Sabtu, 15 November 2014

Waktu Yang Tak Tepat Untuk Berpisah



Ale meletakkan kembali cangkir kopi setelah meneguknya perlahan. Matanya kembali menatap tajam gadis yang duduk berhadapan dengannya.
“Aku mau kita putus.”, ucap Ale tanpa ragu. Wajahnya memasang ekspresi datar, tanpa senyum atau menyiratkan candaan.
Nami, gadis manis berkacamata yang duduk berhadapan dengan Ale menanggapi dengan senyum tipis.
“Le, kalau ada pasangan putus, berarti ada sesuatu dalam hubungan itu, minimal masalah antara kita berdua. Tapi aku nggak merasa kita ada masalah apapun, bukannya kita baik-baik aja ya selama ini?”, tanya Nami mencoba menyembunyikan guratan kecewa di wajahnya.
Ale menghela napas pendek, “Ya, kita memang keliatannya baik-baik aja, tapi justru masalahnya itu karena kita selalu baik-baik aja, Nam.”
Alis Nami terangkat satu, “Maksud kamu gimana sih?”
“Aku merasa hubungan kita ini nggak normal, nggak seperti pasangan lainnya.”
“Nggak normal dilihat dari mananya, Le?”
“Kamu pernah menghitung berapa kali kita bertengkar?”
Nami tersentak, karena seingatnya mereka tidak pernah sekalipun bertengkar. Atau minimal berselisih pendapat hingga adu mulut.
“Ngapain aku mesti ngingat-ngingat pertengkaran? Yang harus diingat itu yang baik-baik aja, Le.”
“Kamu ingat berapa kali kamu marah karena aku telat balas pesan kamu? kamu ingat berapa kali aku harus minta maaf karena nggak bisa jemput kamu di tempat kerja? Kamu ingat berapa kali kamu nangis gara-gara aku nggak datang pada Sabtu malam?”
Sekali lagi Nami tersentak atas pertanyaan Ale yang bertubi-tubi itu. Setelah mencoba mengingat kembali, tak pernah sekalipun dia bertengkar, marah ataupun menangis karena Ale. Selama ini dia tidak pernah mempermasalahkan apakah Ale akan datang menjemputnya di tempat kerja atau tidak? Apakah Ale ingat dengan tanggal jadian mereka? Bagi Nami, semua itu tidak terlalu penting selama ada Ale menemaninya dan selalu memberi kabar tanpa diminta. Nami bahkan tidak pernah menuntut apapun jika Ale terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa memberi kabar. Dia tidak marah jika Ale membatalkan kencan mereka dengan berbagai alasan.
“Kita udah kenal sedari umur kita 6 tahun, Nam. Aku tahu sifat kamu, kamupun paham betul sifat aku. Kita terbiasa sama-sama dari kecil, kita bersahabat begitu lama sampai akhirnya kita mutusin untuk pacaran sejak 2 tahun lalu.”
“Lantas?”
“Aku merasa kita ini tidak cocok untuk menjalin hubungan macam ini, Nam. Kita sudah terbiasa bersahabat, bukan menjadi pasangan kekasih. Kita nggak pernah bertengkar gara-gara masalah sepele seperti pasangan lain. Kamu juga tidak pernah menuntut aku agar aku cepat melamar kamu, aku sendiri juga ragu untuk memutuskannya jika melihatmu seperti itu. Lihat kita, Nam. Usia kita adalah usia yang sudah pantas untuk memikirkan masa depan. Tapi kamu tak pernah sekalipun mengungkit itu. Mau kamu itu apa, Nam? Mau senang-senang terus?”, Ale mendesah pelan, “Lalu soal cinta. Kamu.. apa kamu cinta sama aku?”
Kali ini pertanyaan Ale begitu menohok Nami. Wajahnya seketika memucat.
“Le..”
“Gini deh, selama dua tahun ini, apa kamu merasa aku begitu spesial buat kamu? Apakah memang aku yang kamu cari sebagai pendamping masa depan kamu?”
Nami meraih jemari Ale, menggenggamnya erat, “Aku sayang sama kamu, Le. Aku selalu nyaman di dekat kamu. Selama 25 tahun aku hidup, aku Cuma dekat sama kamu. Aku nggak pernah nyari laki-laki lain buat nemanin aku. Apa harus ada bedanya saat kamu masih jadi sahabat aku hingga kini jadi pacar aku? Semuanya bagiku sama aja, asalkan kamu tetap disini, tetap sama aku, Le.”
“Nami..”
“Oke, untuk masalah masa depan. Aku memang belum memikirkan itu sekarang. Aku masih fokus sama kerjaan aku, dan aku pun tahu kamu punya kegiatan sendiri. Aku nggak menuntut karena aku melihat keadaan kita sekarang yang sama-sama tengah berjuang untuk meraih apa yang kita cita-citakan dulu, Le. Aku nggak mau merepotkan kamu yang sedang sibuk-sibuknya rekaman sama band kamu. Aku menghormati kesibukan kamu dengan cara nggak mengusik kamu dengan tuntutan ini itu. Toh aku nggak merasa keberatan kamu cuekin untuk sementara. Memangnya kamu mau kalau aku ngambek sama kamu gara-gara masalah sepele seperti itu? Kita ini udah dewasa, Ale..”
“Tapi aku nggak pernah melihat keseriusan itu di mata kamu, Nam. aku melihat kamu sama seperti saat aku dan kamu masih jadi sahabat. Aku nggak melihat ada binar-binar yang menunjukkan kalau aku ini spesial buat kamu.”
“Le, soal cinta atau tidak itu nggak dilihat dari mata, tapi cukup dirasakan. Apa kamu nggak pernah merasakan apapun saat bersama aku?”
“Jujur aja aku merasa.. nggak ada perubahan perasaan sejak dulu, Nam. Aku kira setelah kita berganti status jadi pasangan kekasih, bakal ada perasaan lebih yang aku rasakan ke kamu. tapi selama dua tahun kita pacaran, aku..”
