Tampilkan postingan dengan label Olla's Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olla's Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Sudah Waktunya Untuk Pindah



Dia menghilang lagi. Seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah.
Aku melirik handphone yang seharian ini tidak mengeluarkan bunyi apapun. Tidak ada notifikasi apapun, tidak ada pesan, tidak ada panggilan satupun. Tidak masalah sih, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Cuma yang sedikit membuatku gelisah adalah orang itu. Dia tidak lagi usil mengirimiku pesan. Sejak rencana pertemuan kami yang gagal itu, dia tidak lagi mengusikku dengan pesan singkatnya. Dia menghilang, seperti  yang sudah aku prediksikan sebelumnya dengan Riris.
“Pasti setelah ini dia bakalan ngilang lagi deh,” ucapku pada Riris di sela-sela mengerjakan artikel untuk aku post di blog pribadiku.
Riris yang tengah asyik menonton drama Korea di laptopnya langsung memalingkan wajahnya ke arahku dengan tatapan sebal, “Olla Mikhaila yang polosnya bukan main, bukannya kamu tau sendiri kalau dia emang selalu begitu sama kamu kan? Selalu, Olla. SELALU! Udah deh nggak usah sok ngeluh gitu”, ucap Riris ketus.
“Kenapa harus selalu begitu, ya? Kenapa dia bisa seenaknya bersikap begitu sama aku? kayak ngga ada rasa bersalahnya apa gimana gitu. Ya paling engga dia bilang ‘kita ketemunya lain kali  ya’ atau apa kek. Dia mah...”
“Kamu masih aja ngarepin dia? Ya ampun Olla..”, Riris menepuk dahinya sendiri seraya menggelengkan kepalanya.
“Bukan gitu, Ris. Cuma aku heran aja, dia kayak nggak ada inisiatif ngajakin ketemuan lagi apa gimana. Dia kok hobi banget nyiksa perasaan aku gini ya? Aku bingung deh, sebenarnya aku pernah berbuat jahat apa sih sama dia sampai dia setega ini sama aku?”
“Nah kan, mulai lagi dramanya. Udah lah, La. Kalau dia nggak ngabarin kamu lagi ya nggak usah diharapin lagi, nggak perlu kamu tunggu lagi. Jangan bikin nyesek perasaan kamu sendiri lah.”
“Aku begini karena aku masih pengen ketemu dia, Ris. Aku pengen banget ketemu Irham lagi”.
“Itu kan kamu yang pengen. Si Irhamnya sendiri pengen juga nggak? Realistis aja, kalau dia emang niat dan pengen ketemu kamu, pasti dia udah ngusahain buat ketemu. Tapi kamu lihat nyatanya kayak gimana, dia nggak bersungguh-sungguh dengan apa yang dia udah katakan sendiri.”
“Ya, dia malah ngilang lagi sekarang”, ucapku lesu.
“Nah, itu tau. Udahlah, masih banyak ada hal lain yang lebih penting buat kamu pikirin daripada kamu ngabisin waktu buat si Irham kunyuk itu.”
*
Jam dinding kafetaria menunjukan pukul 11 siang. Belum waktunya makan siang sih sebenarnya, tapi berhubung tidak ada mata kuliah pada jam segini, lebih baik aku nongkrong di kafetaria sambil menulis artikel untuk blog pribadiku yang lama tak terurus.
Di tengah aku menulis, aku merasa ada seseorang yang mendekati mejaku. Begitu aku menoleh..
“Hey, Olla. Lagi ngapain?”, sapanya dengan ramah diikuti senyumnya yang sumringah.
“Hey, Fabian. Lagi nulis-nulis aja nih buat blog”, sahutku seraya tersenyum.
Melihat Fabian berdiri di depanku begini aku jadi teringat kejadian sewaktu di rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Saat dia menyatakan perasaanya padaku dan memelukku dengan begitu hangat.
Seketika aku langsung berpikir, kenapa waktu itu aku tidak menerima perasaannya ya? Jika saja aku menerima perasaannya kemudian menjadi pacarnya, mungkin sekarang aku tidak perlu lagi pusing soal Irham yang datang dan menghilang seenaknya itu.
“Oh, temanya tentang apaan? Lihat dong, boleh ngga?”, Fabian mengambil kursi kemudian duduk di sebelahku. Tercium aroma parfumnya yang khas.
Mendadak aku merasa ada degupan kencang begitu kepala Fabian dan kepalaku saling bersentuhan pelan. Terlebih ketika desahan nafasnya yang terasa di pipiku.
Tunggu, aku tidak sedang gugup karena Fabian kan?
“Kamu baru kena PHP seseorang, La?”, tanya Fabian sambil matanya tak lepas dari layar laptopku.
“Ah, engga kok. Iseng aja nulis begituan, buat isi-isi blog doang”, jawabku sekenanya.
