Senin, 20 Oktober 2014

Berbeda



“Kamu nggak berubah ya dari dulu,”, ucapnya setelah sekian detik mengamati penampilanku dan cara bicaraku.
Aku meneguk jus alpukatku, “Justru bagus kan kalau nggak berubah. Itu artinya aku orang yang konsisten.”
Dia tersenyum tipis. “Iya deh yang konsisten. Eh, kamu ngga ada jadwal kuliah hari ini?”
Aku melirik arlojiku yang menunjukkan pukul 2 siang, “Ada kelas nanti jam 4 sore.”, jawabku sekenanya. Odie mengangguk mengerti.
Ada perasaan aneh menyelimuti. Sudah lama sekali rasanya aku dan dia tidak saling berbincang seperti ini. Terakhir kali kami saling menyapa pun hanya lewat media sosial. Selama ini aku bahkan tidak pernah melihat batang hidungnya, padahal kini kami berada dalam satu kota yang sama, tidak seperti dua tahun lalu. Ya, dua tahun lalu dia memutuskan untuk kerja diluar kota dan menjalani hubungan jarak jauh denganku. Namun hubungan kami tidak bertahan lama, karena tepat di bulan ketujuh kami bersama, kami akhirnya sepakat untuk menyudahi hubungan ini.
Semenjak itu aku dan dia bersikap seolah tidak pernah saling mengenal. Tidak pernah saling berkomunikasi, tidak pernah mencoba untuk mengadakan pertemuan kembali. Pernah suatu kali aku menyapanya lewat media sosial, tapi dia menanggapi sekenanya saja. Dia tidak balik menanyakan kabar atau apapun. Jangankan untuk menanyakan kabar, mengirimkan ucapan selamat ulang tahun padaku pun tidak.
Ya, segala perasaan itu telah berubah seiring berjalannya waktu. Perasaan hangat dan penuh cinta yang dulu kami rasakan, kini berganti menjadi perasaan canggung yang membuat suasana tidak nyaman. Dan jujur saja, aku tidak bisa menutupi perasaan aneh ini dari mimik wajahku. Karena aku memang tidak punya bakat akting. Namun ketika aku melihat ekspresi wajahnya, aku tidak melihat mimik yang sama denganku. Dia terlihat begitu santai, seolah dia telah melupakan apapun yang terjadi di masalalu. Kurasa begitu.
“Odie..”, panggilku pelan. Dia mendongakan wajahnya yang tertunduk karena sibuk memandangi layar handphonenya.
“Kenapa, La?”
“Engga, aku ngerasa aneh aja sama kamu. Kenapa nggak dari dulu aja kita begini, duduk berdua, ngobrol kesana kesini. Bukannya saling diam dan mungkin juga saling memaki dalam hati.”, aku tersenyum miris. “Apa itu tandanya kamu udah bener-bener maafin aku sekarang?”
Odie sedikit tercengang mendengar pertanyaanku. “Kenapa jadi bahas itu?”
“Ya nanya aja.”,ucapku tenang.
Odie mengangguk mengerti. “Nggak tau juga ya. Mungkin karena baru sekarang ini aja aku dikasih kesempatan buat ketemu kamu lagi. Kebetulan bulan ini kontrak kerjaku habis, dan sementara nunggu ada panggilan kerja lagi, aku mutusin buat pulang kampung. Eh, ketemu kamu disini.”
“Berarti selama ini kamu nggak ada niatan buat ngajakin aku ketemu lagi dong ya?”
“Mau jawaban jujur apa bohong?”
“Jujur lah.”
“Hmmm,”, Odie memandangku sambil bergumam pelan. “Jujur aja enggak.”
Seketika aku merasa mendapat cubitan kecil di tanganku.
“K-kenapa?”, tanyaku.
“Karena aku udah tau kalau kamu nggak bakalan berubah, La.”
Aku tersentak. “Maksudnya?”