“Intinya.. kamu nggak cinta sama aku, Le?”
Kali ini Ale yang tersentak mendengar pertanyaan Nami.
“Beberapa bulan belakangan aku merasa kamu terkontaminasi sama teman-teman kamu deh. Kamu dulu nggak pernah mempermasalahkan status pacaran kita, kamu nggak pernah sekalipun ungkit soal gimana hubungan kita ini kedepannya. Kamu selalu bilang semua akan ada waktunya, dan waktunya bukan saat ini. Tapi semenjak teman-teman kamu mulai menyebar undangan pernikahan, mulai memamerkan pasangan mereka dan menceritakan berbagai pertengkaran yang terjadi sama kamu..”
“Justru karena merekalah aku jadi sadar kalau hubungan kita ini nggak normal. Terlalu datar, biasa, dan seperti tanpa perasaan. Apa kita pernah mencuri-curi waktu buat ciuman? Apa kita pernah pelukan sampai sesak? Nam, kita udah terbiasa menjadi sahabat sampai kita nggak tau gimana caranya pacaran. Hubungan kita berdua ini cuma berganti status sahabat jadi kekasih. Untuk hal lain, nggak ada bedanya..”
“Lantas kamu mau cari cewek lain untuk jadi kekasih kamu? Dan aku.. aku Cuma jadi sahabat kamu, gitu?”
“Nam..”
“Gimana kalau setelah kita pisah, yang terjadi malah kita nggak bisa jadi sahabat lagi? Kamu nggak keberatan soal itu?”
“Kamu nggak mau kita bersahabat lagi?”
“Jadi kamu benar-benar ingin kita putus?”, tanya Nami dengan nada retoris.
Ale memandang Nami yang mulai meneteskan air mata. Sebenarnya Ale tidak tega melihatnya, namun dia harus tegas pada ucapannya sendiri. Dia benar-benar tidak ingin melanjutkan hubungan yang sudah terjalin selama 2 tahun ini. Baginya, Nami akan selalu jadi sahabatnya, bukan jadi pasangan hidupnya.
“Aku sayang kamu, Ale. Dan aku merasa hubungan kita ini normal layaknya sepasang kekasih. Karena aku tau kamu lebih dari siapapun, Le. Begitupun kamu, yang tau segalanya tentang aku lebih dari siapapun. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kita ini seperti kembar siam, yang jika terpisah belum tentu salah satu dari kita akan hidup, atau malah mati keduanya. Tapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran Le?”
“Nami, aku..”
“It’s okay. Apapun alasan kamu, aku akan terima.”, Nami beranjak dari kursi kemudian menghampiri Ale. Ditatapnya wajah tampan itu dengan mata nanar. Selang beberapa detik, Ale hanya bisa bergeming begitu menerima kecupan di bibirnya dari Nami.
*
Beberapa hari kemudian..
“Ale mana, Nam? Kok kayaknya udah lama nggak main ke rumah?”, tanya Nabel, kakak sematawayang Nami.
“Kami udah putus, Mbak.”, jawab Nami datar, matanya tetap fokus pada majalah yang dibacanya.
Nabel Cuma mengangguk mengerti, dia seakan mengerti alasan mengapa akhirnya Nami dan Ale berpisah. Karena dua hari sebelum Ale memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Nami, dia sudah berkonsutasi dulu dengan Nabel. Sebenarnya Nabel sudah menyuruhnya untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Namun tekad Ale sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat, dia ingin kembali menjadi sahabat Nami, bukan menjadi kekasihnya.
Tapi di dalam hati Nabel, dia tidak yakin jika Ale akan benar-benar meninggalkan Nami. Karena dia tau sendiri jika Ale dan adiknya itu tidak bisa terpisahkan. Meski memang terlihat dari luar mereka tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya, Ale dan Nami sama-sama saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Sudah pasti mereka saling menyayangi bahkan saling mencintai. Nami bahkan mengaku tidak pernah dekat laki-laki lain selain Ale. Begitupun Ale yang enggan terlalu dekat dengan gadis lain karena tidak ingin mengkhianati Nami.
“Palingan nanti dia juga ke rumah, Nam. Tungguin aja sampai sore.”, celetuk Nabel seraya mengambil majalah di bawah meja ruang tamu.
“Ah, sok tau. Mana mungkin dia datang setelah dua hari ngilang ngga ada kabar? Palingan dia juga udah dapat cewek lain.”, tukas Nami.
“Mau taruhan sama aku? Tepat jam 3 nanti, dia akan datang kesini sambil bawa bunga mawar  dan ngajakin kamu balikan.”
Nami melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 14:50.
“Ngaco, ah!”
“Yeee, buktiin aja ntar.”
Nami tak lagi menanggapi ocehan kakaknya, dia pun melengos ke kamar. Namun tak lama kemudian dia mendengar ada suara mesin mobil terparkir di depan rumahnya.  Dia terperanjat.
Nami pun buru-buru keluar rumah untuk memastikan. Dan ternyata, ramalan kakaknya tepat. Ale berdiri dengan membawa setangkai mawar merah di tangannya.
“Aku nggak bisa tanpa kamu, Nam. Maaf atas keputusan aku yang keliru tempo hari. Aku sayang kamu, aku cinta kamu.”
Nami menyunggingkan senyumnya lebar, kemudian segera mendekap Ale dalam pelukannya. Ale membalas pelukannya lebih erat. Dan tanpa membuang waktu lagi, segera dikecupnya kening, pipi, dan bibir Nami.
Nabel yang mengintip dari jendela terkikik geli sambil membaca ulang sebuah pesan yang tertera di layar handphonenya