Fabian tidak menyahut, dia asyik membaca tulisanku yang baru setengah jadi sambil mengangguk sesekali. Tampangnya terlihat begitu serius. Dan jujur saja, melihatnya seperti itu membuat perasaanku membaik.
“Tulisan kamu bagus ya, simpel sih keliatannya tapi enak dibaca”, puji Fabian.
“Sori nih, aku nggak ada receh buat bayar gombalan kamu,” ujarku dengan nada bercanda. Fabian terkekeh pelan.
“Aku serius tau, tulisan kamu tuh cakep. Udah coba buat ngirim ke penerbit?”
Aku menggeleng, “Jangankan ke penerbit, ngirim buat majalah aja seringkali ditolak. Cuma di mading kampus doang nih yang langsung diterima terus dipajang.”, aku tersenyum kecut.
“Lah, kok nadanya pesimis gitu? Ya kamu coba lagi dong La, jangan berhenti berusaha.”
“Penginnya sih gitu, tapi gimana ya, rasanya udah capek aja berkali-kali ditolak. Apalagi ditolaknya dengan berbagai alasan, yang katanya monoton lah, yang katanya mainstream lah, klise lah, apa lah, ini lah, itu lah. Aku udah berkali ngirim cerpen dengan berbagai tema loh padahal, tapi tetep aja dapet alasan penolakan yang sama. Capek, ah.”, aku mengibaskan tangan di depan mukaku.
Fabian tersenyum simpul mendengar keluhanku.
“Kamu kok lucu gitu ya, La?”
“Hah?”
“Iya, lucu. Aku kira kamu orangnya selalu punya semangat, nggak gampang nyerah, penuh kerja keras dan punya rasa optimis tinggi. Tapi kayaknya perkiraan aku salah ya?”
Aku tertegun. Seketika bibirku terkunci, tidak bisa merespon ucapannya yang begitu menusuk hingga bagian organ terdalam.
“Aah, sorry sorry, omonganku terlalu sotoy ya? hehe, maaf La, nggak bermaksud menyinggung kok”, ucap Fabian begitu menyadari kediamanku yang cukup lama.
Aku menggeleng pelan, “Nggak, Yan. Kamu bener. Tapi dimana letak kelucuan yang kamu maksud?”
“Oh, itu. Kalau aku bilang sih, wajah kamu yang lucu. Menipu.”
“H-hah?”
“Sorry, tapi menurutku pribadi, wajah kamu itu wajah yang bisa menginspirasi. Tapi ternyata wajah kamu menipu, aslinya malah kamu orangnya gampang pesimis. Hehe, aku sotoy banget ya?”
DEG! Aku baru pertamakali menemui hinaan berbau pujian seperti itu. Menohok sekali.

“Aahh, ganti topik deh, ganti topik!”, aku mengalihkan pembicaraan. Fabian Cuma terkekeh sambil mendorong bahuku pelan.
Namun begitu aku hendak melanjutkan mengetik, tiba-tiba mataku menangkap sosok bayangan yang belakangan ini menghilang dan baru saat ini dia muncul lagi di kafetaria kampus. Lelaki tinggi berambut ikal yang akrab dengan jaket Adidas putih dan terkenal dengan senyumnya yang menawan ; Remy Anggara.
Tidak, tidak. Aku tidak sedang dalam keadaan ingin melihatnya, yang ada aku malah sudah tidak begitu peduli lagi tentang dia. Selama ini aku baik-baik saja meski tak melihatnya di kampus, aku bahkan tidak merasa rindu atau terbayang akan wajahnya. Ya, sekarang aku sungguh baik-baik saja, tanpa dia.
“Kamu ngeliatin siapa?”, tanya Fabian yang sepertinya mengamati arah pandanganku.
“Oh. Itu ada temenku”, jawabku seadanya.
“Siapa? Remy?”
Aku tersentak kaget. Fabian ini cenayang atau apa sih? Eh tunggu, kalau diingat, Fabian dan Remy kan berada dalam satu fakultas yang sama. Entah mereka satu kelas atau tidak.
“Kamu kenal sama dia?”, tanyaku dengan wajah dongo.
Fabian mengangguk, “Iya kenal. Bukan temen sekelas sih, cuma beberapa kali kami ketemu di acara seminar.”
Aku ber-Oh panjang.
“Kamu juga akrab sama Remy?”
“Yaa kalau dibilang akrab sih lumayan, dulu.”
“Dulu? Berarti sekarang udah nggak?” tanyanya. Uh, sepertinya Fabian mulai kepo.
Aku mengangguk.
“Kenapa? Kok bisa?”, tanya Fabian lagi. Dia benar-benar kepo ternyata.
“Aku juga nggak tau kenapa bisa begitu. Susah dijelasin deh”, jawabku sekenanya. Jujur saja aku malas menceritakan awal mula bagaimana aku bisa dekat dengan Remy hingga renggang seperti sekarang pada Fabian. Apa untungnya?
