok gue ngga komen soal ini loh!", omel Brietta seraya menepuk dahinya sendiri.
Rado tercekat, "Ah! I-ini, anu, gue bingung mau pake apaan, Bri. Dari pada kelamaan nyocokin baju jadi ya milih yang keliatan mata aja, hehehe", ucapnya sambil terkekeh malu.
"Lo bener-bener ngga modis sama sekali, iyuuuhhh!", Brietta melempar tatapan jijik. Tapi Rado tak tersinggung akan hal itu, di matanya sikap Brietta justru terlihat manis dan imut.
"Udah, laen kali mending lo pake baju yang kayak biasanya aja deh daripada sok formal pake batik begini. Asli ngga matching abis!"
"Lain kali?", ulang Rado, "Emang bakal ada 'lain kali'?"
Brietta mengangkat bahunya, "Ya siapa tau aja ya kan?"
Rado tidak menyahut, diseruputnya teh lemon buatan Brietta perlahan.
"Do, maafin semua ucapan orangtua gue ya," ucap Brietta tiba-tiba setelah jeda cukup lama.
"Mereka ngga salah apa-apa lagi, Bri. Wajar kalau orangtua mau ngasih yang terbaik buat anaknya. Anggap aja itu sebagai proteksi dini dari orangtua lo."
"Tetep aja gue ngga ngerasa enak sama lo. Mereka bersikap seolah kita udah ada apa-apa aja. Padahal nyatanya kan ngga gitu."
"Hmm, jadi lo emang cuma nganggap gue sebagai teman biasa aja ya."
Brietta tercenung, "Lah, lo maunya kita bisa lebih dari itu emangnya?"
Rado tidak menjawab, namun Brietta bisa membaca dari ekspresi wajahnya.
"Dulu orangtua gue pernah kayak begini juga. Waktu gue masih kelas 2 SMA." Brietta meneguk teh lemonnya, "Dan cowok yang lagi sial itu namanya Yusuf."
Rado mendengarkan Brietta antusias.
"Gue sama Yusuf teman satu kelas, bisa dibilang akrab sih karena sering dapat kelompok yang sama. Bahkan teman-teman lain sampe nyomblang-nyomblangin gue sama dia. Berhubung gue waktu itu gampang baper, jadi ya gue mulai ngerasa naksir beneran sama dia. Cuma Yusuf sendiri, gue ngga tau dia gimana sama gue.Gue ngga pernah nanya apa dia suka sama gue atau engga, yang gue tau cuma dia suka berteman sama gue.", Brietta tersenyum mengingat ceritanya.
"Sampai suatu ketika gue baru ngeh kalau ternyata dia suka sama gue. Yusuf itu orangnya super polos, masih kayak anak kecil sikapnya. Jadi dia ngga tau gimana caranya ngungkapin apa yang dia rasain ke gue. Yang dia lakuin cuma ngisengin gue, gangguin gue, ngejahilin gue, tapi di satu sisi dia bisa jadi orang yang baik dan perhatian banget sama gue. Di situlah gue tau, kalau dia punya rasa yang sama kayak gue. Tapi begonya, dia ngga pernah ngeh sama kalung gue.", Brietta menghela napas panjang.
"Yusuf itu orang yang taat beribadah, dia selalu usahain salat tepat lima waktu, kayak elo. Di manapun dia berada, kalau sudah waktunya buat salat, dia pasti cari tempat buat salat. Dan begonya lagi, saat itu dia dan beberapa teman lagi main ke rumah gue. Sekitar jam setengah empat, dia izin ke belakang, waktu itu gue ngga ngeh dong dia mau ngapain. Dan ternyata dia ketemu nyokap gue yang lagi bikin cemilan di dapur, dan dia nanya ke nyokap gue di mana tempat buat salat dan di mana arah kiblatnya. Dan lo tau jawaban apa yang nyokap gue kasih waktu itu? Nyokap gue malah nanya balik, "Kiblat itu apa?"", Brietta terkikik geli mengingatnya.
"Setelah itu nyokap langsung interogasi gue. Nanya siapa Yusuf dan apa hubungannya sama gue? Ya gue jawab aja kalau kami teman dekat di sekolah. Dan lo bisa nebak sendiri gimana kelanjutannya setelah itu."
"Nyokap lo ngelarang lo deket sama Yusuf?", Rado menebak.
"Yep.", Brietta mengangguk, "Nyokap bilang kalau lebih baik gue ngga usah dekat-dekat lagi sama dia. Alasannya karena kami ini berbeda dan kami ngga akan bisa jadi sama. Nyokap takut kalau ini diterusin bakal berakibat buruk buat gue sendiri. Dia ngga mau pengalaman pahitnya terulang sama gue."
Rado tercenung, "Pengalaman pahit nyokap lo?"
"Ya, dia pernah pacaran sama mualaf. Tadinya orang itu Katolik juga, sama kayak nyokap. Cuma begitu udah pacaran selama tiga tahun, mereka putus. Kata nyokap karena tiba-tiba orang itu mutusin buat jadi mualaf. Nyokap kecewa berat, padahal dia sayang banget sama itu orang. Tadinya nyokap bersikeras mau mempertahankan hubungan di tengah perbedaan itu, cuma orangtua nyokap menentang keras. Mereka bilang buat apa menjalin hubungan dengan orang yang berbeda agama sedangkan yang satu agama aja banyak. Yah, ngga lama nyokap ketemu bokap dan nikah deh. Jadi ketauan kan kalau yang pacaran lama belum tentu berjodoh. Apalagi yang beda agama."
Rado mendengus, "Tapi banyak loh yang beda agama tetap berjodoh"
"Nah, kalau yang itu udah jadi urusan Tuhan. Kita kan sebagai manusia ngga pernah tau segala rancanganNya."
"Lo kalau kayak gini keliatan pinter loh, Bri", puji Rado setengah meledek.
"Iya, pinter nyinyir!"
"Tapi, Bri..", ucap Rado begitu tawanya reda. "Gue beneran suka sama lo asal lo tau aja."
Brietta mengangguk, "Gue tau, lo kan pernah bilang kalau lo suka sama gue karena muka gue mirip Laura Basuki, kan?"
Rado terkekeh, "Iya muka lo emang cantiknya kayak dia. Cuma bedanya di nasib doang, dia bisa jadi artis film terkenal sedangkan lo cukup jadi artis radio kampus aja."
"Dan lo kalau lebih modis dikit, lo keliatan kayak Fedi Nuril loh," Brietta terbahak.
"Lah? Katanya mirip Vino G Bastian?"
"Ah, dia kecakepan, mana muka rada bule gitu. Muka lo apanya yang bule? Bulepotan iya!"
Rado dan Brietta tertawa lepas, seakan mengabaikan segala sesak menyeruak dalam dada yang sengaja mereka sembunyikan.
"Makasih buat makan malamnya. Ternyata makanan khas Manado enak-enak juga ya?", ucap Rado begitu Brietta mengantarnya ke gerbang.
"Ah, andai lo bisa nyicipin babi panggang buatan nyokap, deuh itu masterpiecenya nyokap tuh!", Brietta mengacungkan kedua jempolnya.
"Bab..ah, okay. Kalau yang itu maaf-maaf aja nih ya", Rado terkekeh.
Brietta balas tersenyum, "Hati-hati pulangnya, ngga usah ngebut lo bawa motor."
"Lah, siapa juga yang suka ngebut?"
"Lo! Ngaku aja deh lo selama bukan gue yang bonceng motor lo, lo ngebut mulu kan bawanya?"