‘Mbak, jam 3 nanti aku ke rumah bawa mawar buat Nami, aku mau ngajak dia balikan. Mbak bantuin aku ya?

Ale.’

His Name Is Irham



Selasa pertama di bulan November, gerimis turun dengan malu-malu. Kehadirannya menandakan bahwa musim kemarau telah berlalu, dan kini berganti menjadi musim hujan.
Kulirik arlojiku, waktu menunjukkan pukul 2 siang. Harusnya pada pukul segini aku sudah berada di kamar kostku sambil menonton DVD drama Korea dan ditemani sekaleng wafer vanilla. Tapi apa daya, gerimis yang tadinya turun dengan malu-malu, kini sudah berganti hujan deras.
Aku menepuk bahu Riris yang tengah asyik memainkan handphonenya di sebelahku. Dia menoleh.
“Laper nih, Ris. Ke kafetaria yuk.”, ajakku.
“Hah? Perasaan tadi kamu udah makan deh, baru sejam yang lalu kan?”
“Butuh cemilan Ris, kamu tau sendiri aku ini lebih kuat ngemil dari pada makan nasinya.”
Riris menepuk dahinya sendiri, “Itu perut apa karet sih, La? ya udah deh yuk, dari pada ntar kamu makanin meja perpus.”
Aku mencubit lengan Riris akibat kalimat barusan. Gadis itu meringis kemudian ngacir keluar perpus.
Sesampainya di kafetaria aku membeli sepiring siomay dan segelas teh hangat, Riris hanya membeli teh botol.
“Untung masih ada siomaynya, aku beruntung. Hihi!”, ucapku girang mengetahui makanan favoritku masih tersedia di kafetaria.
“Kayaknya penjualnya punya feeling kalo aku bakalan dateng kali yak, Ris.”
Riris terkikik mendengar celotehanku. “Idih, pede banget kamu, La. Eh tapi, apa kamu nggak bosen ya, La? Yang aku liat tiap kali kamu jajan pasti beli siomay lagi siomay lagi. Kayak nggak ada makanan lain aja deh.”
Aku tersenyum tipis, “Gimana ya, Ris. Kalo udah jadi favorit ya susah untuk digantikan. Lagipula, makanan ini penuh kenangan tau.”
“Kenangan?”, dahi Riris mengerut. “Maksudnya kamu pernah pedekate sama penjual siomay gitu?”
Aku kontan menoyor hidung Riris gemas, “Bukan gitu maksudnya!”
“Lah terus?”
“Siomay ini, makanan yang aku makan pertamakali bareng Irham, Ris..”, ucapku pelan sambil memandang piring berisi baso, tahu, kol, pangsit yang disiram bumbu kacang itu.
“Irham lagi yang disebut,”, Riris mendengus sebal. “Katanya udah lupa, katanya nggak mau mikirin dia lagi. Ehh, masih aja inget makanan pertama awal pedekate kalian.”
“Mana waktu makannya juga pas lagi hujan-hujan begini. Romantis nggak sih menurut kamu, Ris?”, tanyaku tanpa mengacuhkan komentar Riris barusan.
“Olla, udah ya. Jangan mulai bernostalgia lagi. Cukup untuk segala kegalauan yang kamu rasakan gara-gara makhluk bernama Irham Ramadhan itu, ya!”, tukas Riris. Dia sepertinya benar-benar jengah jika aku mulai membahas soal Irham.
Padahal jujur saja, sebenarnya aku tidak merasa bosan jika terus menerus menyebut namanya. Aku tidak merasa benci jika mengingat tentangnya. Aku hanya sempat tak tau harus bagaimana menyikapi perasaanku sendiri ketika Irham tiba-tiba muncul kemudian pergi lagi dengan seenaknya.
“Di hatimu itu sebenarnya siapa yang paling menguasai sih? Irham, Remy, atau Odie?”, tanya Riris penasaran. “Aku tau kamu sebenarnya saat ini nggak sepenuhnya melupakan mereka bertiga kan, La?”
Aku tercenung, “Kenapa kamu tiba-tiba nanyain soal itu?”