“Atau dulunya kalian ini pernah pacaran?”
Aku mendengus, “Pacaran? Boro-boro. Yang ada aku kena jebakan friendzone”, Okay, sekarang aku malah membuka aibku sendiri.
Fabian terbelalak, “Jadi kamu korban friendzone-nya Remy juga?”
Aku tertegun, “Barusan kamu bilang ‘juga’?”
“Iya, banyak teman cewekku yang kena juga. Nggak tau deh gimana ceritanya, tau-tau mereka heboh gitu kalau liat Remy.”
“Heboh?”
Fabian mengangguk, “Suka teriak gitu, ngedumel sendiri, katanya Remy itu PHP, tukang friendzone. Selidik punya selidik, Remy itu suka kalau ditaksir sama banyak cewek, makanya sikapnya seenaknya begitu sama yang suka sama dia. Kayak.. ”
“Semacam ngasih harapan tapi habis itu ditinggal gitu aja?”, potongku.
“Nah, persis!”
Alhamdulillah, aku tidak meneruskan perasaan (bodoh) itu.
“Ternyata begitu.”, aku mengangguk seraya meneguk lemon tea-ku.
“Ya begitulah, selain tenar diantara cewek-cewek fakultas hukum, dia juga terkenal tuh di fakultas teknik. Apalagi teknik sipil. Dan nggak aku sangka, kamu juga sempat suka sama dia”, ucap Fabian dengan nada meledek. Matanya seolah mengejekku ‘bodoh Lo! Olla bego!’
“Yan, kamu nggak lagi ngejek aku dalam hati kan?”
Fabian melongo, “Hah? Ngapain aku ngejek kamu, La?”
“Karena aku pernah naksir sama orang kayak dia.”
“Loh, apa salahnya naksir sama orang kayak dia? Buat urusan hati mah ngga ada yang salah kali, yang ada Cuma ‘nggak tepat waktu’.”
“Iya sih, kamu bener juga.”
“Eh, lanjutin nulisnya dong!”, Fabian menunjuk laptopku.
“Ah, iya bentar. Aku mau nengok facebook dulu.”
“Hah? Kamu masih main facebook? Kuno banget ih, dasar alay!”
Aku melotot tajam pada Fabian. Kontan dia mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Begitu aku membuka akun facebookku, yang terlihat pertamakali adalah sebuah status dari akun bernama..
“Irham..”, ucapku lirih.
Dan akhirnya dia muncul kembali. Bukan lewat pesan singkat, tapi muncul dalam linimasa akun facebookku. Entah aku harus menangis bahagia atau berteriak kesal melihatnya.
“Siapa tuh? Kamu kenal?”, tanya Fabian, mulai kepo lagi.
“Temen.”, jawabku singkat. Kali ini aku benar-benar enggan membahas pria bernama Irham Ramadhan itu.
“Dulunya dia anak band SMA bukan? Kayaknya aku juga pernah ketemu sama dia deh.”
OMAIGAT FABIAN! Siapa kamu ini sebenarnyaaa?! Kenapa semuanya kamu kenaal?! Sebuah kebetulan yang aneh.
Aku bertanya penuh antusias, “Hah? Kok tau? Kamu ketemu di mana?”
“Dulu dia di SMA 20 kan? Nama bandnya.. apa tuh ya? Lupa.”
“Veloz band.”
“Nah itu! Dulu dia pernah ngisi acara pensi SMA aku sama bandnya. Aku bahkan sempat kolaborasi sama dia.”
“Emang kamu bisa nyanyi?”
“Bukan jadi vokalis sih, tapi aku jago main drum loh,” kata Fabian, membanggakan dirinya.
“Gitu ya?”
“Dia mantan kamu?”
Good question, Fabian.
“Iya, mantan. Mantan gebetan,” jawabku lesu. “Ah udah ah, ngga usah bahas orang itu.”
“Dari cara pandang kamu ngeliat akun dia aja aku langsung tau kalau kamu menyimpan something, La. Ngga ada salahnya kan kalo kamu share ke aku?”
“Terus kalau aku udah share ke kamu, setelah itu apa?”
“Sebenarnya aku udah tau masalah kamu sama Irham dari Aldi dan Riris.”
Aku tercengang. Apa dia bilang? Aldi dan Riris? Ohh, bagus ya! Kenapa mereka mulutnya ember banget?!
“Nah itu kamu udah tau kan, terus ngapain aku ceritain lagi?”
Fabian menggeleng, “Aku memang tau, tapi akan lebih afdol aku dengar langsung dari si empunya kan?”
Aku menghela napas pendek.