Odie menyandarkan punggungnya ke bangku kafe. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
“Nggak usah sok nggak ngerti lah.”
Aku menggaruk dahiku, “Apaan sih? Kamu ngomongin soal apa?”
Odie mendesah pelan. “Perasaan kamu, juga sikap terlalu konsisten dan setianya kamu itu yang aku maksud. Dulu aku ngerasa takut kalau nemuin kamu, tapi masih begitu begitu aja. Aku bakalan dapet apa coba, kecewa lagi?”
Aku tidak menyahut. Otakku mencoba untuk mencerna baik-baik ucapan Odie yang terasa aneh. Perasaan yang konsisten? Tunggu, apa yang dia maksud adalah..
“Kamu.. masih punya perasaan itu buat Irham?”, tanya Odie tajam. Seketika aku terhenyak kaget. Ternyata dugaanku benar, yang dia maksud adalah tentang Irham.
Seketika perasaanku menjadi tidak karuan mengingat permasalahanku dulu dengan Odie juga Irham. Ya, dengan teganya aku mengakui pada Odie –yang saat itu menjadi kekasihku, bahwa aku masih terlalu mencintai Irham, yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Dan tentu saja, pengakuanku itu yang akhirnya membuat hubungan kami berakhir tanpa basa basi lagi.
Oke, aku memang perempuan kejam yang tidak bisa membohongi perasaan sendiri.
“Masih kan?”, ulang Odie, kali ini matanya tajam memandangku.
“Die..”
Odie mendengus. “Udah aku duga, pasti kamu masih punya perasaan itu buat Irham. Ya ampun Olla.”
“Tapi sekarang udah nggak seperti itu, Die. Sekarang segalanya udah beda.”, bantahku.
“Aku salut lah sama kesetiaan kamu yang nggak ada habisnya itu. Salut banget. Jarang lho ada cewek yang begitu setianya mempertahankan cintanya buat orang yang jelas-jelas nggak punya perasaan apapun ke dia.”, Odie mengangkat kedua ibu jarinya ke udara.
Aku menggeleng keras. “Enggak Die, kamu salah paham.”
“Salah paham dari mananya? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau nggak ada yang bisa menggantikan posisi Irham di hati kamu? Sekarang kamu menjilat ludah kamu sendiri.”
Aku menghela napas pendek. “Iya, aku pernah bilang seperti itu dulu. Tapi sekarang semuanya udah lain. Udah beda, udah nggak seperti dulu lagi.”
“Apa yang kamu harapin sih dari Irham itu? Kayaknya kok yakin bener kalau dia bener-bener mau sama kamu. Olla, aku kasih tau sekali lagi, dia itu udah punya pacar. Kamu bersedia buat jadi selingkuhannya?”
“Odie!”
“Apa? Nyatanya memang begitu kan?”
Aku mencoba meredam emosiku yang mulai berkobar. Odie masih memandangku dengan tatapan tajam yang menyebalkan. Kenapa pula dia harus membahas masalah ini disaat pertemuan kami yang setelah sekian lama tak saling sapa?
“Kenapa sih kamu nggak ngerti juga sama penjelasan aku? Aku udah nggak punya perasaan yang kayak dulu lagi, Die. Aku udah berubah. Segalanya udah berbeda!”
Odie tersenyum tipis, “Sebenarnya kalau kamu masih punya perasaan yang sama pun nggak akan merubah apapun, La. Yang memuakkan adalah segala celotehanmu di media sosial yang nggak pernah ada habisnya buat dia.”
Aku tercengang. “A-apa?”
“Aku muak sama segala celotehan kamu di media sosial, La. Muak!”, tukas Odie lantang, seraya memalingkan wajahnya kearah lain.
Apa ini? Jadi sebenarnya Odie masih menyimpan kemarahannya dua tahun lalu sampai sekarang? Aneh, karena aku merasa dia begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Apalagi dilihat dari sekian banyak foto mesranya dengan kekasih barunya itu.
Tapi nyatanya?