“Kadang aku Cuma bingung aja sama kamu, La. kamu itu sebenarnya cinta sama siapa? Kayaknya aku nggak pernah dengar kamu bisa konsisten sama satu cowok. Belum kelar sama Irham, ada Odie. Odie ilang, gantian Remy. Remy enyah, balik ke Irham lagi. kamu nggak pengin nyobain beralih sama orang lain apa? Dulu Yuga kamu nggak terlalu tanggepin, Fabian kamu tolak cintanya. Duh, nggak ngerti lagi deh sama jalan pikiran kamu.”
“Ris, kamu kan tau sendiri kalau aku sayang sama..”
“Tiga tahun lalu, Irham. Dua tahun lalu, Odie dan tiga bulan yang lalu Remy. Hayo, kurang paham apa lagi aku sama kamu?”
“Sampai hafal gitu ih.”, aku berdecak kagum.
“Gimana nggak hafal, Cuma mereka yang selalu kamu ingat. Nggak pernah nyoba ngelupain dengan segenap jiwa sih.”, timpal Riris sedikit ketus.
Aku menghela napas pendek. Ya, Riris benar. Aku memang tidak sepenuhnya berhasil mengenyahkan tiga nama itu dari pikiran juga hatiku.  Selama ini aku hanya mencoba untuk tidak mempedulikannya, bukan untuk benar-benar melupakan.
“Gini..”, aku meletakkan garpuku, “Irham itu orang pertama yang bikin aku jatuh cinta dengan dahsyatnya dan sekaligus menjatuhkan aku tak kalah dahsyat pula. Odie datang setelah Irham, dia berhasil membuat lubang akibat bom Irham sedikit tertutupi. Aku bahagia punya dia, aku pun sayang sama dia. Dan Remy, dia alasan aku kembali membuka hati setelah sekian lama menjomblo dan gagal pedekate dengan beberapa cowok, yang salah satunya yang bernama Yuga. Aku sayang sama Remy, aku bahkan sangat berharap dia bisa jadi masa depan aku nanti. Tapi nyatanya yang terjadi adalah, mereka bertiga Cuma singgah sesaat kemudian pergi tanpa mempedulikan apa yang aku rasakan, Ris. Menurut kamu, apakah salah kalau aku masih terus terbayang sama mereka setelah semua yang terjadi?”
Riris mengangguk pelan. “Menurut aku, kamu terlalu mudah terbawa perasaan, La. Kamu nggak bisa membedakan mana yang sebenarnya kamu inginkan, mana yang seharusnya kamu pilih dan mana yang kamu butuhkan. Irham, adalah contoh yang kamu pilih dan inginkan tapi nggak bisa kamu dapatkan. Odie, dia harusnya yang kamu pilih, tapi kamunya yang belum sepenuhnya siap akan kehadirannya. Dan Remy, dia datang karena dibutuhkan untuk menghibur hati kamu yang lama tak berpenghuni, La.”
“Terus?”
“Lah, kamu harusnya sadar dong siapa yang benar-benar kamu cintai? Harusnya kamu paham banget kalau dari ketiga cowok itu hanya satu yang kamu cintai, bukan ketiganya. Ngerti ngga?”
“Tapi aku merasa sayang sama ketiganya, Ris. Mereka semua spesial di hati aku.”
“Iya aku tau. Tapi coba kamu bandingkan saat kamu sama Irham, sama Odie dan sama Remy. Bandingkan juga saat kamu merasa jatuh dan galau gara-gara mereka. Siapa yang lebih menyakitkan hati kamu, itulah yang sebenarnya kamu cintai, La.”
Aku mendesah pelan, “Lalu, setelah aku tau siapa dia, aku harus ngapain? Nggak ada satupun dari mereka yang pantas lagi untuk diharapkan, Ris. Mereka semua udah ninggalin aku, mereka udah bahagia dengan pilihan mereka sendiri. Posisi aku disini Cuma sebagai pihak yang mencintai lalu ditinggalkan. Bukan untuk mereka pilih.”
“Emang iya?”
“Hah?”
“Dari mana kamu tau kalau kamu bukan pihak yang dipilih? Siapa tau aja kan La, suatu saat nanti kamu akan ketemu salah satu dari mereka dan pada akhirnya dia milih kamu.”