“Intinya.. aku masih nggak bisa menyingkirkan segalanya tentang dia dari dalam otak sampai hati aku, Yan. Aku masih terlalu sayang sampai aku keliatan kayak orang bego begini. Ya, aku memang sempat suka sama beberapa orang, pernah pacaran pula. Tapi semuanya nggak bisa bikin aku lepas dari bayang-bayang seorang Irham. Sikap dia yang sering datang kemudian hilang semaunya bikin aku kacau sekacau-kacaunya. Mau lupain gimana kalau dia nggak menghilang secara total.”
“Kamu ngedoain dia mati?”
“Bukan gitu!”, duh ini Fabian kenapa malah ngelawak?
“Aku Cuma mau dia nggak muncul lagi dihadapan aku, aku bakal lebih tenang kalau dia nggak ngasih kabar. Iya sih, bakal kangen banget nantinya. Tapi itulah yang terbaik, kupikir.”
Fabian mengangguk mendengar curahan hatiku. Entah dia benar-benar mengerti atau Cuma sok mengerti.
“Belakangan aku tau kalau dia udah nggak punya pacar lagi. Dan dia beberapa kali ngasih kabar dan sempat ngajak ketemuan. Tapi ternyata cuma omong doang, karena akhirnya aku nggak ketemu dia sama sekali. Padahal aku kira kami bakal dekat lagi kayak dulu. Yah, mungkin aku aja yang terlalu banyak berharap”, aku tersenyum miris.
Fabian mengalihkan pandangannya ke laptopku, kemudian menggeser pointer dan mengklik sebuah foto.
“Kamu bilang dia udah putus, tapi kenapa yang aku lihat beda begini ya?”, tanya Fabian dengan nada retoris, begitu menunjukkan foto sepasang pria dan wanita dengan background pemandangan pantai lengkap dengan sunset-nya yang indah. Sebuah foto yang membuat perasaanku terganggu, sekaligus menegaskan alasan mengapa Irham tak lagi usil mengirimiku pesan. Pahit sekali. Namun mau tak mau harus aku telan dan rasakan. Karena bagaimanapun juga, Irham memiliki jalan hidupnya sendiri, dan aku tidak berhak mencampurinya dengan perasaan seperti ini.
Aku tersenyum, “Kayaknya dia udah berhasil pindah dengan cepat.”
Yang lebih tepat ingin aku katakan adalah, ‘ternyata kami memang tidak berjodoh.’
“Lalu gimana sama kamu?”, tanyanya lagi.
“Aku? Aku kenapa?”
“Kamu kapan pindah?”
Lagi, pertanyaan yang bagus dari Fabian. Saking bagusnya aku sampai tidak tau harus menjawab apa. Aku hanya merespon dengan senyum tipis.
Tanganku menggeser pointer ke bawah, melihat satu persatu status yang terpampang di linimasaku. Namun tak lama pandanganku kembali terhenti pada sebuah postingan foto.
“Siapa?”, Fabian mulai kepo lagi.
“Dia? Kamu kan bisa baca sendiri, namanya Odie Ananta.”, jawabku asal.
“Siapanya kamu?”
“Kenapa kamu jadi kepo banget?”
Fabian terkekeh. “Sorry..”
Aku menggeleng pelan. Kemudian kembali memandang foto itu dengan nanar. Sebuah foto sepasang kekasih yang memamerkan cincin putih di jari manis mereka masing-masing dengan senyum bahagia. Aku iri melihatnya, sungguh iri.
“Kamu pengin posting foto begitu juga?”
“Kenapa nanya begitu?”
“Ya habisnya kamu ngeliatnya penuh penghayatan banget sampai nggak berkedip begitu.”
“Hah? Masa?”
Fabian memandangku dengan tatapan penuh simpati. Apa aku begitu kasihan di matanya ya?
“Kamu juga harus segera pindah, La. Emang nggak capek stuck di satu tempat terus?”
“Capek lah. Tapi kan kamu tau, kalau pindah nggak semudah pengucapannya.”
“Ah, kata siapa? Buktinya nih..eh, bentar”, suara dering handphone terdengar dari kantong celana Fabian. Sepertinya ada sebuah pesan masuk. Mataku melihat ekspresi Fabian yang senang ketika membaca pesan-yang-entah-dari-siapa itu.
“La, lusa kamu kosong nggak?”
“Nggak tau, mungkin Cuma ada kelas pagi. Kenapa?”
“Ah, gini. Cewek aku ulang tahun, aku mau minta temenin kamu nyari kado buat dia. Bisa nggak?”
Aku tercengang. “H-hah? ‘Cewek’ kamu bilang?”, ulangku dengan nada setengah tidak percaya.
Fabian mengangguk mantap. “Iya, pacar aku. Baru semingguan ini jadian. Makanya, kamu cepat pindah dong! Masa kalah sama aku.”