Aku mendengus. “Kalau kamu muak sama semua itu, kenapa kamu nggak blokir aku aja sekalian?”
“Maunya begitu, tapi aku tau sifat kamu, La. Kalau kamu tau aku blokir pertemanan, pasti kamu makin meracuni timeline sama celotehan galaumu yang nggak ada habisnya itu. Iya kan?”, tanya Odie dengan nada retoris.
“Aku agak kagum sama daya ingat kamu, Die. Kamu sampai paham banget gimana sifat dan kebiasaan aku.”
“Gimana nggak ingat, semuanya tentang kamu itu.. “
“Apa?”
Odie kembali memandangku tajam. “Memuakkan.”
Kembali kurasakan sebuah cubitan keras ditanganku. Kali ini terasa begitu sakit. Aku merasa kini ada genangan kecil di pelupuk mataku.
Jadi selama ini, itukah alasan kenapa Odie begitu enggan menyapaku juga enggan menjalin hubungan pertemanan yang baik denganku, karena aku begitu memuakkan baginya?
Tapi yang sesungguhnya kini keadaan sudah sangat berbeda. Perasaanku pada Irham tidak lagi sama seperti dulu. Yang selalu aku galaukan selama ini adalah tentang Remy, bukan Irham. Namun Odie hanya berpikir tentang Irham, Irham dan Irham lagi. Dia masih terpaku pada ucapanku dua tahun lalu, dia masih berpikir kalau aku tidak berubah. Padahal nyatanya, hatiku kini tak lagi untuk dia. Aku memang tidak bisa sepenuhnya melupakan orang itu, tapi aku tidak lagi merasakan cinta yang seperti dulu lagi. Segalanya sudah berbeda.
Tapi kenapa Odie sulit sekali untuk mempercayainya?
Aku kembali menghela napas panjang. “Kamu ngerasa aneh nggak sih, dulu kita dengan gampangnya saling bicara tentang cinta, tentang sayang. Dulu kita saling memiliki, saling melengkapi, bahkan pernah berjanji akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Tapi hari ini seakan membuktikan kalau apa yang pernah kita janjikan dulu Cuma sekadar omong kosong. Nggak ada artinya lagi. Atau bahkan nggak pernah berarti apa-apa.”
Odie tidak menyahut, dia malah sibuk dengan handphonenya.
“Die..kamu dengerin aku nggak sih?”
Odie menyimpan handphonenya kembali dalam saku celananya. “Iya aku tau. Bukannya kamu udah tau sendiri, kalau sekarang semuanya udah berubah. Udah beda.”
Aku mengangguk mengerti. “Begitupun aku, Die. Sekarang tolong hilangkan prasangka buruk kamu tentang aku. Aku nggak punya perasaan lagi sama Irham, aku udah benar-benar merelakan dia. Kamu bisa percaya ucapan aku kan?
Odie tidak menyahut. Dia hanya menatapku sekilas dan meneguk jus jeruknya hingga tandas.
“Pacar aku udah nungguin, aku pergi duluan ya. Minumannya udah aku bayar.”, ucapnya seraya beranjak dari kursi.
“D-die..”
Odie tidak menolehku lagi dan pergi begitu saja tanpa basa basi lagi.
Aku termangu di tempat, memandangi kepergiannya yang meninggalkan sejuta sesak dalam dada.
Apa ini balasan dari kamu, Die? Memperlakukanku begitu seenaknya dan mengabaikan semua ucapanku bahkan tidak mempercayainya. Baiklah, aku anggap sekarang kita impas. Semoga kelak kita dipertemukan kembali, namun tidak dengan suasana seperti ini.
Kamu tau sendiri kan, betapa inginnya aku menjalin hubungan pertemanan yang baik denganmu?
Aku tersenyum getir, air mata yang sedari kutahan akhirnya menetes perlahan.

