Rabu, 08 Oktober 2014

Terimakasih, Kamu



Waktu menunjukkan pukul 3 sore dan aku masih berkutat dengan laptopku, duduk seorang diri di pojok kafetaria  kampus dan hanya ditemani secangkir kopi mocca yang sudah dingin. Suasana kafetaria sore itu sudah tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini hari Sabtu jadi hanya beberapa yang terlihat mondar mandir di kampus. Sedangkan aku memang ada kelas pagi hari ini, dan harusnya aku sudah pulang semenjak pukul 11 siang tadi. Tapi yang ada aku malah menghabiskan waktu di kafetaria hanya untuk menikmati wifi gratis. Tadinya aku meminta Riris untuk menemaniku, tapi dia lebih memilih pulang dengan pacarnya. Ya, dia memang tipikal teman yang sangat baik.. pada pacarnya sendiri.
Aku menguap lebar seraya meneguk kopiku hingga tandas. Mataku memandang sekeliling, aku baru pernah melihat suasana kampus begini sepi. Atau mungkin di lingkungan gedung fakultasku saja? Yang dari tadi terlihat hanya anak-anak fakultas hukum yang gedungnya paling dekat dengan gedung fakultas bahasa.
Aku tercenung. Tiba-tiba terlintas satu nama dalam kepalaku; Remy. Dia kan anak hukum, apakah dia juga sedang disini sekarang? Ah, apa-apaan ini? kenapa aku jadi mempedulikan dia sedang berada disini atau tidak? Aku menepuk dahiku sendiri kemudian kembali menyibukkan diri dengan laptopku.
“Hei, Ol!”,
Aku terperanjat kaget. Suara itu terdengar begitu familiar. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilku ‘Ol’.
Aku mengangkat kepalaku. Dan dugaanku benar.
“Oh.. hai.”, sahutku pada orang itu. Remy Anggara.
Laki-laki dengan senyum menawannya itupun langsung duduk disebelahku. “Sibuk, Ol?”, tanyanya sambil menengok layar laptopku.
“Ah, engga. Cuma lagi browsing aja.”, jawabku sekenanya. Tiba-tiba aku teringat pertemuan terakhirku dengan Remy tempo hari. Ketika aku bertemu dengan dia juga kekasihnya. Seketika perasaanku menjadi aneh.
“Kamu ada kelas hari ini?”, tanyaku. Remy mengangguk.
“Iya, jadwalnya sih malah sampe malam. Tapi ternyata Cuma sampai jam segini aja. Kena PHP dosen lagi deh.”, jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Oh..”
“Kamu pulang naik apa Ol?”
Aku sedikit tersentak mendengarnya. Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan dia..
“Naik bus paling.”, jawabku. “Motorku lagi masuk bengkel, lagi servis.”
“Oh kalau gitu bareng aku aja pulangnya. Kebetulan aku mau ke daerah komplek kostmu itu.”, katanya dengan wajah sumringah.
Aku mendadak bingung hendak merespon apa. Apakah aku harus menerima ajakannya? Atau aku tolak saja?
“Mau ngga? Ya terserah aja sih, tapi kalau menurut aku mending sama aku aja daripada harus naik bus sore-sore gini yang jamnya macet, mana berdesakan, panas pula.”
“Eeng..”, aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. “Ya udah deh.”
Remy tersenyum lebar.
*
“Nih.”, Remy menawarkan jaketnya untuk aku kenakan. Aku yang dalam kondisi sedikit menggigil menggeleng pelan.
“Ngga usah, Rem. Pake kamu aja.”, tolakku halus.
Mataku memandang langit yang mulai gelap. Entah bagaimana ceritanya, saat diperjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku dan Remy pun memutuskan untuk berteduh di emperan toko. Hanya aku dan Remy yang berteduh disana. Dan suasana canggung tentu saja seketika menyeruak.
Tiba-tiba Remy mendekat dan mengenakan jaketnya padaku. Aku tercengang.
“Harusnya tadi kamu bawa jaket dari rumah. Mana tau kan kalau bakal hujan tiba-tiba begini.”, kata Remy masih dengan senyumnya yang menawan.
Aku tidak menyahut. Pikiranku kembali pada kejadian tempo hari, hari dimana aku bertemu Remy dan kekasihnya. Saat itu sore hari dan juga tengah hujan deras.