Aku tertegun. Begitu mudahnya bagi orang lain untuk pindah secepat itu. Benar-benar membuat iri. Aku pun ingin bisa, tapi kenapa aku merasa begitu sulit?
“Okey, lusa jam 2 siang. Gimana?”
“Ah, oke kalau gitu.”
“Ya udah, kamu lanjutin nulisnya ya, pacar aku udah keluar kelas tuh. Jangan lupa, buruan pindah ya!”, ucap Fabian dengan senyum lebar. Kemudian berlari meninggalkan aku yang termangu di kafetaria kampus.
Dia terlihat begitu gembira. Aku iri. Aku iri kepada mereka yang berhasil pindah dengan mudahnya.
*
TUNG!!
Sebuah notifikasi BBM muncul dari layar handphoneku. Ternyata sebuah ‘undangan’ pertemanan.
Aku tercenung membaca nama si pengundang itu.

Ariel Damar Suryo

Siapa tuh? Kayaknya aku nggak punya teman bernama Ariel Damar Suryo. Abaikan saja lah, toh aku hanya menerima ‘undangan’ dari orang yang benar-benar aku kenal. Malas rasanya kalau menyimpan kontak seseorang yang tidak aku kenal, bisa jadi aku kena penipuan atau pelecehan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Aku sudah menerka kalau itu adalah Riris yang datang karena ingin numpang mandi.
“Woy, air lancar nggak?”
Tuh kan.
“Iya lancar. Air di kosanmu kenapa lagi, Ris?”
“Biasa, masalah pada pipa air PDAM. Kalau begini terus aku mendingan pindah kos aja deh.”, jawab Riris sambil mencari handuk dalam lemariku. Sudah jadi kebiasaan Riris kalau numpang mandi hanya membawa pakaian ganti saja. Urusan sabun, shampo, pasta gigi sampai handuk, semuanya dia ‘pinjam’ dariku. Ya, dia memang cewek yang nggak modal.
“Eh, aku udah cerita tentang Ariel belum sama kamu? Dia udah invite kamu kan?”
Ariel? Ohh jadi ini kerjaannya si kampret ini lagii?!
“Udah. Dia siapa sih?”
“Sepupunya Aldi. Cakep loh orangnya. Bisa main musik, suaranya juga dahsyat loh.”
“Dari mana kamu tau?”
“Tempo hari kami karaokean bareng. Waktu itu kamu aku ajakin malah molor!”
Oohh, lima hari lalu itu ya? Iya sih, aku lebih memilih tidur setelah menghadiri seminar penulisan yang bukannya memberi pencerahan malah menyebar virus kantuk luar biasa.
Accept aja, La. Aku jamin dia nggak bakal bosenin deh orangnya. Di mana lagi kamu bisa kenal sama cowok cakep bersuara merdu yang jago hampir semua alat musik dan juga ternyata bisa masak kayak chef chef yang di tivi itu, La! Di mana lagi coba?!”, kata Riris dengan penuh energi. Aku melihatnya sambil membayangkan ada api berkobar di atas kepalanya.
“Kenapa kamu ngotot gitu sih?”
Riris mendengus, kemudian melemparku dengan handuk. “Ini anak nggak pernah ada ngertinya juga ya? Ya biar kamu dapet pacar lah, Olla! Sampai kapan mau stuck sama Irham terus, hah?”
Aku tertegun.
Jadi harus segera pindah ya?
*
Mataku memandang sekeliling. Mana dia? Sudah sepuluh menit berlalu sejak jarum pendek menunjuk angka 3. Okay Olla, sabar saja. Kamu udah terbiasa buat menunggu kan? Aku menghibur diriku sendiri.
Tak lama ada sebuah colekan di bahuku. Nah, dia datang juga akhirnya.
“Sorry, tadi susah nyari tempat parkiran. Kalau weekend rame banget sih.”, ujarnya tanpa aku tanya.
Aku mengangguk, “No problemo.”
“Maaf ya aku tadi harus kuliah dulu, jadi nggak bisa jemput kamu deh.”, ucapnya.
“Ngga apa-apa, tadi aku juga ada kelas pagi kok. Lagian kalau aku nggak dateng duluan, bisa-bisa kita nggak kebagian kursi”, kataku sambil menunjukkan dua lembar tiket di tangan.
“Jadi, telat berapa menit nih?”
“Lebih tepatnya lima menit lagi filmnya mulai. Buruan masuk!”

Aku dan dia pun memasuki studio dengan kedua jari yang saling mengait satu sama lain. Sebuah awal mula yang tidak terlalu buruk untuk kencan pertama.

Yeah. Pada akhirnya aku sampai juga di tahap itu. Dan.. ya. Aku berhasil pindah.