Rado tengsin, kebiasaan buruknya diketahui Brietta.
"Duh, iya iya. Makasih lo buat perhatiannya."
"Ya udah gih sana balik, ini udah jamnya gue nonton drama Korea nih!"
"Yaelah udah tua juga masih demen Korea-Koreaan."
"Bodo! Udah sana balik lo!"
"Duhh, iya Princess Bee yang bawel. Balik dulu ya!"
Brietta memandangi Rado yang berlalu dan menghilang di tikungan. Hatinya mendadak tak karuan. Ada sesak, begitu banyak, sampai rasanya dia tak bisa lagi menahan genangan kecil yang sedari tadi bersiap tumpah di pelupuk matanya.
Begitu dia berbalik badan, dilihatnya sang Mama memandanginya, seolah tau benar apa yang dirasakannya saat ini.
"Maafin Brietta, Ma..", bibir Brietta bergetar. Air matanya tumpah begitu sang Mama memeluknya.
Rado menghentikan motornya di sebuah trotoar sepi. Dipandanginya sekeliling, hanya ada beberapa penjual makanan dan tak banyak orang yang lewat. Tangannya merogoh kantong celanaya, diambilnya handphone dan menekan nomor Baim. Entah kenapa saat ini dia begitu ingin menghubungi temannya yang satu itu.
"Eh, ngapain lo nelpon? Gimana dinner sama camernya? Sukses ngga?", tanya Baim begitu telpon diangkat.
Rado terdiam, mendadak mulutnya terkunci.
"Halo? Rado? Eh, malah diem ini bocah. Di mana lo sekarang?", tanya Baim lagi
"Im..", ucap Rado lirih
"Apaan? Ditanyain lo ada di mana sekarang elah!"
"Im..", bibir Rado bergetar, nafasnya mendadak sesak. Dan sakit.
"Woy! Di mana lo?", kali ini suara Andra yang terdengar.
"Ndraaaaa..",
"Eh? Lo kok ngerengek kayak bayi gitu sih, Do?" tanya Andra lagi. "Di mana lo, nyet?"
"Andraaaaaaa...", tak sadar mata Rado sudah basah. Tangannya memegang dadanya sendiri, semakin air matanya keluar, dadanya terasa semakin sakit.
"Do? Eh, halo? Rado? Woy, di mana lo?"
Rado mengabaikan panggilan kedua temannya. Yang ingin dia lakukan kini hanya menumpahkan segala sesak juga sakit yang begitu luar biasa. Tak peduli jika ada orang yang memandanginya dengan penuh heran.
Malam itu, Rado menumpahkan semuanya, membuang segalanya. Menangis sejadi-jadinya.
Rado menghela napas untuk kesekian kalinya. Rasa gugup sejak satu jam lalu belum juga lenyap, padahal jam makan malam sudah lewat. Matanya hanya melirik malu-malu pada Brietta yang kini duduk di sampingnya, yang juga balas meliriknya.
"Sebenernya nih ya, Do..", Brietta membuka suara, "Ada satu hal yang pengin banget gue ungkapin ke lo daritadi. Ini ganggu gue banget jujur aja."
Rado terkesiap, "Soal apa?"
"Outfit lo!", Brietta menunjuk pakaian yang dikenakan Rado. "Asli gue ngga ngerti sama lo! Lo kira mau kondangan pake kemeja batik kayak gitu? Astaga, Rado! Untung bonyok gue ngga komen soal ini loh!", omel Brietta seraya menepuk dahinya sendiri.
Rado tercekat, "Ah! I-ini, anu, gue bingung mau pake apaan, Bri. Dari pada kelamaan nyocokin baju jadi ya milih yang keliatan mata aja, hehehe", ucapnya sambil terkekeh malu.
"Lo bener-bener ngga modis sama sekali, iyuuuhhh!", Brietta melempar tatapan jijik. Tapi Rado tak tersinggung akan hal itu, di matanya sikap Brietta justru terlihat manis dan imut.
"Udah, laen kali mending lo pake baju yang kayak biasanya aja deh daripada sok formal pake batik begini. Asli ngga matching abis!"
"Lain kali?", ulang Rado, "Emang bakal ada 'lain kali'?"
Brietta mengangkat bahunya, "Ya siapa tau aja ya kan?"
Rado tidak menyahut, diseruputnya teh lemon buatan Brietta perlahan.
"Do, maafin semua ucapan orangtua gue ya," ucap Brietta tiba-tiba setelah jeda cukup lama.
"Mereka ngga salah apa-apa lagi, Bri. Wajar kalau orangtua mau ngasih yang terbaik buat anaknya. Anggap aja itu sebagai proteksi dini dari orangtua lo."
"Tetep aja gue ngga ngerasa enak sama lo. Mereka bersikap seolah kita udah ada apa-apa aja. Padahal nyatanya kan ngga gitu."
"Hmm, jadi lo emang cuma nganggap gue sebagai teman biasa aja ya."
Brietta tercenung, "Lah, lo maunya kita bisa lebih dari itu emangnya?"
Rado tidak menjawab, namun Brietta bisa membaca dari ekspresi wajahnya.
"Dulu orangtua gue pernah kayak begini juga. Waktu gue masih kelas 2 SMA." Brietta meneguk teh lemonnya, "Dan cowok yang lagi sial itu namanya Yusuf."
Rado mendengarkan Brietta antusias.
"Gue sama Yusuf teman satu kelas, bisa dibilang akrab sih karena sering dapat kelompok yang sama. Bahkan teman-teman lain sampe nyomblang-nyomblangin gue sama dia. Berhubung gue waktu itu gampang baper, jadi ya gue mulai ngerasa naksir beneran sama dia. Cuma Yusuf sendiri, gue ngga tau dia gimana sama gue.Gue ngga pernah nanya apa dia suka sama gue atau engga, yang gue tau cuma dia suka berteman sama gue.", Brietta tersenyum mengingat ceritanya.
"Sampai suatu ketika gue baru ngeh kalau ternyata dia suka sama gue. Yusuf itu orangnya super polos, masih kayak anak kecil sikapnya. Jadi dia ngga tau gimana caranya ngungkapin apa yang dia rasain ke gue. Yang dia lakuin cuma ngisengin gue, gangguin gue, ngejahilin gue, tapi di satu sisi dia bisa jadi orang yang baik dan perhatian banget sama gue. Di situlah gue tau, kalau dia punya rasa yang sama kayak gue. Tapi begonya, dia ngga pernah ngeh sama kalung gue.", Brietta menghela napas panjang.
"Yusuf itu orang yang taat beribadah, dia selalu usahain salat tepat lima waktu, kayak elo. Di manapun dia berada, kalau sudah waktunya buat salat, dia pasti cari tempat buat salat. Dan begonya lagi, saat itu dia dan beberapa teman lagi main ke rumah gue. Sekitar jam setengah empat, dia izin ke belakang, waktu itu gue ngga ngeh dong dia mau ngapain. Dan ternyata dia ketemu nyokap gue yang lagi bikin cemilan di dapur, dan dia nanya ke nyokap gue di mana tempat buat salat dan di mana arah kiblatnya. Dan lo tau jawaban apa yang nyokap gue kasih waktu itu? Nyokap gue malah nanya balik, "Kiblat itu apa?"", Brietta terkikik geli mengingatnya.
"Setelah itu nyokap langsung interogasi gue. Nanya siapa Yusuf dan apa hubungannya sama gue? Ya gue jawab aja kalau kami teman dekat di sekolah. Dan lo bisa nebak sendiri gimana kelanjutannya setelah itu."