“Duh, Ris, jangan bikin aku berharap deh. Aku nggak mau ngarepin apa-apa lagi, baik dari Irham, Odie ataupun Remy.”
Riris menepuk tangannya satu kali, “Nah, kamu sadar kalau kamu nggak ada hak lagi buat ngarep sama mereka. Tapi kenapa kamu masih ngingat-ngingat segala kenangan itu? kamu nggak kasian sama hati kamu sendiri?”
Aku mengerutkan dahiku mendengar celotehan Riris, “Ris, sadar nggak sih daritadi kamu kerjaannya menampik semua tanggapan aku doang. Muter-muter nggak jelas tau nggak.”
Riris memasang senyum tipis, “Sebenarnya aku lagi nyoba nyadarin kamu, La. Kamu sendiri juga hobinya muter-muterin kenangan kamu sendiri.”
“Hah? Aku muter-muterin apaan?”
“Segala kenangan kamu yang berhubungan sama mereka bertiga. Suatu hari kamu ingat sama Irham, tiba-tiba ingat sama Odie, eh pas ngelihat Remy di depan kelas kamu langsung nyesek sendiri, eh terus tiba-tiba teringat Irham lagu. Sikap kamu itu yang nyebelin, La. Kamu seolah nggak bisa tegas sama ucapan kamu sendiri. Oke, hati kamu memang berhak buat nentuin siapa yang kamu suka, tapi di mata orang lain, kamu itu pribadi yang plin-plan, La. Kamu gampang terbawa perasaan, gampang galau, dan gampang buat menyepelekannya lagi. Kamu lihat aku deh, dari dulu aku Cuma terpaku sama satu nama, aku selalu menjaga nama itu sejak 3 tahun lalu sampai sekarang. Cintaku sepenuhnya buat Aldi seorang, aku nggak pernah sekalipun berpindah hati, La. Tapi kamu? coba kamu introspeksi sendiri deh.”
Aku terdiam mendengar ucapan Riris yang entah kenapa begitu menusuk hingga bagian organ terdalam. Sangat menohok, membuat sakit, perih, dan aku merasa tertampar ratusan kali. Ucapan Riris memang masuk akal dan tidak keliru. Komentar yang keluar dari mulutnya berhasil menyadarkan aku yang keras kepala dan egois ini.
Ya, keras kepala karena tidak pernah mendengarkan nasehat orang lain. Dan egois karena selalu memaksakan perasaanku sendiri untuk bisa diterima, padahal belum tentu yang kurasakan itu tepat. Contohnya pada kasus yang baru saja aku bahas dengan Riris, tentang siapa yang sebenarnya aku cintai.
Benar, aku merasa menyayangi mereka bertiga. Aku merasa nyaman dan berharap untuk bisa memiliki mereka. Namun setelah aku pikir ulang, memang hanya ada satu yang terus menerus aku ingat tanpa henti. Seseorang yang wajahnya selalu terlintas dalam pikiranku, seseorang yang namanya begitu sering terngiang di telingaku, seseorang yang tiap kali aku coba lupakan namun tak kunjung enyah dari dalam hati.
Ya, ada seorang bajingan yang tak bosan mendiami hati juga isi kepalaku. Bajingan yang merampas hatiku dan menjatuhkannya tanpa ampun, hingga aku tak sanggup melupakan segala sakit yang dia beri. Bajingan yang selalu muncul dengan tiba-tiba, membuat jantung ini berdebar, kemudian menghilang tanpa permisi. Bajingan yang selalu aku doakan agar hidupnya selalu bahagia dengan siapapun yang berada di sisinya. Bajingan yang selalu aku cintai meski ada beberapa orang lain mengisi hatiku. Bajingan yang namanya tidak pernah bisa tergantikan oleh siapapun, meski aku tak bisa merengkuhnya dalam dekapanku. Sialnya, aku begitu mencintai bajingan itu.
Bajingan itu bernama Irham Ramadhan.