Senin, 08 Desember 2014

Seandainya Dulu



“Melupakan tidak semudah mencintai”, ucap seorang penumpang bus yang duduk di sebelahku dengan tiba-tiba. Aku tersentak, kemudian menoleh ke arahnya. Terlihat tangan kirinya tengah menggenggam handphone dengan posisi menggantung pada telinga kirinya. Oh, sedang menelpon. Aku kira dia sedang mengajakku bicara tadi.
“Aku udah berusaha semaksimal mungkin. Cuekin dia, abaikan semua pesan singkat dari dia, selalu nolak kalau dia minta ketemuan, bahkan sekarang aku udah nggak punya akun media sosial biar benar-benar putus komunikasi sama dia, Ki. Aku kurang usaha apa lagi?”, ucap gadis yang duduk di sebelahku itu dengan nada putus asa. Berkali terdengar helaan nafasnya yang berat.
Oke, kenapa aku malah jadi nguping begini? Tapi mau gimana lagi, aku punya dua telinga untuk mendengar, dan dia bicara tepat di sebelahku. Lalu apa harusnya aku pindah tempat duduk lain? Kayaknya nggak mungkin, bus ini sudah penuh dilihat dari banyaknya penumpang yang tidak kebagian kursi. Wajar saja sih, karena saat ini adalah jam pulang kantor. Ya mau tidak mau aku telingaku ini harus mendengar curahan hati seorang gadis-yang-tidak-aku-kenal-dan-tengah-galau-ini.
Gadis berjilbab pink yang kalau dilihat dari wajahnya seumuran denganku ini mendongakkan kepalanya dan terlihat ada tetesan air mata yang jatuh.
Plis deh, sempe-sempetnya dia nangis di dalam bus yang sesak begini.
“Aku capek kalau harus begini terus, Ki. Aku nggak kuat. Hati aku tersiksa kalau dia muncul dan ngilang seenaknya aja. Yang lebih nyakitin lagi ketika aku sadar kalau aku masih terlalu sayang sama dia.”, gadis itu mulai terisak pelan. Sepertinya dia cuek dengan kondisi bus sesak dan tidak peduli ada aku yang duduk di sampingnya yang tengah menatapnya dengan iba.
“Cuma dia yang berhasil bikin aku tersiksa sampai 4 tahun lamanya, Kirana. Cuma dia!”, tukasnya lantang. “Cinta aku ke dia udah terlalu dalam, aku udah banyak berkorban sampai kayak orang bego tau nggak. Saking begonya aku sampai nggak ngerti harus gimana lagi ngadepin dia”, gadis itu mengusap pipinya yang basah. Tapi beberapa detik kemudian dia menoleh padaku, sepertinya dia sadar kalau tengah aku pandangi.
Seketika aku salting, tapi gadis itu Cuma tersenyum tipis padaku. Aku balas dengan senyum canggung.
“Tapi aku sadar aku nggak bisa kayak gini terus, pokoknya aku harus ngelakuin sesuatu.”, terdengar nada bicaranya kini mulai tenang. “Aku sekarang lagi di perjalanan mau ke rumah Sammy, aku mau menyudahi semuanya hari ini juga. Aku mau kami benar-benar selesai, aku nggak mau berurusan sama orang yang udah nyiksa aku itu lagi.”
Ooh, jadi dia yang dari tadi di sebut itu namanya Sammy.
“Seandainya dulu aku nggak jatuh cinta sama dia, aku nggak akan tersiksa kayak gini. Seandainya dulu aku nggak berharap apapun sama orang itu, aku nggak akan ngerasain pahitnya dijatuhin sekeras ini, Ki. Aku kapok, aku nggak mau lagi ngerasain begini.”, gadis itu menghela napas panjang seraya menekan tombol handphonenya mengakhiri pembicaraan kemudian memasukan handphonenya ke dalam tas. Setelah itu dia hanya diam sambil memandang keluar jendela bus.
Ada perasaan canggung selepas menguping pembicaraan orang yang tidak aku kenal ini. Apa harus aku ajak bicara ya?
“Maaf ya, Mbak, kalau barusan saya mengganggu kenyamanan Mbak”, ucap gadis itu tiba-tiba dengan wajah tersenyum. Seolah dia bisa membaca isi hatiku saja.
Aku sedikit tersentak, “Oh? Ah, enggak kok, saya nggak merasa terganggu.”
Gadis itu mengangguk pelan, “Tujuan ke mana, Mbak?”, tanyanya.
“Perum Griya Asri. Mbak sendiri?”
“Loh? Saya juga mau ke sana, Mbak. Mbak tempat tinggalnya di sana?”,
“Iya, saya ngekost di sana. Tepatnya di blok H, komplek kost-kostannya mahasiswa.”
Gadis itu terperanjat, “Blok H? Berarti kenal sama yang namanya Sammy Prastia dong?”
Aku tercenung, “Sammy Prastia? Dia kuliah di Dharma Jaya juga nggak? Yang saya tau sih di komplek itu yang ngekost rata-rata teman sekampus saya doang. Dan saya nggak paham sama yang namanya Sammy Prastia.”, jawabku seadanya.