Aku meringis mengingatnya. Kenapa bisa seperti itu? Kenapa aku ditakdirkan untuk bertemu Remy dalam suasana seperti ini? Apakah ini merupakan sebuah pertanda? Tapi pertanda apa? Pertanda untuk melupakan dan mengenyahkan namanya dari hatiku?
“Ol..”, panggil Remy pelan, membuyarkan lamunanku.
“H-hah? Apa Rem?”
“Can I ask you something?”
Aku mengangkat alisku. “Mau tanya soal apa?”
“Tapi kayaknya mendingan kita kesitu dulu deh, kayaknya ada warung kopi tuh. Nggak enak kali ngobrol disini. Mana dingin.”, tunjuk Remy pada sebuah warung yang berada diseberang toko.
Aku mengangguk, “Ya udah.”
Dengan menggunakan jaket Remy yang dijadikan payung dadakan, aku berjalan beriringan dengan Remy. Dan entah kenapa, jantungku ini berdebar dengan kencangnya.

“Tadi kamu mau ngomongin soal apa?”, tanyaku begitu pelayan mengantar pesanan kopi dan kue kami.
“Ah iya,”, Remy membetulkan posisi tempat duduknya. “Sebenarnya aku udah mau nanyain ini sejak lama sama kamu.”
“Nanyain soal apa?”
Remy menghela napas pendek, “Sebenarnya kamu lagi kenapa sih, Ol?”
Aku mengerutkan dahiku, “Kenapa apanya? Aku baik-baik aja.”.
“Tapi menurutku enggak begitu.”
“Emangnya aku terlihat gimana?”
“Kamu kayak lagi galau. Bener?”
Aku tersentak. Kenapa dia bisa tau?
“Aku sering baca status galaumu di timeline Twitter belakangan ini. Di PM BBM juga begitu. Apa ada seseorang yang melukai hati kamu?”, tanya Remy dengan begitu tepatnya.
Iya, itu kamu. Jawabku dalam hati.
Aku berusaha menjawab dengan tenang, “Engga kok, aku baik-baik aja. Tulisan galau itu Cuma iseng-iseng belaka. Tau sendiri kan aku anak bahasa, ya merupakan hal yang wajar kalau aku suka ngerangkai kata-kata.”, jawabku.
Mimik wajah Remy berubah, dia seperti tidak mempercayai jawabanku.
“Ol, kalau ada cewek ditanya ‘kenapa?’ dan dijawab ‘nggak apa-apa’ berarti memang ada apa-apa.”
“Loh, nyatanya aku memang nggak apa-apa Rem. Aku Cuma iseng doang.”
“Iseng?”, kali ini Remy memandangku lebih dekat. “Kamu nggak keliatan begitu.”
Aku mengibaskan tangan didepan wajah Remy, “Udahlah Rem, aku tuh nggak apa-apa. Serius.”
“Ayolah Ol, katakan yang sebenarnya. Siapa tau aku bisa membantu kamu.”
Aku menghela napas pendek, “Kenapa kamu begitu peduli? Memangnya kalau aku beneran kenapa-kenapa, apa itu mengganggu kamu?”, tanyaku tajam.
Remy mengangguk, “Aku teman kamu, Ol. Wajar kan kalau aku peduli dengan temanku? Tapi ya kalau kamu nggak mau cerita, oke, aku hargai privasi kamu.”, ucap Remy tenang seraya meneguk kopinya.
Aku terdiam. Ada pertentangan dalam hati dan pikiranku. Hatiku seolah memaksa agar aku mengatakan semuanya pada Remy. Tapi aku berpikir jika aku mengatakannya, apa akan merubah keadaan? Kurasa tidak.
Mataku memandang keluar. Hujan masih deras dan aku rasa waktuku masih panjang di warung kopi ini. Kuteguk teh hangatku perlahan sambil terus menimang nimang apakah aku harus menceritakan semua kerisauanku selama ini pada Remy atau tidak. Apa bukan hal yang salah jika aku mengakui tentang perasaanku padanya?
Remy tidak bertanya lagi, dia kini sibuk dengan handphonenya. Suasana menjadi canggung kembali. Aku menggigit bibir bawahku. Mungkin harusnya aku katakan saja.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. “Rem..”