“Sayang sama cinta itu definisinya suka diartikan sama, La. Tapi menurut aku, kalau sayang belum tentu cinta, tapi kalau cinta, sudah pasti sayang. Sedangkan ‘suka’, itu kata yang universal. Ngerti nggak?”, celetuk Riris begitu kami sampai di tempat parkir.
“Iya, aku ngerti. Aku sadar banyak yang aku sayangi, tapi Cuma satu yang aku cintai selain Tuhan dan orangtua.”
“Ya udah, jangan pakai alasan ‘sayang’ itu buat bergalau-galau nggak jelas lagi.”
“Habis ini aku cari gebetan lain, deh.”
“Baguus!”, Riris mengacungkan kedua jempolnya padaku.
Aku tersenyum tipis padanya yang kemudian berjalan menghampiri Aldi, kekasihnya. Hujan sudah reda, aku pun bergegas untuk pulang dengan membawa hati yang lebih lapang.

Untuk Kalian



Untukmu wahai Si Musisi Tampan.
Aku menitipkan banyak rindu menggebu dalam dada. Menantikan waktu untuk bertatap juga bercakap. Mari kita tetap jalin pertemanan baik. Lupakan segala peristiwa tengik. Abaikan semua kenangan pahit di masa lalu. Dan jangan kau ulangi kebodohan dan kekhilafan yang sama. Aku pun berharap agar tak ada lagi kesalahan yg terulang.
Aku tak lagi mengharapkan balasan darimu, namun aku masih mencintaimu seperti dulu.