“Bukan, dia itu bukan mahasiswa. Tapi dia anaknya pemilik kost yang ada di blok H.”
“Yah, saya nggak paham tuh Mbak. Dia temannya Mbak?”
Oke Olla, kamu udah mulai sok akrab sekarang.
“Yaa, bisa dibilang begitu.”, gadis itu menjawab tanpa ekspresi.
Melihat dia begitu aku jadi bingung harus menanggapi bagaimana lagi. Nggak mungkin kan aku nanya-nanya soal si Sammy Sammy itu.
“Mbak namanya siapa?”, tanya gadis itu seraya mengulurkan tangan.
“Olla”, aku membalas uluran tangannya.
“Saya Ardina. Jadi Olla ini mahasisiwi?”
Aku mengangguk pelan seraya berpikir, memangnya dari tampangku ini nggak keliatan wajah-wajah anak kuliahan ya?
“Ambil fakultas apa?”, tanyanya lagi.
“Fakultas Bahasa dan Seni semester lima. Memangnya Mbak Ardina ini..”
“Masih muda ya?”
Aku tersentak. Hah? Masih muda? Lah emang dia sendiri nggak ngerasa kalau masih muda juga ya?
“Saya udah lulus kuliah 3 tahun lalu, dan Alhamdulilah sekarang udah kerja sebagai akuntan di bank swasta.”
Aku tersentak lagi, kali ini dengan sedikit melongo. Jadi, itu artinya..
“Kok kayaknya Olla kaget gitu?”, sepertinya dia menyadari ekspresi mukaku yang kayak orang cengo.
Aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal, “Oh, anu, saya kira Mbak ini seumuran sama saya. Dilihat dari mukanya masih kayak anak kuliahan sih.”, ujarku dengan senyum canggung.
Mbak Ardina tertawa pelan, “Banyak kok yang bilang begitu. Tapi aslinya saya ini udah umur 26 tahun loh. Udah tua, tapi masih aja sibuk menggalau.”
Aku tertawa garing. Bener juga, udah tua masih aja ngegalau di dalam bus.
“Saya juga kadang bingung kenapa saya masih kayak anak SMA begini kalau udah berurusan soal asmara. Temen-temen saya juga pada bilang kalau ketidakdewasaan saya terlihat kalau sedang patah hati. Ya kayak sekarang ini. Kamu lihat sendiri kan tadi saya nangisin cowok?”, Mbak Ardina tertawa pelan, seolah menertawai ketidakdewasaannya sendiri.
“Yah, namanya juga urusan hati, Mbak. Kadang emang susah untuk dikontrol”, ujarku dengan sotoy.
“Olla pernah patah hati?”
Aku mengangguk, “Bukan pernah lagi, sering.”
“Patah hatinya bukan karena putus cinta, tapi karena cowok yang kamu sayangi setengah mati ninggalin kamu demi cewek lain. Pernah?”
Aku mengangguk, kali ini lebih keras. “Pernah. Banget.”
Oh, okay. Mbak Ardina membuatku kembali teringat pada sosok Irham.
Mbak Ardina meringis, “Sakit banget ya?”
“Bukan ‘banget’ lagi Mbak. Rasanya udah kayak nggak tertolong lagi lah. Seolah nggak ada obat buat nyembuhinnya.”
Yak! Resmilah aku curhat dengan orang yang baru aku kenal. Kenapa aku tiba-tiba jadi tertular sifat extrovert orang ini?
“Griya Asri! Griya Asri!”, tiba-tiba terdengar suara kernet bus yang membuat percakapanku dengan Mbak Ardina terhenti.
“Udah sampai, yuk turun”, kata Mbak Ardina. Kami berdua pun beranjak dari kursi penumpang kemudian turun dari bus.
Percakapan pun berlanjut di sepanjang jalan menuju blok H.
“Jadi Mbak bela-belain pulang kerja langsung ke sini demi ketemu orang itu?”, tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Mbak Ardina.
Dia mengangguk, “Ya selagi ada kesempatan kenapa enggak? Saya Cuma takut bakal lebih menyesal karena nggak menyelesaikannya sekarang.”
“Mbak menyesal karena udah mencintai dia atau..”
Olla, plis jangan sotoy!
Mbak Ardina mengangkat bahu, “Kadang saya bingung sendiri, sebenarnya saya ini menyesal karena udah dipertemukan dengan dia atau saya menyesali perbuatan saya sendiri. Saya nggak bisa membedakan itu, rasanya sama aja. Yang saya rasakan ya hanya itu, penyesalan yang entah karena apa.”
“Lalu, apa yang bakal Mbak lakukan kalau udah bertemu sama dia?”