Remy mengalihkan pandangannya dari layar handphone kearahku. “Ya, Ol?”
“Aku mau jujur satu hal sama kamu. Aku tau mungkin yang mau aku katakan ini nggak bakal berpengaruh apapun, tapi aku Cuma ingin kamu tau tentang apa yang aku pendam selama ini.”, ucapku dengan nada sedikit bergetar karena gugup.
“Oh, tentang apa?”
Aku kembali menghela napas, “Ya, kamu bener. Ada seseorang yang melukai hati aku.”
Remy tercengang. “Apa aku boleh tau siapa dia?”, tanyanya penuh antusias.
“Dia.. teman kuliah aku. Kami kuliah di kampus yang sama namun di fakultas berbeda. Meski begitu kami sering bertemu karena gedung fakultas kami berdekatan.”, jawabku dengan tenang. Remy terlihat memperhatikan ceritaku.
“Apa dia orang yang aku kenal?”, tanya Remy lagi. Aku mengangguk.
“Iya, kamu sangat mengenalinya.”
“Apa dia tampan?”
Aku menahan tawaku, “Iya, tampan sekali.”
“Apa dia seorang mangaka?”
Aku sedikit tersentak.
“H-hah..”
“Apa dia adalah aku?”
Aku terperanjat kaget. Seketika aku merasa ada ratusan bunyi petasan dibelakangku.
“Apa aku benar?”, tanya Remy, kali ini dengan mimik wajah serius.
Aku bergeming. Entah kenapa rasanya bibir ini terkunci, seolah tak sanggup berkata apa-apa lagi. Siapa Remy itu? Apa dia seorang paranormal?
“Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?”, tanyaku setelah sekian menit hanya bisa terperangah.
Remy tersenyum tipis, “Aku nggak berpikir, tapi aku merasa. Jadi aku benar?”
Dia merasa? Jadi selama ini dia tau jika aku menyukainya? Tapi kenapa dia malah..
“Ol..”
Aku mengangguk pelan. “Iya, kamu benar.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Kalaupun aku bilang, apa kamu bisa menerima perasaanku ini?”, aku kembali menghela napas panjang.
“Aku udah lama suka sama kamu Rem. Aku terlalu nyaman sama kamu sampai aku berharap terlalu tinggi kamu bisa merasakan hal yang sama. Tapi nyatanya aku keliru, aku rasa selama ini kamu Cuma menganggap aku teman biasa.”, ungkapku tanpa ragu.
Remy memandangku dengan nanar. “Tapi kenapa? Kenapa kamu bisa suka sama aku?”
“Kenapa ya? Aku juga nggak tau pasti. Aku Cuma merasa kamu begitu spesial.”, jawabku dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Tapi yang bikin aku nggak nyangka, kenapa disaat kamu udah tau tentang perasaanku, kamu malah jadian sama orang lain? Apa kamu sengaja melakukan itu biar aku nggak mengharapkan kamu lagi?”
Remy tersentak mendengar pertanyaanku. “Maaf, Ol. Bukannya bermaksud menyakiti kamu, tapi aku memang nggak punya perasaan lebih buat kamu.”
Aku mendengus, “Iya aku tau. Udah keliatan jelas.”
“Tapi aku respect sama kamu, Ol. Aku harap kita bisa tetap jadi teman baik ya.”, Remy menggenggam tanganku, dan seketika aku merasa hangat.
Aku tersenyum tipis, “Iya. Kita bakal jadi temen baik sampai kapanpun.”
Tepat di detik itu, air mataku menetes perlahan. Entah kenapa, perasaan sakit itu seolah kambuh lagi.
Terlihat diluar hujan mulai reda seakan menunjukkan empatinya padaku. Ya, seolah memintaku untuk menghentikan derai air mataku dan segera mengeringkannya. Sebuah pertanda jika aku harus mengobati luka dan menata hatiku kembali. Dan sore ini, aku telah diberi kesempatan untuk mengungkapkan segala risau yang ada, membuang segala sakit yang kurasa. Bersama hujan yang turun dengan derasnya.
*
“Ol..”, panggil Remy begitu kami keluar dari warung kopi itu.
“Hm?”