"Nyokap lo ngelarang lo deket sama Yusuf?", Rado menebak.
"Yep.", Brietta mengangguk, "Nyokap bilang kalau lebih baik gue ngga usah dekat-dekat lagi sama dia. Alasannya karena kami ini berbeda dan kami ngga akan bisa jadi sama. Nyokap takut kalau ini diterusin bakal berakibat buruk buat gue sendiri. Dia ngga mau pengalaman pahitnya terulang sama gue."
Rado tercenung, "Pengalaman pahit nyokap lo?"
"Ya, dia pernah pacaran sama mualaf. Tadinya orang itu Katolik juga, sama kayak nyokap. Cuma begitu udah pacaran selama tiga tahun, mereka putus. Kata nyokap karena tiba-tiba orang itu mutusin buat jadi mualaf. Nyokap kecewa berat, padahal dia sayang banget sama itu orang. Tadinya nyokap bersikeras mau mempertahankan hubungan di tengah perbedaan itu, cuma orangtua nyokap menentang keras. Mereka bilang buat apa menjalin hubungan dengan orang yang berbeda agama sedangkan yang satu agama aja banyak. Yah, ngga lama nyokap ketemu bokap dan nikah deh. Jadi ketauan kan kalau yang pacaran lama belum tentu berjodoh. Apalagi yang beda agama."
Rado mendengus, "Tapi banyak loh yang beda agama tetap berjodoh"
"Nah, kalau yang itu udah jadi urusan Tuhan. Kita kan sebagai manusia ngga pernah tau segala rancanganNya."
"Lo kalau kayak gini keliatan pinter loh, Bri", puji Rado setengah meledek.
"Iya, pinter nyinyir!"
"Tapi, Bri..", ucap Rado begitu tawanya reda. "Gue beneran suka sama lo asal lo tau aja."
Brietta mengangguk, "Gue tau, lo kan pernah bilang kalau lo suka sama gue karena muka gue mirip Laura Basuki, kan?"
Rado terkekeh, "Iya muka lo emang cantiknya kayak dia. Cuma bedanya di nasib doang, dia bisa jadi artis film terkenal sedangkan lo cukup jadi artis radio kampus aja."
"Dan lo kalau lebih modis dikit, lo keliatan kayak Fedi Nuril loh," Brietta terbahak.
"Lah? Katanya mirip Vino G Bastian?"
"Ah, dia kecakepan, mana muka rada bule gitu. Muka lo apanya yang bule? Bulepotan iya!"
Rado dan Brietta tertawa lepas, seakan mengabaikan segala sesak menyeruak dalam dada yang sengaja mereka sembunyikan.
"Makasih buat makan malamnya. Ternyata makanan khas Manado enak-enak juga ya?", ucap Rado begitu Brietta mengantarnya ke gerbang.
"Ah, andai lo bisa nyicipin babi panggang buatan nyokap, deuh itu masterpiecenya nyokap tuh!", Brietta mengacungkan kedua jempolnya.
"Bab..ah, okay. Kalau yang itu maaf-maaf aja nih ya", Rado terkekeh.
Brietta balas tersenyum, "Hati-hati pulangnya, ngga usah ngebut lo bawa motor."
"Lah, siapa juga yang suka ngebut?"
"Lo! Ngaku aja deh lo selama bukan gue yang bonceng motor lo, lo ngebut mulu kan bawanya?"
Rado tengsin, kebiasaan buruknya diketahui Brietta.
"Duh, iya iya. Makasih lo buat perhatiannya."
"Ya udah gih sana balik, ini udah jamnya gue nonton drama Korea nih!"
"Yaelah udah tua juga masih demen Korea-Koreaan."
"Bodo! Udah sana balik lo!"
"Duhh, iya Princess Bee yang bawel. Balik dulu ya!"
Brietta memandangi Rado yang berlalu dan menghilang di tikungan. Hatinya mendadak tak karuan. Ada sesak, begitu banyak, sampai rasanya dia tak bisa lagi menahan genangan kecil yang sedari tadi bersiap tumpah di pelupuk matanya.
Begitu dia berbalik badan, dilihatnya sang Mama memandanginya, seolah tau benar apa yang dirasakannya saat ini.
"Maafin Brietta, Ma..", bibir Brietta bergetar. Air matanya tumpah begitu sang Mama memeluknya.
Rado menghentikan motornya di sebuah trotoar sepi. Dipandanginya sekeliling, hanya ada beberapa penjual makanan dan tak banyak orang yang lewat. Tangannya merogoh kantong celanaya, diambilnya handphone dan menekan nomor Baim. Entah kenapa saat ini dia begitu ingin menghubungi temannya yang satu itu.
"Eh, ngapain lo nelpon? Gimana dinner sama camernya? Sukses ngga?", tanya Baim begitu telpon diangkat.
Rado terdiam, mendadak mulutnya terkunci.
"Halo? Rado? Eh, malah diem ini bocah. Di mana lo sekarang?", tanya Baim lagi
"Im..", ucap Rado lirih
"Apaan? Ditanyain lo ada di mana sekarang elah!"
"Im..", bibir Rado bergetar, nafasnya mendadak sesak. Dan sakit.
"Woy! Di mana lo?", kali ini suara Andra yang terdengar.
"Ndraaaaa..",
"Eh? Lo kok ngerengek kayak bayi gitu sih, Do?" tanya Andra lagi. "Di mana lo, nyet?"
"Andraaaaaaa...", tak sadar mata Rado sudah basah. Tangannya memegang dadanya sendiri, semakin air matanya keluar, dadanya terasa semakin sakit.
"Do? Eh, halo? Rado? Woy, di mana lo?"
Rado mengabaikan panggilan kedua temannya. Yang ingin dia lakukan kini hanya menumpahkan segala sesak juga sakit yang begitu luar biasa. Tak peduli jika ada orang yang memandanginya dengan penuh heran.
Malam itu, Rado menumpahkan semuanya, membuang segalanya. Menangis sejadi-jadinya.
Selasa, 21 Februari 2017
Tell Me Why (Part 7)
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan Rado masih saja sibuk mengeluarkan satu pakaian dari lemari, mencocokannya dengan celana, menggeleng, kemudian melempar kemeja itu ke tempat tidurnya yang sudah penuh dengan bermacam-macam pakaian. Rado menggeleng lagi, kali ini lebih keras.
"Kenapa ngga ada yang cocok? Ngga ada yang pas? Gue harus pakai apaan, anjrit!", keluh Rado, panik. Dia melihat ke arah jam dinding di kamarnya, jarum jam berjalan tanpa iba makin membuatnya pusing tujuh keliling.
"Oke, ini aja!", ucapnya mantap mengambil keputusan. Diambilnya kemeja batik warna beige yang dipadukannya dengan blue jeans kesukaannya.
Rado tersenyum seraya menganggukan kepalanya berkal-kali. "Gue oke, gue keren, gue kharismatik!", gumamnya sambil melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.
Krieett! Rado tersentak begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Mas mau ke mana? Kondangan?", tanya Mamanya heran melihat Rado begitu tumben berpakaian rapi.Di mata Mamanya, Rado hanya akan berpakaian rapi jika hendak pergi ke pengajian, Masjid, atau kondangan saja. Selain itu, dia akan memakai baju seadanya, bahkan cenderung berantakan dan tidak pernah matching.
"Eh tapi itu harusnya jangan pakai celana jin dong, pakai celana bahan warna hitam biar lebih pas.", tunjuk Mamanya yang disambut gelengan dari Rado.
"Umi, Mas lagi buru-buru. Kayak gini aja deh ya, kan udah bagus juga."