Untukmu wahai Si Bobotoh Ikal.
Aku tak pernah bosan menunggu sepucuk kabar darimu. Meski sikapmu tak acuh dan seolah tak menganggapku ada, aku tak pernah tersinggung akan itu. Meski aku tak tau apa yg sebenarnya kau pikirkan tentang aku, aku masih menghargaimu sebagai seorang yg pernah mengisi hatiku. Aku terus berharap semoga kelak kita dipertemukan. Kemudian menjadi teman baik setelahnya.
Aku masih menyayangimu, seperti apa yg pernah kukatakan dulu. "Apapun yg terjadi, aku akan tetap menyayangimu".

Untukmu wahai Si Mangaka Keren.
Aku selalu berharap semoga kita tetap menjadi teman baik. Meski sempat berharap kita bisa lebih dari itu. Karena saat itu aku merasa kaulah yg berhasil menarikku agar kembali membuka hati. Semoga takdir segera mempertemukan kita. Aku tak sabar berbincang banyak hal dan berbagi tawa canda denganmu.
Aku masih menyukaimu, sekalipun wajahmu belum pernah sekalipun kutatap langsung.


Kutulis untuk mereka, tiga lelaki yg bersedia singgah dalam hati.. Aku mencintai mereka :)

Rabu, 12 November 2014

Biarkan Aku Mengaku Padamu



Aku merasa begitu kacau.
Dan aku merasa begitu aneh pada diriku sendiri.
Perasaanku tiba-tiba berubah ketika aku membaca kabar kepergianmu.
Padahal kau tau, jika selama ini aku begitu tak acuh padamu. Ketika dengan ramahnya kau menanyakan kabarku, mencoba untuk mempedulikanku, yang kulakukan hanyalah mengabaikan semua yang kau lakukan.
Aku tak baik saat menanggapimu bicara, yang kulakukan hanyalah terus-terusan berucap dengan ketus padamu.
Aku tak pernah mencoba mengajakmu bicara, sikapku seakan tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan.
Namun yang membuatku tercengang, kau masih saja bersedia mengajakku mengobrol walau sebentar.

Namun apakah kau tau jika sebenarnya aku tidak tega berbuat demikian padamu?

Aku merasa serba salah.
Di satu sisi aku ingin menghindarimu. Aku ingin kau menghilang dari hidupku.
Namun di sisi lain aku merasa sangat rindu jika kau tak memberi kabar.
Di satu sisi aku ingin berkawan baik denganmu.
Namun di sisi lain aku terlalu takut jika kembali menelan kecewa.

Biarkan aku mengakui ini padamu.
Sejujurnya, aku masih sangat mempedulikanmu.
Aku tidak ingin bersikap ketus. Aku tidak tega bersikap jutek padamu.
Tapi aku harus melakukannya. Aku harus membentengi hatiku agar tak kembali goyah karenamu.
Memang aku merasa rindu, namun aku akan lebih tenang jika kau tak ada.
Karena aku tau, kau akan datang dan pergi seperti angin. Datang tiba-tiba, lalu pergi setelahnya.

Sekali lagi, biarkan aku mengakui ini padamu.
Dulu aku pernah berdoa agar kita tidak lagi dipertemukan. Aku berdoa dan memohon padaNya agar kau benar-benar menghilang dari hidupku.
Aku sangat memohon agar tidak diberi kesempatan satu kalipun untuk menatap wajahmu. Aku selalu meminta agar tidak lagi mengingat nama, rupa, dan segala hal tentangmu.
Dan saat ini, Sang Maha Mendengar tengah mengabulkan doaku dulu.
Akhirnya aku tidak diberi kesempatan untuk bertatap muka denganmu. Sama sekali.
Disaat aku kembali setelah 2 tahun meninggalkan kampung halaman, kau justru tak ada di kota yang sama.
Tragisnya, aku datang di hari yang sama dengan kepergianmu yang entah kemana.
Menurutmu, bagaimana perasaanku?

Kini, aku kembali berdoa padaNya. Aku memohon agar nantinya aku tidak menyesal atas doaku dulu.
Karena kini aku baru menyadari setelah sekian menit menatap langit.
Biarkan aku kembali mengakui ini padamu.
Jauh di lubuk hatiku..

Aku. Masih. Terlalu. Mencintaimu.


Untuk Mr. ‘J’