“Maaf ya kalau aku menyakiti hati kamu.”
Aku menepuk bahunya pelan, “Udahlah, lupain aja.”
“Kamu berhati besar, Ol.”
“Ah, enggak. Aku nggak sekuat yang kamu pikirkan. Ini aja aku lagi nahan biar ngga nangis.”, ucapku dengan nada bercanda.
Remy menggeleng keras. “Plis jangan nangis Ol. Kamu cewek yang kuat, kayak Chitoge Kirisaki.”
“Dan kamu cowok yang begitu pengertian, kayak Raku Ichijou.”
Remy tertawa pelan. “Iya, aku kayak Raku. Eh, bukan. Aku kayak Al Gazali.”
Aku menepuk bahu Remy, kali ini lebih keras. “Dih!”
Kami pun tertawa serempak, kemudian berjalan meninggalkan warung kopi yang menjadi saksi bisu pengakuan perasaanku pada Remy sore itu. Dan jujur saja, meski tidak merubah apapun, aku merasa begitu lega setelah mengatakannya.

“Rem..”, panggilku sebelum Remy menyalakan mesih motornya. Dia menoleh.
“Kenapa?”
“Terimakasih.”
Remy tercenung, “Terimakasih buat apa, Ol?”
Aku tersenyum tipis, “Terimakasih karena udah pernah menjadi orang yang begitu spesial buat aku. Dan maaf juga kalau selama ini aku menyusahkan kamu dengan sikapku yang kekanakan.”, ucapku tulus.
Remy tidak menyahut, dia hanya menggenggam tanganku erat. Memasang senyum menawannya untuk kesekian kali. Namun kali ini senyumnya seolah mengisyaratkan agar aku  tak perlu lagi merasa terpesona padanya.
Perasaanku kini padanya, sudah benar-benar berakhir. Bersamaan dengan redanya hujan sore ini.

Senin, 06 Oktober 2014

Old / New ?



“Remy gimana?”, tanya Riris tiba-tiba ketika aku baru mau menyuapkan wafer cokelat ke dalam mulutku. Aku sedikit tercengang.
“Gimana apanya?”, aku balik bertanya dengan tangan yang menggantung di depan mulut.
“Lah, katanya kamu tempo hari baru ketemu dia?”
“Ooh, itu.”, aku meletakkan kembali wafer ke dalam toples. “Gitu deh.”
“Gitu gimana? Kamu ngga kepikiran dia lagi kan?”, Riris menatapku penuh selidik. “Kamu nggak nangisin dia kan setelah hari itu?”
Aku mendengus. “Nangis? Kamu bercanda? Enggak lah, ngapain juga mesti nangis.”.
“Ya kali aja, La. Tapi bagus lah kalau kamu emang ngga kepikiran dia lagi, ngga penting juga. Aku tuh sebenarnya khawatir aja sama kamu, takutnya kamu terus-terusan stuck dengan Remy. Kamu tuh bisa dapetin yang lebih baik dari dia.”
Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Riris. Ya, aku memang tidak menangisi Remy setelah pertemuan kami tempo hari. Awalnya aku memang merasa sedih karena harus bertemu dengannya juga kekasihnya. Aku merasa tertampar hari itu, aku bahkan sampai tidak tau apa yang harus aku lakukan. Tapi aku lega karena perasaan aneh itu Cuma hinggap sesaat. Entah kenapa aku justru seperti tidak lagi memliki apapun untuknya. Baik rasa cinta, maupun harapan untuk memiliki. Aku merasa semua perasaanku pada Remy sudah selesai hari itu juga. Meski aku juga tidak memungkiri, ketika hari itu juga aku sadar jika perasaanku pada Remy belum sepenuhnya hilang. Namun apa yang terjadi selanjutnya, aku benar-benar sadari bahwa segalanya sudah selesai. Aku tidak boleh memendam rasa atau harap padanya lagi. Aku harus segera menoleh kearah lain. Kini saatnya aku jatuh cinta pada orang lain.
“Eh, La. Aku kok tiba-tiba teringat sama mantan kamu yang dulu itu ya. Mantan kamu dua tahun lalu itu.”, celetuk Riris sambil menyuap chips kentang ke mulutnya.