"Emang temen Mas yang nikahan yang mana? Baim atau siapa itu yang bandel banget. Ah, Andra."
"Bukan keduanya, Mi. Lagian Mas bukan mau kondangan kok."
"Lah terus ke mana?"
Rado terdiam sejenak, bola matanya memutar, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk dikatakan pada Mamanya.
'Yang bener aja, masa gue harus jujur ke Umi kalo gue pergi undangan makan malam orangtua gebetan? Yang ada bisa panjang nih diinterogasi dulu.', ujarnya membatin.
Tak lama sebuah 'panggilan' menyelamatkan Rado. Brietta menelpon di saat yang tepat.
"Umi, Mas berangkat dulu ya. Ini udah ditungguin temen.", Rado meraih tangan Mamanya dan mengecupnya lembut.
"Emang mau ke mana sih, ah? Umi penasaran ini, Mas."
"Nanti aja kalo udah balik Mas ceritanya. Oke, Mi? Assalamualaikum."
Dengan cepat Rado mengambil kunci motor dan jaketnya, melesat cepat ke rumah Brietta dengan perasaan campuraduk. Panik, takut, gugup, tapi ada senangnya juga.
'Gue harus tenang, gue harus tenang', sepanjang perjalanan Rado hanya bisa berusaha menenangkan dirinya sendiri.
*
"Jadi ini yang namanya Rado?", tanya Papa Brietta dengan senyum ramah.
Rado mengangguk, canggung. "Iya, Om."
"Sudah lama kenal sama Brietta?",
"Iya lumayan lama, Om. Dari kuliah semester awal."
"Satu jurusan?"
"Engga, Om. Saya masuk teknik mesin."
Rado berkali menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Rasa tegang dan canggung begitu menyelimutinya. Brietta yang duduk disampingnya berkali memberi 'kode' agar dia tidak terlihat gugup, tapi tetap saja Rado sulit untuk menyembunyikan perasaannya.
"Nah, Nak Rado, ini masakan favorit keluarga kami, ikan cakalang bakar. Cobain deh. Nak Rado bisa makan kalo yang ini kan?", tanya Mama Brietta. Spontan Brietta mendelik ke arah Mamanya.
"Ma..", bisik Brietta seraya memberi kode agar jangan mengungkit soal bisa atau tidak Rado memakan masakannya. Namun Mamanya pura-pura tidak melihatnya.
Rado berdehem, "Iya bisa, Tante. Kebetulan saya juga suka makan ikan bakar, kok."
"Ikan apa aja yang bisa kamu makan? Biar lain kali Tante masakin."
"Apa aja bisa saya makan selagi masih lazim buat dimakan, Tante. Semua yang ada di laut boleh dikonsumsi kok sebenernya."
Mulut Mama dan Papa Brietta kompak membulat, "Oohh..."
"Nahh, berarti gampang kan kalo gitu. Ayo, ayo silahkan dimakan, dinikmati hidangannya.", ucap Mama Brietta lagi.
"Enak banget, Tante. Gurih dan sedikit pedas juga, saya suka.", ucap Rado begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
Mama Brietta terlihat senang dengan ungkapan Rado.
"Jadi..", Papa Brietta tiba-tiba memandang serius ke arah Rado. "Kamu mau bagaimana dengan anak Om?"
Kontan saja Rado tercekat kaget, nyaris saja disemburkannya nasi yang baru masuk ke dalam mulutnya. Dia terbatuk-batuk, tersedak.
"Pa..", Brietta berbisik pada Papanya. "Bisa ngga jangan bahas soal itu dulu. Kita nikmatin makan malamnya aja dulu, Pa."
"Loh, kan enak kalau makan sambil ngobrol, Bri. Yang penting dikunyah dulu makanannya, ditelan, baru bisa ngobrol.", Brietta hanya menggeleng heran mendengar jawaban nyeleneh dari Papanya.
'Di mana-mana yang namanya makan kan ngga boleh sambil ngobrol. Gimana sih ini orangtua?', batin Brietta kesal.
"Jadi gimana Nak Rado? Kamu sebenarnya sedekat apa sama Brietta?", susul Mama Brietta dengan raut wajah penuh binar penasaran.
Rado menelan ludahnya yang mendadak begitu pahit terasa.
"Saya..Saya sama Brietta cuma teman dekat, Om Tante. Ngga ada hubungan lebih dari itu.", jawab Rado senatural mungkin. Padahal hatinya begitu tidak menentu karena dia sendiripun tidak tahu akan bagaimana dan akan diapakan hubungannya ini dengan Brietta.
"Cuma teman dekat?", ulang Papa Brietta tak yakin.
"Iya, seperti layaknya teman biasa, cuma sedikit lebih dekat. Tapi cuma dekat dalam artian akrab kok, ngga lebih dari itu."
"Kamu suka ngga sama Brietta?", tanya Mama Brietta to the point.
Rado terhenyak, Brietta lebih terlihat kaget.
"A-anu.. Saya..", mendadak Rado terbata. Dipandanginya wajah Brietta yang juga telihat gugup.
Kembali Rado menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
"Iya, saya suka sama Brietta."
Rado seketika ingat awal pertama kali dia melihat Brietta di kampus. Saat itu di koridor dia dan kedua temannya sedang berjalan santai sambil bergurau, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Seorang gadis berwajah oriental dengan postur langsing dan tinggi semampai. Rado hanya tertegun memandangnya sampai tidak menggubris ucapan 'maaf'' dari gadis itu yang kemudian buru-buru lari meninggalkannya yang termangu dan terpesona.
Rado berani menyebutnya sebagai Cinta Pada Pandangan Pertama.
"Saya sudah memendam rasa sama Brietta sejak pertama kali bertemu, Tante, Om.", ungkap Rado jujur. Entah kenapa tiba-tiba ada hasrat yang memaksanya untuk jujur seperti ini, ada bisikan kuat yang mendorongnya untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Dan Rado tidak bisa memungkiri, dia lega setelah mengucapkannya.
Brietta tertegun, dia sebenarnya sudah sadar sejak lama soal perasaan Rado terhadapnya. Brietta tahu kalau Rado menyukainya, bahkan sebenarnya perasaan Brietta terhadapnya juga tak biasa. Hanya saja Brietta tahu, bahwa mereka tidak akan berhasil. Mungkin.
Papa Brietta mengangguk mengerti, "Om menghargai perasaan kamu terhadap Brietta. Om juga senang karena Brietta disukai oleh laki-laki yang baik seperti kamu. Tapi kamu tahu sendiri kan, Brietta, keluarga kami dengan kamu itu berbeda.",
Rado mengangguk pelan. Mendadak telinganya sakit mendengar kalimat barusan.
"Tante sama Om cuma mau yang terbaik buat Brietta. Jujur saja Tante suka sama Rado, karena Tante lihat Rado anak yang baik dan sopan. Tapi kami sepakat untuk mencegah kalian agar tidak lebih jauh lagi."
Rado tercekat mendengar ucapan Mama Brietta yang blak-blakan seperti itu. Dia sama sekali tidak menyiapkan mental untuk mendengar hal seperti ini.
"Ma, Pa, kan tadi Rado udah bilang kalau kami cuma teman dekat, ngga lebih dari itu. Soal perasaannya terhadap Brietta juga cuma rasa suka sebagai teman kok. Kami sama sekali ngga kepikiran soal yang lebih dari itu.", Brietta tidak mau tinggal diam. Mau tak mau dia harus 'menyelamatkan' Rado dengan cara seperti ini.