“Saya bakal ungkapin apapun yang saya rasakan selama ini sama dia. Saya pengin dia tahu kalau saya benar-benar tersiksa karena dia. Saya pengin nunjukin betapa capeknya saya berusaha lupain dia tapi dia malah datang dan pergi seenaknya saja. Saya pengin dia sadar kalau dia udah terlalu jahat mempermainkan saya. Pokoknya saya nggak mau berurusan lagi dengan dia, saya mau kami benar-benar selesai.”, kata Mbak Ardina tegas.
“Mbak mau putus komunikasi selamanya sama dia?”
Mbak Ardina mengangguk, “Iya. Cuma ini satu-satunya cara biar saya nggak merasa tersiksa lagi.”
“Apa nantinya Mbak nggak akan menyesal?”
Gadis berjilbab itu tersenyum tipis, “Kenapa harus menyesal? Justru kalau saya nggak melakukan ini, baru saya menyesal.”
*
Aku melempar kunci kamar kostku ke meja belajar seraya merebahkan badan ke tempat tidur. Mataku memandang langit-langit kamar dengan nanar. Entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelimuti semenjak pertemuanku dengan Mbak Ardina. Mendengar kisahnya yang tak jauh beda denganku, melihat sikapnya yang tegas pada keputusannya, membuatku seketika berpikir tentang masalahku sendiri.
Ya, tentu saja masalah perasaanku pada Irham yang tak pernah ada habisnya.
Jika Mbak Ardina berani memutuskan untuk menyudahi masalah dengan cara mengutarakan semua yang dia rasakan pada orang yang begitu ia sayang, lalu apakah aku harus melakukan hal yang sama? Ah, jujur saja aku tidak memiliki keberanian untuk memutuskan seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika akhirnya aku benar-benar kehilangan kontak dengan Irham. Meski rasanya tersiksa, tapi aku tidak pernah terpikir untuk memutuskan tali silaturahmi diantara kami. Aku hanya bersikap cuek di depannya, bersikap seolah aku tidak peduli padanya lagi, namun di dalam hati aku begitu peduli. Iya, terdengar munafik memang.
Selama ini aku tidak pernah menghubungi Irham lebih dulu, selalu dia yang menanyakan bagaimana kabarku. Dan aku tidak pernah lagi meminta Irham untuk tidak lagi menghubungiku seperti dulu saat aku masih bersama Odie. Kini yang aku lakukan hanyalah membiarkannya datang dan pergi seenaknya.
Karena aku sadar, aku tidak punya hak apapun untuk melarangnya ini itu. Siapalah aku ini baginya?
Aku mengambil handphone yang tergeletak di tepi bantal dan segera membuka aplikasi BBM. Ada personal messenger dari Irham yang tertulis ‘biar aku jaga rasa ini meski tanpamu..’.
Aku tercenung, apa maksudnya ini? Apa berarti Irham sudah berpisah dengan pacarnya? Eh, lalu kenapa kalau dia putus, apa berarti aku dan dia bisa dekat lagi seperti dulu?
Ah, aku rasa tidak. Aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menaruh harap apapun pada dia.
Aku memandangi display picture Irham, foto dirinya yang tengah tersenyum lebar. Tampan sekali. Pantas saja aku tidak bisa melupakan wajahnya. Payah!
Tiba-tiba aku teringat ucapan Mbak Ardina saat menelpon temannya sewaktu di bus tadi. ‘Seandainya dulu aku nggak jatuh cinta sama dia, aku nggak akan tersiksa kayak gini. Seandainya dulu aku nggak berharap apapun sama orang itu, aku nggak akan ngerasain pahitnya dijatuhin sekeras ini’.
Aku tersenyum miris mengingatnya. Ya, mungkin ucapan Mbak Ardina benar.
Seandainya dulu aku tidak menerima friend request dari Irham di Facebook, mungkin aku tak akan berkenalan dengannya. Seandainya dulu aku tidak memberikan nomor teleponku pada Irham, aku tidak akan menjalin kedekatan dengannya. Seandainya dulu aku tidak mengajak Irham bertemu, aku tidak akan jatuh cinta padanya. Seandainya dulu aku tidak dicampakkan oleh Irham, pasti aku tidak akan merasakan sakit yang teramat dalam ini. Seandainya dulu aku tidak membiarkan Irham terus-menerus menghubungiku, mungkin saat ini aku telah kehilangan kontak dengannya. Seandainya dulu Irham bisa membalas perasaanku, mungkin saat ini aku menjadi gadis yang paling bahagia sedunia.
Oke, Mbak Ardina boleh merasa menyesal atas cintanya pada Sammy, tapi aku tidak bisa seperti itu. Meski pada akhirnya aku dijatuhkan dengan keras oleh Irham, meski luka membekas tiga tahun lamanya.
Aku tidak pernah menyesal karena sudah dipertemukan dan jatuh cinta dengannya.