“Mantan aku? Siapa?”, tanyaku bingung.
“Itu loh yang LDRan sama kamu. Temennya Irham kalau ngga salah.”
Aku tersentak. “Maksud kamu Odie?”
Riris menepuk bahuku. “Nah itu dia!”
“Kenapa kamu tiba-tiba teringat dia?”, tanyaku lagi, lebih bingung. Aku saja sudah tidak pernah lagi memikirkannya, kenapa malah Riris yang teringat?
“Entah juga. Mungkin karena kita lagi nonton film tentang LDR kali yak.”, tunjuk Riris pada layar televisi yang tengah menanyangkan sebuah film televisi. “Emang kamu udah nggak ingat lagi sama mantanmu itu?”
Aku menggeleng pelan. “Udah lama banget nggak kepikiran dia. Dia juga palingan udah lupa sama aku, Ris. Lagian juga udah lama banget nggak komunikasi sama dia.”
Riris tertawa kecil. “Dih, sekarang udah bisa bilang begitu. Dulu aja kamu kalau liat foto dia di Facebook langsung pasang tampang sedih, apalagi kalau dia posting foto sama pacar barunya. Ciyee yang udah move on.”
“Itu karena aku merasa bersalah sama dia, Ris. Aku merasa gagal banget jadi pacarnya. Belum sempat aku bikin dia bahagia, eh dia udah dapet orang lain yang bisa bikin dia bahagia.”, aku tersenyum miris mengingatnya.
“Aneh kamu ya, bukannya ikut seneng dia udah dapet pengganti kamu, eh malah galau.”
“Wajar lah Ris. Selama kami LDRan kan aku nggak bisa sepenuhnya bikin dia seneng. Yang ada kami malah berantem terus karena masalah sepele. Ya udah, makanya kami mutusin pisah aja. Lagian waktu itu dia juga lagi sibuk cari kerja dan aku baru mulai kuliah, jadi ya aku ngga mau ngganggu konsentrasi dia dengan berbagai pertengkaran. Aku nggak mau nyiksa dia lebih lama.”
“Eh, bukannya kalian putus karena perasaan kamu yang masih berat sama Irham ya?”
Aku tersentak. Benar. Waktu itu aku masih sangat labil dengan perasaanku. Aku masih belum bisa mengontrol perasaanku sendiri. Hatiku memang bisa menerima kehadiran Odie, namun perasaanku padanya tidak bisa menutup segala cintaku pada Irham. Yang membuat lebih runyam lagi ketika aku tau bahwa mereka ternyata bersahabat sejak SMA. Perasaanku semakin kacau dan aku tidak bisa menghadapinya lebih lama lagi. Ya, itulah alasan sebenarnya aku berpisah dengan Odie. Dan aku merasa begitu jahat memperlakukannya yang benar-benar menyayangiku dengan tulus. Hingga akhirnya dia memiliki kekasih lagi, aku semakin merasa bersalah padanya. Aku merasa belum berhasil membahagiakannya, dan aku ingin sekali diberi kesempatan lagi untuk membuatnya bahagia bersamaku. Namun yang ada dia sudah bisa mencari kebahagiaannya sendiri. Aku merasa sangat payah bahkan sempat membenci diriku sendiri. Namun pada akhirnya, aku berusaha untuk memaafkan segala kesalahanku sendiri, aku harus segera membuang perasaan aneh ini. Dan akhirnya kini aku bisa melupakannya dan merelakannya berbahagia dengan yang lain. Dengan seseorang yang menurutnya paling baik untuknya.
“Nah! Ngelamun ini anak.”, Riris membuyarkan lamunanku. Aku tersentak.
“Eh? Hehe, maaf Ris. Kamu sih ngingetin aku sama dia, kan jadi terbayang masalalu.”
“Tapi ngomong-ngomong, kamu sekarang udah sama sekali hilang kontak sama dia, La?”
Aku menggeleng. “Engga juga sih, aku masih berteman sama dia kok di Facebook. Tapi kalau untuk berkomunikasi secara pribadi sih udah lama engga. Dia ngga pernah nyapa aku duluan, aku juga ngga nanyain kabarnya duluan. Pernah sih, tapi dulu, udah lama banget.”
“Kamu nggak kangen sama dia?”