"Kamu sendiri bagaimana dengan Rado? Maksud Papa, perasaan kamu?", tanya Papa Brietta.
Kembali Brietta tertegun. Diapun sendiri tidak begitu paham dengan apa yang dirasakannya pada Rado.
"Aku cuma nganggap dia teman biasa, Pa."
Rado merasa matanya panas. Entah karena sebab apa. Tapi yang dirasakannya hanyalah perasaan yang sakit luar biasa.
to be continued..
"Kenapa ngga ada yang cocok? Ngga ada yang pas? Gue harus pakai apaan, anjrit!", keluh Rado, panik. Dia melihat ke arah jam dinding di kamarnya, jarum jam berjalan tanpa iba makin membuatnya pusing tujuh keliling.
"Oke, ini aja!", ucapnya mantap mengambil keputusan. Diambilnya kemeja batik warna beige yang dipadukannya dengan blue jeans kesukaannya.
Rado tersenyum seraya menganggukan kepalanya berkal-kali. "Gue oke, gue keren, gue kharismatik!", gumamnya sambil melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.
Krieett! Rado tersentak begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Mas mau ke mana? Kondangan?", tanya Mamanya heran melihat Rado begitu tumben berpakaian rapi.Di mata Mamanya, Rado hanya akan berpakaian rapi jika hendak pergi ke pengajian, Masjid, atau kondangan saja. Selain itu, dia akan memakai baju seadanya, bahkan cenderung berantakan dan tidak pernah matching.
"Eh tapi itu harusnya jangan pakai celana jin dong, pakai celana bahan warna hitam biar lebih pas.", tunjuk Mamanya yang disambut gelengan dari Rado.
"Umi, Mas lagi buru-buru. Kayak gini aja deh ya, kan udah bagus juga."
"Emang temen Mas yang nikahan yang mana? Baim atau siapa itu yang bandel banget. Ah, Andra."
"Bukan keduanya, Mi. Lagian Mas bukan mau kondangan kok."
"Lah terus ke mana?"
Rado terdiam sejenak, bola matanya memutar, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk dikatakan pada Mamanya.
'Yang bener aja, masa gue harus jujur ke Umi kalo gue pergi undangan makan malam orangtua gebetan? Yang ada bisa panjang nih diinterogasi dulu.', ujarnya membatin.
Tak lama sebuah 'panggilan' menyelamatkan Rado. Brietta menelpon di saat yang tepat.
"Umi, Mas berangkat dulu ya. Ini udah ditungguin temen.", Rado meraih tangan Mamanya dan mengecupnya lembut.
"Emang mau ke mana sih, ah? Umi penasaran ini, Mas."
"Nanti aja kalo udah balik Mas ceritanya. Oke, Mi? Assalamualaikum."
Dengan cepat Rado mengambil kunci motor dan jaketnya, melesat cepat ke rumah Brietta dengan perasaan campuraduk. Panik, takut, gugup, tapi ada senangnya juga.
'Gue harus tenang, gue harus tenang', sepanjang perjalanan Rado hanya bisa berusaha menenangkan dirinya sendiri.
*
"Jadi ini yang namanya Rado?", tanya Papa Brietta dengan senyum ramah.
Rado mengangguk, canggung. "Iya, Om."
"Sudah lama kenal sama Brietta?",
"Iya lumayan lama, Om. Dari kuliah semester awal."
"Satu jurusan?"
"Engga, Om. Saya masuk teknik mesin."
Rado berkali menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Rasa tegang dan canggung begitu menyelimutinya. Brietta yang duduk disampingnya berkali memberi 'kode' agar dia tidak terlihat gugup, tapi tetap saja Rado sulit untuk menyembunyikan perasaannya.
"Nah, Nak Rado, ini masakan favorit keluarga kami, ikan cakalang bakar. Cobain deh. Nak Rado bisa makan kalo yang ini kan?", tanya Mama Brietta. Spontan Brietta mendelik ke arah Mamanya.
"Ma..", bisik Brietta seraya memberi kode agar jangan mengungkit soal bisa atau tidak Rado memakan masakannya. Namun Mamanya pura-pura tidak melihatnya.
Rado berdehem, "Iya bisa, Tante. Kebetulan saya juga suka makan ikan bakar, kok."
"Ikan apa aja yang bisa kamu makan? Biar lain kali Tante masakin."
"Apa aja bisa saya makan selagi masih lazim buat dimakan, Tante. Semua yang ada di laut boleh dikonsumsi kok sebenernya."
Mulut Mama dan Papa Brietta kompak membulat, "Oohh..."
"Nahh, berarti gampang kan kalo gitu. Ayo, ayo silahkan dimakan, dinikmati hidangannya.", ucap Mama Brietta lagi.
"Enak banget, Tante. Gurih dan sedikit pedas juga, saya suka.", ucap Rado begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
Mama Brietta terlihat senang dengan ungkapan Rado.
"Jadi..", Papa Brietta tiba-tiba memandang serius ke arah Rado. "Kamu mau bagaimana dengan anak Om?"
Kontan saja Rado tercekat kaget, nyaris saja disemburkannya nasi yang baru masuk ke dalam mulutnya. Dia terbatuk-batuk, tersedak.
"Pa..", Brietta berbisik pada Papanya. "Bisa ngga jangan bahas soal itu dulu. Kita nikmatin makan malamnya aja dulu, Pa."
"Loh, kan enak kalau makan sambil ngobrol, Bri. Yang penting dikunyah dulu makanannya, ditelan, baru bisa ngobrol.", Brietta hanya menggeleng heran mendengar jawaban nyeleneh dari Papanya.
'Di mana-mana yang namanya makan kan ngga boleh sambil ngobrol. Gimana sih ini orangtua?', batin Brietta kesal.
"Jadi gimana Nak Rado? Kamu sebenarnya sedekat apa sama Brietta?", susul Mama Brietta dengan raut wajah penuh binar penasaran.
Rado menelan ludahnya yang mendadak begitu pahit terasa.
"Saya..Saya sama Brietta cuma teman dekat, Om Tante. Ngga ada hubungan lebih dari itu.", jawab Rado senatural mungkin. Padahal hatinya begitu tidak menentu karena dia sendiripun tidak tahu akan bagaimana dan akan diapakan hubungannya ini dengan Brietta.
"Cuma teman dekat?", ulang Papa Brietta tak yakin.
"Iya, seperti layaknya teman biasa, cuma sedikit lebih dekat. Tapi cuma dekat dalam artian akrab kok, ngga lebih dari itu."
"Kamu suka ngga sama Brietta?", tanya Mama Brietta to the point.
Rado terhenyak, Brietta lebih terlihat kaget.
"A-anu.. Saya..", mendadak Rado terbata. Dipandanginya wajah Brietta yang juga telihat gugup.
Kembali Rado menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
"Iya, saya suka sama Brietta."
Rado seketika ingat awal pertama kali dia melihat Brietta di kampus. Saat itu di koridor dia dan kedua temannya sedang berjalan santai sambil bergurau, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Seorang gadis berwajah oriental dengan postur langsing dan tinggi semampai. Rado hanya tertegun memandangnya sampai tidak menggubris ucapan 'maaf'' dari gadis itu yang kemudian buru-buru lari meninggalkannya yang termangu dan terpesona.
Rado berani menyebutnya sebagai Cinta Pada Pandangan Pertama.
"Saya sudah memendam rasa sama Brietta sejak pertama kali bertemu, Tante, Om.", ungkap Rado jujur. Entah kenapa tiba-tiba ada hasrat yang memaksanya untuk jujur seperti ini, ada bisikan kuat yang mendorongnya untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Dan Rado tidak bisa memungkiri, dia lega setelah mengucapkannya.
Brietta tertegun, dia sebenarnya sudah sadar sejak lama soal perasaan Rado terhadapnya. Brietta tahu kalau Rado menyukainya, bahkan sebenarnya perasaan Brietta terhadapnya juga tak biasa. Hanya saja Brietta tahu, bahwa mereka tidak akan berhasil. Mungkin.
Papa Brietta mengangguk mengerti, "Om menghargai perasaan kamu terhadap Brietta. Om juga senang karena Brietta disukai oleh laki-laki yang baik seperti kamu. Tapi kamu tahu sendiri kan, Brietta, keluarga kami dengan kamu itu berbeda.",
Rado mengangguk pelan. Mendadak telinganya sakit mendengar kalimat barusan.
"Tante sama Om cuma mau yang terbaik buat Brietta. Jujur saja Tante suka sama Rado, karena Tante lihat Rado anak yang baik dan sopan. Tapi kami sepakat untuk mencegah kalian agar tidak lebih jauh lagi."
Rado tercekat mendengar ucapan Mama Brietta yang blak-blakan seperti itu. Dia sama sekali tidak menyiapkan mental untuk mendengar hal seperti ini.
"Ma, Pa, kan tadi Rado udah bilang kalau kami cuma teman dekat, ngga lebih dari itu. Soal perasaannya terhadap Brietta juga cuma rasa suka sebagai teman kok. Kami sama sekali ngga kepikiran soal yang lebih dari itu.", Brietta tidak mau tinggal diam. Mau tak mau dia harus 'menyelamatkan' Rado dengan cara seperti ini.
"Kamu sendiri bagaimana dengan Rado? Maksud Papa, perasaan kamu?", tanya Papa Brietta.
Kembali Brietta tertegun. Diapun sendiri tidak begitu paham dengan apa yang dirasakannya pada Rado.
"Aku cuma nganggap dia teman biasa, Pa."
Rado merasa matanya panas. Entah karena sebab apa. Tapi yang dirasakannya hanyalah perasaan yang sakit luar biasa.
to be continued..
Rabu, 15 Februari 2017
Tell Me Why (part 6)
Mataku tertuju pada layar ponselku. Lima belas panggilan tak terjawab. Aku menghela napas pendek. Apakah aku pantas mengabaikannya seperti ini? Apakah tidak terlihat kekanakan? Ah sudahlah.
Aku menutup wajahku dengan bantal, berusaha untuk tidur. Namun sebuah ketukan pintu mengurungkan niatku.
"Siapa?", tanyaku dengan nada malas.
"Gue, Bang.", suara Mail, adikku menyahut.
Ah, paling dia mau mengambil stik PS yang kupinjam semalam. "Masuk aja, gak dikunci."
Begitu dia masuk, dia tak langsung mengambil stik PSnya, dia malah menghampiriku ke tempat tidur.
"Bang.."
"Apaan? Gue mau tidur ah, tuh stik lo di atas meja."
"Tau ngga sih lo kalo lo dicariin mulu sama Namira?"
Aku tersentak, sedikit terkejut. "Ngapain dia nyariin gue?",
"Ya mana gue tau. Lagian lo beberapa hari ini kayak lagi main kucing-kucingan sama dia. Kenapa lagi sih lo?"
"Ngga kenapa-napa. Udah ah sana lo ganggu gue mau tidur aja", aku berusaha mengusir Mail.
Tangan Mail merebut bantalku secara kilat. "Putus ya lo berdua?"
Aku mendengus. Itu sebuah pertanyaan retoris, Adikku.
"Siapa yang mutusin?", Mail mulai bawel, "Dia ya?"
"Gue", jawabku singkat.
Mail diam, dia memandangku dengan dahi berkerut.
"Ke mana perginya semua cinta yang selalu lo utarakan itu, ha?"
"Apaan sih lo? Kenapa jadi sok puitis begitu ngomongnya? Baru aja main drama, lo?", aku terkikik pelan mendengar celotehan Mail, adik sematawayangku yang baru duduk di kelas 2 SMA itu.
"Jawab gue, Bang!"
"Gue putus bukan berarti udah ngga cinta lagi, Nyet. Ada banyak alasan."
Mail mencibir, "Aneh lo. Dulu aja pas ditanya kenapa bisa suka sama Namira lo bilang ngga perlu alasan buat suka sama seseorang. Eh pas udah putus aja baru ada alasannya. Ngga jelas emang lo pada."
Aku tertegun. Kenapa aku merasa ucapannya terdengar begitu tepat?
"Bang, gue juga baru putus sama cewek gue.."
"Lo putus lagi?", aku melotot. "Buset dah! Sebulan lo ganti pacar berapa kali, Ismail?!"
Mail menepis tanganku yang memegang bahunya. "Bukan saatnya bahas soal gue. Kita kan lagi ngomongin soal lo!"
"Iya oke, terus kenapa?"
"Gue akhirnya nyesel Bang, kenapa gue biarin dia mutusin gue. Harusnya gue pertahanin orang kayak dia, yang baik, sabar dan sayang banget sama gue. Tapi malah gue nyia-nyiain dia."
"Jadi lo yang diputusin?"
"Deandra itu Bang, baik banget orangnya, cantik, banyak yang suka sama dia, banyak yang ngejar-ngejar dia dan cari perhatian dia. Tapi dia malah milih gue yang nilai matematika sama fisikanya aja selalu masuk bottom three."
Aku menahan tawa saat dia menyebut dua kata terakhir.
"Dia mutusin gue karena dia bilang gue ngga bener-bener sayang sama dia, Bang. Padahal gue aslinya sayang, cuma gue ngga tau aja gimana cara buat nunjukinnya. Lo tau kan Bang kalo gue orangnya rada kaku kalo sama cewe?"
"Rada kaku tapi bisa gampang dapetin cewe dalam jangka waktu yang singkat. Pake jurus apaan lo?"
"Anjrit jangan ngalihin issue dulu ah! Itu karena gue emang kharismatik di mata cewe-cewe, Bang."
"Tapi aslinya lo cuma anak manja cengeng."
"Kenapa malah jadi ngomongin gue?", Mail meninju bahuku cukup keras.
"Okay okay! Set dah, sakit, Nyet!"
"Gue sekarang mau memperbaiki hubungan gue sama Deandra, Bang. Gue sadar kalo dia emang yang terbaik buat gue."
Aku mendengus. "Yakin bener kedengarannya. Tau dari mana lo kalo dialah yang terbaik buat lo?"
Mail mengangkat bahunya, "Gue sih cuma ikutin kata hati aja. Lagian selagi ada yang kelihatan tulus sayang sama gue kenapa ngga gue pertahanin? Gue cuma takut ngga ada lagi yang kayak dia, Bang."
Gue takut ngga ada lagi yang kayak dia.
Kalimat itu terkunci otomatis dalam otakku. Kembali aku menghela napas.
"Tapi hubungan gue sama Namira ngga sesimpel itu. Kami udah sama-sama dewasa, harus lebih mikir jauh ke depan. Kalau salah satu di antara kami ada yang ngga serius dengan itu, buat apa terus diupayakan agar terus bersama? Bukannya itu jadi sesuatu yang sia-sia doang?"
"Serumit apa sih sebenarnya? Dia udah ngga suka sama lo lagi?"
"Mail, ini bukan soal perasaan gue ke dia gimana atau dia ke gue gimana. Ini soal kelanjutan hubungan gue sama dia. Mau diapain nih hubungan kalau Namira diajak nikah aja ngga mau?"