“Kangen?”, aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. “Salah nggak sih kalau aku bilang ‘iya’?”
“Loh? Kenapa harus ngerasa salah? Yang namanya kangen nggak pernah salah kali, La. Kalau kangen ya wajar. Banget.”, ucap Riris seraya mengambil gelas kosong dan keluar dari kamarnya.
Aku bergeming. Mataku menatap layar televisi yang menayangkan adegan seseorang yang bertemu dengan mantan kekasihnya. Perempuan itu menyerahkan sebuah kotak berisi barang-barang kenangannya dengan mantan kekasihnya. Namun tak lama muncul seorang perempuan lain yang tidak lain adalah kekasih baru sang mantan.
Aku tercengang menonton adegan itu. Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku bayangan Odie yang tengah tersenyum. Aku langsung membayangkan jika seandainya aku seperti perempuan dalam film itu, bertemu dengan mantan dan kekasih barunya. Apa yang akan aku lakukan nanti? Apakah aku akan merasa kacau seperti saat aku bertemu Remy dan kekasihnya tempo hari?
Ah, entahlah. Lagipula sepertinya sudah tidak ada kemungkinan lagi untukku bertemu kembali dengan Odie. Aku juga merasa Odie sudah tidak ingin lagi peduli denganku setelah apa yang terjadi. Itu wajar, dan aku memakluminya.
*
“Oke Olla, nanti aku jemput jam 7 ya. Dah!”
Aku melambaikan tangan padanya yang kemudian berlalu dengan mobil sportnya. Tak lama Riris menghampiriku bersama kekasihnya, Aldi.
“Apa?”, aku melotot pada kedua orang itu yang saling berbisik sambil memandangku dengan aneh.
“Akhirnya Olla dapet gebetan juga ya Tuhan, aku bersyukur padamu. Terimakasih!”, Riris memandang langit dengan tangan yang menengadah keatas. Aldi ikut berucap syukur.
Aku kontan menepuk pipi Riris pelan. “Apaan sih ini anak? Aku Cuma nerima ajakan makan malam Fabian doang kok. Nggak usah pada lebay plis!”
“Iya deh yang nerima ajakan makan malam, tapi paling ujung-ujungnya ntar kita yang diajak makan-makan ngerayain jadian kalian. Ciyee Ollaa.”, Riris mencubit hidungku dengan gemas sambil tertawa sumringah.
“Gitu dong La, harusnya lo lakuin ini dari dulu. Jangan terlalu jual mahal lah sama cowok. Lo tenang aja, Fabian baik kok orangnya.”, ucap Aldi selaku teman sekelas Fabian.
“Gue Cuma rada nggak enak aja sama dia Di. Ngerasa kayak beda kasta gitu. Liat dia bawa mobil sport gitu aja gue udah minder.”
“Lah? Kenapa mesti minder La? Malah justru bagus kan kalau kamu nanti akhirnya sama Fabian, hidup kamu selalu tercukupi sampai kamu punya cicit.”, kata Riris seraya membuka pintu mobil Aldi.
“Aku tuh takut dibilang matre, Ris. Aku nggak mau orang nilai aku begitu.”
“Udahlah, La. Lo jangan terlalu mikirin hal yang begitu, jalanin aja dulu apa adanya. Kalau cocok ya lanjut, kalau lo ragu ya jangan dipaksain.”, ucap Aldi seraya menyalakan mesin mobilnya.
“Nah, bener tuh!”, ujar Riris.
“Iya iya deh, aku coba jalanin dulu.”, ucapku sekenanya.
“Ya udah kalau gitu, gue sama Riris duluan ya. Sukses ya buat dinnernya nanti!”, ucap Aldi.
Aku tersenyum tipis. “Oke oke. Hati-hati bawa mobilnya, Riris masih parno tuh gara-gara kemaren liat mobil tabrakan di komplek rumahnya.”
“Iya, Yang. Pelan-pelan aja nyetirnya.”, susul Riris.
“Iya deh. Oke, dah Olla.”
Aku melambaikan tangan pada Aldi dan Riris yang berlalu meninggalkan tempat parkir. Aku sendiri berjalan pelan menuju tempat parkir motor sambil memikirkan apa yang akan kulakukan nanti dengan Fabian. Apa aku sudah siap kembali menghadapi laki-laki baru? Aku merasa tidak yakin.