Mail mendelik kaget, "Dia ngga mau nikah sama lo maksudnya? Terus dia maunya sama siapa?"
Aku menepuk dahiku sendiri. Kupikir Mail sudah cukup dewasa untuk umurnya yang sudah menginjak 17 tahun, tapi ternyata dia masih sepolos anak SD.
"Dia ngga suka sama yang namanya komitmen. Intinya, dia ngga tertark buat nikah. Dengan siapapun. Termasuk gue."
Mail tertegun, "Kok separah itu sih, Bang? Dia normal nggak sih jadi cewek?"
"Ya normal lah, cuma jalan pikirannya aja yang sedikit abnormal. Gue juga masih ngga ngerti sama dia padahal udah bertahun-tahun kenal. Meski lo kenal sama orang begitu lama, bukan berarti lo bisa tau segalanya, bahkan segala apapun yang dia pikirin. Lo belum tentu bisa mengerti."
"Tapi lo masih sayang dia kan, Bang?"
Lagi-lagi sebuah pertanyaan retoris.
"Apa masih perlu gue jawab?"
*
"Jangaaannn!", Rado merebut kotak Marlboro yang baru mau aku ambil.
"Kenapa sih? Bagi dikit kali, ah."
"Lo tuh yang kenapa?", Andra menepuk bahuku pelan, "Kenapa lo jadi demen ngerokok lagi? Dan kenapa lo putus sama Namira?"
"Gue cuma iseng.", jawabku ringan.
"Alasannya gitu mulu, lo." Rado memantik rokoknya. "Stres berat lo ya ngurusin Namira?"
"Dia beneran ngga mau diajak nikah, Men. Udah mentok nih gue, buntu banget pikiran rasanya.", ucapku sambil berusaha mengambil kotak rokok yang dimonopoli Rado.
"Bangke! Jangan ah! Kalo mau beli sendiri sono!", Rado menepis tanganku kasar.
"Eeeh, para bujangan Mama malam Jumat bukannya Yaasinan malah ngerumpi sambil bakar-bakar ya?", suara Mama Rado muncul tiba-tiba. Sontak Rado melempar kotak rokoknya ke arah Andra. Andra yang terkejut dengan kemunculan Mama Rado kontan menyembunyikan kaleng Bintang di belakang punggungnya. Aku hanya berpura-pura tidak kaget dan memasang senyum canggung.
Kami bertiga salah tingkah.
"Malam, Tante. Baru pulang dari arisan ya?", sapaku, masih dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Kalian udah pada makan? Kebetulan Mama bawa bolu gulung nih, teman Mama yang bawain tadi.", ucapnya seraya menghampiri kami di teras belakang dengan sekotak bolu gulung ukuran besar.
"Oh, iya makasih Tante. Jadi ngerepotin.", ucap Andra sambil terus menyembunyikan kalengnya.
"Bolu ini cocok loh kalo dimakan sambil minum soda gila."
Aku tertegun, Rado memasang tampang kaget, Andra terlihat shock.
Istilah soda gila yang sering diucapkan Mama Rado berartikan minuman keras, bir, atau dalam hal ini, Bintang yang sedari tadi digenggam Andra.
"Anjrit!", seru Rado lantang seraya meninju lengan Andra begitu Mamanya masuk kembali ke dalam rumah. "Itu kaleng lo masih keliatan, bego! Lagian lo ngapain bawa bir ke rumah gue sih? Tau sendiri keluarga gue kayak gimana! Mereka tau gue masih ngerokok aja suka disewotin!", tukas Rado mengomel.
"Iya maaf maaf, kebiasaan gue nih. Lagian di rumah Baim biasanya aman-aman aja.", Andra ngeles.
"Beda rumah beda aturan, nyet!"
"Lo juga sih, Ndra, masih aja kebiasaan ngebir. Ketauan Nyokapnya Ghina mampus lo.", timpalku.
"Ah ini buat pengusir stres gue aja, Im. Pusing gue mikirin maunya Ghina. Ngga beda kan sama lo yang pusing sama Namira?"
"Beda, Jing! Baim ngga minum kayak lo, ya!", Rado masih sewot.
"Udah-udah ah. Iya gue salah, gue minta maaf. Oke, pren?", Andra memberi V Sign pada Rado.
"Lo sendiri gimana sama Brietta, Do?", tanyaku
Rado menghela napas pelan, "Gue diajakin makan malam di rumah Brietta, Im. Belum siap mental gue."
Sontak aku dan Andra mendelik kaget.
"Udah mau seriusan aja lo sama dia?", Andra terkikik pelan.
"Wah, udah ada kemajuan pesat nih." timpalku
"Kemajuan biji lo! Ini gue takut bakal diapa-apain sama keluarga dia tau, bisa mampus gue di sana!"
"Lo suruh pindah agama jangan-jangan?", Andra usil menakut-nakuti.
Tanpa babibu lagi sebuah tinju keras dari Rado melayang mengenai paha Andra.
to be contiued..
Aku menutup wajahku dengan bantal, berusaha untuk tidur. Namun sebuah ketukan pintu mengurungkan niatku.
"Siapa?", tanyaku dengan nada malas.
"Gue, Bang.", suara Mail, adikku menyahut.
Ah, paling dia mau mengambil stik PS yang kupinjam semalam. "Masuk aja, gak dikunci."
Begitu dia masuk, dia tak langsung mengambil stik PSnya, dia malah menghampiriku ke tempat tidur.
"Bang.."
"Apaan? Gue mau tidur ah, tuh stik lo di atas meja."
"Tau ngga sih lo kalo lo dicariin mulu sama Namira?"
Aku tersentak, sedikit terkejut. "Ngapain dia nyariin gue?",
"Ya mana gue tau. Lagian lo beberapa hari ini kayak lagi main kucing-kucingan sama dia. Kenapa lagi sih lo?"
"Ngga kenapa-napa. Udah ah sana lo ganggu gue mau tidur aja", aku berusaha mengusir Mail.
Tangan Mail merebut bantalku secara kilat. "Putus ya lo berdua?"
Aku mendengus. Itu sebuah pertanyaan retoris, Adikku.
"Siapa yang mutusin?", Mail mulai bawel, "Dia ya?"
"Gue", jawabku singkat.
Mail diam, dia memandangku dengan dahi berkerut.
"Ke mana perginya semua cinta yang selalu lo utarakan itu, ha?"
"Apaan sih lo? Kenapa jadi sok puitis begitu ngomongnya? Baru aja main drama, lo?", aku terkikik pelan mendengar celotehan Mail, adik sematawayangku yang baru duduk di kelas 2 SMA itu.
"Jawab gue, Bang!"
"Gue putus bukan berarti udah ngga cinta lagi, Nyet. Ada banyak alasan."
Mail mencibir, "Aneh lo. Dulu aja pas ditanya kenapa bisa suka sama Namira lo bilang ngga perlu alasan buat suka sama seseorang. Eh pas udah putus aja baru ada alasannya. Ngga jelas emang lo pada."
Aku tertegun. Kenapa aku merasa ucapannya terdengar begitu tepat?
"Bang, gue juga baru putus sama cewek gue.."
"Lo putus lagi?", aku melotot. "Buset dah! Sebulan lo ganti pacar berapa kali, Ismail?!"
Mail menepis tanganku yang memegang bahunya. "Bukan saatnya bahas soal gue. Kita kan lagi ngomongin soal lo!"
"Iya oke, terus kenapa?"