*
Seperti janjinya, Fabian menjemputku di tempat kostku pukul tujuh malam dengan mobil sport mewahnya. Aku tidak menyangka dia hanya mengenakan kaus yang dipadukan dengan jaket dan celana jeans. Aku kira dia bakal berpakaian formal seperti dulu saat aku bertemu pertama kali dengannya pada acara ulangtahunnya dirumahnya yang begitu mewah. Tapi baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot mencocokan bajuku. Aku hanya perlu memakai baju yang biasa kupakai ketika pergi; kemeja lengan pendek dan tentunya celana jeans.
“Kita ke restoran langganan keluarga aku ya.”, ucapnya sambil membukakan pintu mobilnya untukku. Aku Cuma mengangguk seraya mengucapkan terimakasih karena sudah dibukakan pintu.
Entah kenapa aku merasa diperlakukan seperti upik abu yang mendadak menjadi putri. Bedanya, seorang putri pergi dengan kereta kencananya, sedangkan aku.. naik mobil sport.

Sesampainya di restoran, Fabian langsung memesan makanan favoritnya.
“Steak wagyu yang medium dua ya.”, ucapnya pada seorang pelayan restoran. “Makanan disini semuanya enak, Cuma yang juara ya steak wagyu ini.”, kata Fabian padaku yang masih berusaha beradaptasi dengan restoran yang bisa dibilang kelas atas ini. Aku merasa salah mengenakan pakaian. Namun saat aku melihat Fabian, dia cuek saja. Sepertinya dia sudah biasa datang kesini hanya dengan memakai kaus dan jeans saja. Tapi aku?
“Kamu suka steak kan?”, tanya Fabian. Aku Cuma mengangguk canggung.
Mataku memandang bingung meja yang penuh dengan pisau. “Ini kita mau makan apa mau tawuran sih? Banyak bener pisaunya.”, gumamku pelan, namun Fabian mendengarnya.
“Kamu nggak bisa pakai pisau buat makan steak? Bisa bedain kan mana pisau yang dipake buat motong daging sama potong roti?”, tanya laki-laki itu dengan nada sedikit mengejek.
Aku menggaruk dahiku yang mendadak gatal. “Jujur aja aku nggak biasa makan di restoran kayak gini.”
“Emang kalau pacaran suka makan dimana? Ah, jangan bilang kalau kamu hobi makan di warung pinggir jalan?”, tanya Fabian dengan tatapan jijik.
Mendengar itu aku merasa tersinggung. “Loh? Apa yang salah dengan makan di warung kaki lima?”, aku balik bertanya.
“La, makanan yang dijual dipinggir jalan begitu tuh nggak steril. Kotor, banyak lalat, tempatnya juga sempit, panas, sumpek. Kamu nyaman makan ditempat yang begitu karena modal murah meriah doang? Harusnya kamu juga merhatiin kebersihannya dong.”
Aku mendengus. “Kayaknya kamu harus coba makan di kaki lima deh biar kamu ngerasain gimana susahnya dapet duit buat makan. Kamu pikir semua orang bisa kayak kamu yang bisa makan di restoran kelas atas begini?”
“Loh, ya nggak harus di restoran begini juga. Tapi seenggaknya kan nggak makan di sembarang tempat. Makan di kaki lima mungkin murah meriah, bahkan katanya ada yang enak dan bercita rasa bintang lima. Tapi kualitas kebersihannya gimana? Itu makanan dicuci bersih dulu ngga? Dimasak dengan bener ngga? Piringnya dicuci bersih ngga? Banyak lalat ngga?”
“Terus menurut kamu kalau mereka –para pedagang kaki lima itu nggak jualan makanan, siapa yang bakal mencukupi kebutuhan perut mereka kalau bukan kita yang beli jualan mereka?”
“Dengan mempertaruhkan kesehatan kita? Aku lebih milih nggak makan daripada harus makan makanan yang nggak steril.”
“Bukannya kalau kamu nggak makan juga sama aja ngerusak kesehatan kamu?”
Fabian terdiam. Aku menghela napas panjang.
“Aku kayaknya nggak bisa makan dalam keadaan kayak gini deh. Mendingan aku pulang aja ya.”, ucapku sambil bersiap beranjak dari kursi. Namun Fabian buru-buru mencegahnya.