"Gue akhirnya nyesel Bang, kenapa gue biarin dia mutusin gue. Harusnya gue pertahanin orang kayak dia, yang baik, sabar dan sayang banget sama gue. Tapi malah gue nyia-nyiain dia."
"Jadi lo yang diputusin?"
"Deandra itu Bang, baik banget orangnya, cantik, banyak yang suka sama dia, banyak yang ngejar-ngejar dia dan cari perhatian dia. Tapi dia malah milih gue yang nilai matematika sama fisikanya aja selalu masuk bottom three."
Aku menahan tawa saat dia menyebut dua kata terakhir.
"Dia mutusin gue karena dia bilang gue ngga bener-bener sayang sama dia, Bang. Padahal gue aslinya sayang, cuma gue ngga tau aja gimana cara buat nunjukinnya. Lo tau kan Bang kalo gue orangnya rada kaku kalo sama cewe?"
"Rada kaku tapi bisa gampang dapetin cewe dalam jangka waktu yang singkat. Pake jurus apaan lo?"
"Anjrit jangan ngalihin issue dulu ah! Itu karena gue emang kharismatik di mata cewe-cewe, Bang."
"Tapi aslinya lo cuma anak manja cengeng."
"Kenapa malah jadi ngomongin gue?", Mail meninju bahuku cukup keras.
"Okay okay! Set dah, sakit, Nyet!"
"Gue sekarang mau memperbaiki hubungan gue sama Deandra, Bang. Gue sadar kalo dia emang yang terbaik buat gue."
Aku mendengus. "Yakin bener kedengarannya. Tau dari mana lo kalo dialah yang terbaik buat lo?"
Mail mengangkat bahunya, "Gue sih cuma ikutin kata hati aja. Lagian selagi ada yang kelihatan tulus sayang sama gue kenapa ngga gue pertahanin? Gue cuma takut ngga ada lagi yang kayak dia, Bang."
Gue takut ngga ada lagi yang kayak dia.
Kalimat itu terkunci otomatis dalam otakku. Kembali aku menghela napas.
"Tapi hubungan gue sama Namira ngga sesimpel itu. Kami udah sama-sama dewasa, harus lebih mikir jauh ke depan. Kalau salah satu di antara kami ada yang ngga serius dengan itu, buat apa terus diupayakan agar terus bersama? Bukannya itu jadi sesuatu yang sia-sia doang?"
"Serumit apa sih sebenarnya? Dia udah ngga suka sama lo lagi?"
"Mail, ini bukan soal perasaan gue ke dia gimana atau dia ke gue gimana. Ini soal kelanjutan hubungan gue sama dia. Mau diapain nih hubungan kalau Namira diajak nikah aja ngga mau?"
Mail mendelik kaget, "Dia ngga mau nikah sama lo maksudnya? Terus dia maunya sama siapa?"
Aku menepuk dahiku sendiri. Kupikir Mail sudah cukup dewasa untuk umurnya yang sudah menginjak 17 tahun, tapi ternyata dia masih sepolos anak SD.
"Dia ngga suka sama yang namanya komitmen. Intinya, dia ngga tertark buat nikah. Dengan siapapun. Termasuk gue."
Mail tertegun, "Kok separah itu sih, Bang? Dia normal nggak sih jadi cewek?"
"Ya normal lah, cuma jalan pikirannya aja yang sedikit abnormal. Gue juga masih ngga ngerti sama dia padahal udah bertahun-tahun kenal. Meski lo kenal sama orang begitu lama, bukan berarti lo bisa tau segalanya, bahkan segala apapun yang dia pikirin. Lo belum tentu bisa mengerti."
"Tapi lo masih sayang dia kan, Bang?"
Lagi-lagi sebuah pertanyaan retoris.
"Apa masih perlu gue jawab?"
*
"Jangaaannn!", Rado merebut kotak Marlboro yang baru mau aku ambil.
"Kenapa sih? Bagi dikit kali, ah."
"Lo tuh yang kenapa?", Andra menepuk bahuku pelan, "Kenapa lo jadi demen ngerokok lagi? Dan kenapa lo putus sama Namira?"
"Gue cuma iseng.", jawabku ringan.
"Alasannya gitu mulu, lo." Rado memantik rokoknya. "Stres berat lo ya ngurusin Namira?"
"Dia beneran ngga mau diajak nikah, Men. Udah mentok nih gue, buntu banget pikiran rasanya.", ucapku sambil berusaha mengambil kotak rokok yang dimonopoli Rado.
"Bangke! Jangan ah! Kalo mau beli sendiri sono!", Rado menepis tanganku kasar.
"Eeeh, para bujangan Mama malam Jumat bukannya Yaasinan malah ngerumpi sambil bakar-bakar ya?", suara Mama Rado muncul tiba-tiba. Sontak Rado melempar kotak rokoknya ke arah Andra. Andra yang terkejut dengan kemunculan Mama Rado kontan menyembunyikan kaleng Bintang di belakang punggungnya. Aku hanya berpura-pura tidak kaget dan memasang senyum canggung.
Kami bertiga salah tingkah.
"Malam, Tante. Baru pulang dari arisan ya?", sapaku, masih dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Kalian udah pada makan? Kebetulan Mama bawa bolu gulung nih, teman Mama yang bawain tadi.", ucapnya seraya menghampiri kami di teras belakang dengan sekotak bolu gulung ukuran besar.
"Oh, iya makasih Tante. Jadi ngerepotin.", ucap Andra sambil terus menyembunyikan kalengnya.
"Bolu ini cocok loh kalo dimakan sambil minum soda gila."
Aku tertegun, Rado memasang tampang kaget, Andra terlihat shock.
Istilah soda gila yang sering diucapkan Mama Rado berartikan minuman keras, bir, atau dalam hal ini, Bintang yang sedari tadi digenggam Andra.
"Anjrit!", seru Rado lantang seraya meninju lengan Andra begitu Mamanya masuk kembali ke dalam rumah. "Itu kaleng lo masih keliatan, bego! Lagian lo ngapain bawa bir ke rumah gue sih? Tau sendiri keluarga gue kayak gimana! Mereka tau gue masih ngerokok aja suka disewotin!", tukas Rado mengomel.
"Iya maaf maaf, kebiasaan gue nih. Lagian di rumah Baim biasanya aman-aman aja.", Andra ngeles.
"Beda rumah beda aturan, nyet!"
"Lo juga sih, Ndra, masih aja kebiasaan ngebir. Ketauan Nyokapnya Ghina mampus lo.", timpalku.
"Ah ini buat pengusir stres gue aja, Im. Pusing gue mikirin maunya Ghina. Ngga beda kan sama lo yang pusing sama Namira?"
"Beda, Jing! Baim ngga minum kayak lo, ya!", Rado masih sewot.
"Udah-udah ah. Iya gue salah, gue minta maaf. Oke, pren?", Andra memberi V Sign pada Rado.
"Lo sendiri gimana sama Brietta, Do?", tanyaku
Rado menghela napas pelan, "Gue diajakin makan malam di rumah Brietta, Im. Belum siap mental gue."
Sontak aku dan Andra mendelik kaget.
"Udah mau seriusan aja lo sama dia?", Andra terkikik pelan.
"Wah, udah ada kemajuan pesat nih." timpalku
"Kemajuan biji lo! Ini gue takut bakal diapa-apain sama keluarga dia tau, bisa mampus gue di sana!"
"Lo suruh pindah agama jangan-jangan?", Andra usil menakut-nakuti.
Tanpa babibu lagi sebuah tinju keras dari Rado melayang mengenai paha Andra.
to be contiued..
Langganan:
Postingan (Atom)