“Olla, tunggu. Maaf kalau aku bikin kamu tersinggung. Tapi bisa kan kalau kita makan dulu?”
Aku menggeleng pelan. “Kayaknya engga deh. Mendingan aku pulang aja.”, aku pun berlalu meninggalkan Fabian di meja itu.
Aku sadari sikapku ini berlebihan, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Mungkin memang baiknya aku tidak melanjutkannya daripada harus menahan kesal lebih lama. Ya, mungkin karena aku dan Fabian memang terlalu berbeda. Bahkan sudah dari awal aku merasa tidak percaya diri menjalin hubungan yang masih begitu awal ini.
*
“Taksi!”, seruku pada sebuah taksi yang tengah melaju perlahan. Taksi itu pun berhenti, namun aku tidak sadar jika ada orang lain yang juga mengejar taksi itu. Orang itu datang dari sisi berlawanan, dan dia pun membuka pintu sebelah kanan sedangkan aku membuka pintu sebelah kiri. Aku dan orang itu sama-sama tersentak.
“Olla?!”, serunya setelah sekian detik kami saling terperangah kaget.
“O-Odie?”
Ya, di taksi itu akhirnya aku kembali bertemu dengannya. Mantan kekasihku dua tahun lalu.

“Gimana ini jadinya Mas, Mbak?”, tanya supir taksi membuyarkan lamunanku. Aku tersentak.
“Ah, kita barengan aja, Pak. Kamu mau kemana? Kita antar kamu duluan deh.”, tanya Odie.
Aku yang masih sedikit terkaget menjawab dengan kikuk. “A-anu. Ke perumahan Griya Asri blok H. Yang komplek kost-kostan itu.”
“Kesana duluan Pak. Argonya saya yang tanggung.”, kata Odie pada supir taksi yang kemudian membawa kami melaju perlahan diiringi perasaan canggung.
Odie memandang kearahku. “Kamu apa kabar, La? Lama banget ya kita nggak ketemu.”, tanya laki-laki ikal itu dengan senyum tipis.
“Aku baik, Die. Alhamdulillah.”, jawabku seadanya. “Kamu juga baik-baik aja kan?”
Odie mengangguk. “Iya beginilah. Kamu darimana tadi?”
“Ah, anu, dari restoran yang dekat distro itu. Kamu sendiri?”
“Oh, itu. Aku malah dari distronya.”
“Belanja?”
“Engga, Cuma nengokin temen. Dia yang jadi owner distro itu.”
Aku ber-Oh pendek. “Ini beneran kamu yang mau tanggung argonya?”,
Aku spontan menutup mulutku sendiri. Kenapa aku malah bertanya soal argo taksi?!
Odie tertawa kecil. “Kamu nggak berubah ya ternyata, masih aja ceplas ceplos to the point begitu.”
Aku menggaruk kepalaku, menahan malu. “So-sorry..”
“Udah tenang aja. Kebetulan aku baru aja gajian, anggap aja aku lagi nraktir kamu sekarang.”
“Nraktir?”, aku tertawa, “Nraktir  mah makanan atau minuman, eh ini nraktir ongkos taksi. Ada-ada aja.”
Odie ikut tertawa. Dan kali ini suasana mulai mencair, kecanggungan yang awalnya mengganggu perlahan hilang.

“Oh, ini tempat kost kamu? Gampang juga dicari ya.”, tanya Odie begitu taksi berhenti di depan tempat kostku.
“Mau mampir?”, tawarku padanya. Odie menggeleng sopan.
“Kapan-kapan deh ya.”
Aku mengangguk mengerti. “Makasih ya buat traktiran argonya.”
“Sama-sama.”
“Oke, see you.”, aku pun membuka pintu taksi.
“Eh bentar.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Kamu ada pin BB?”
Aku tersenyum simpul.

Malam itu aku akhirnya meralat ucapanku sendiri. Mungkin aku akan kembali bertemu dengannya dengan mudah. Masih ada banyak kemungkinan bagi kami untuk saling berbincang kembali. Bahkan mungkin akan berbincang lebih banyak dan lebih lama lagi. Ya, aku rasa begitu.