Rabu, 15 Oktober 2014

Tentang Karma



Mataku masih memandang layar handphone sambil sesekali menyunggingkan senyum miris. Ada perasaan iri ketika melihat berbagai kiriman foto teman-teman di akun media sosialku. Sebenarnya Cuma foto sepele, namun aku melihatnya dengan perasaan berbeda. Ya, mataku seketika berkaca-kaca bila melihat foto sepasang kekasih yang berpose dengan mesra. Bukan cuma foto sepasang kekasih saja, ada banyak foto-foto pre-wedding yang  menghiasi linimasaku. Aku Cuma bisa menghela napas ketika melihatnya. Detik itu juga aku merasa dunia ini begitu tidak adil. Bagaimana bisa orang lain tersenyum begitu lepasnya, memamerkan kemesraan dengan pasangannya tanpa ragu, dihadapan seorang single seperti aku? Dan kenapa sampai saat ini aku masih sendiri tanpa pasangan menemani? Sungguh tidak adil rasanya.

Aku meletakkan handphone disamping bantal dan mencoba memejamkan mataku, begitu melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun tiba-tiba ada yang mengganggu pikiranku, entah kenapa aku jadi teringat dengan para mantan kekasihku. Aku teringat pada mantan kekasih pertamaku ketika aku duduk di kelas 3 SMP, empat mantan kekasihku saat aku duduk di kelas 1 SMK, tiga mantan kekasih ketika di kelas 2 SMK, dan dua orang mantan kekasihku saat duduk di kelas 3 SMK. Juga, seorang mantan kekasih yang menjalin hubungan jarak jauh denganku, disaat umurku 18 tahun. Dan dari sekian banyak mantan kekasihku, aku hanya berhubungan paling lama 7 bulan. Tidak pernah lebih dari itu.
Aku tertegun sendiri mengingatnya. Aku baru sadar, rupanya aku memiliki banyak mantan kekasih. Itu artinya dulu aku begitu mudah jatuh cinta, mudah menerima cinta, dan mudah pula untuk menyudahi hubungan.
Aneh. Ya, aku merasa begitu aneh pada diriku sendiri. Aku yang dulu seperti orang yang senang bermain-main dengan perasaan. Aku yang dulu seperti orang yang tidak bisa memahami makna cinta yang sebenarnya. Mungkin karena dulu aku orang yang sangat labil dan kurang memahami perasaanku sendiri.
Aku ingat ketika usia 16 tahun, aku seringkali didekati oleh beberapa laki-laki. Jujur saja aku merasa begitu senang dan berharap bisa memiliki mereka semua. Aku ingat ketika itu aku menerima cinta mereka hanya karena aku ingin ada jawaban ketika temanku bertanya ‘pacarmu anak mana?’. Dan kini aku baru sadari jika dulu aku tidak memahami perasaanku sendiri, aku tidak benar-benar merasakan cinta itu terhadap beberapa mantan kekasihku dulu. Aku menerima perasaan mereka hanya karena melihat banyak temanku sudah memilki kekasih, dan aku tidak mau kalah dengan mereka. Aku pun harus memiliki kekasih juga, tanpa memikirkan apa perasaanku sebenarnya. Aku tidak menyadari keegoisanku itu dulu dan mengesampingkan apa yang disebut ‘cinta’ itu. Pada akhirnya, aku hanya bisa melukai banyak orang, melukai para mantan kekasihku yang tulus menyayangiku.
Ya, aku jahat, egois, kekanakan, juga konyol.
Namun ada perubahan drastis begitu aku memasuki  usia 17 tahun. Usia dimana aku perlahan mulai bisa memahami perasaanku sendiri. Apalagi ketika aku berkenalan dengan seseorang, menjalin hubungan dengannya, dan akhirnya dia meninggalkan aku ketika hubungan kami baru berjalan satu bulan. Disaat itulah aku baru merasakan betapa sakitnya hatiku, betapa sedihnya aku berpisah dengannya. Dan ketika itupun aku baru menyadari, jika ada orang yang melukaiku begitu dalam, itu artinya dialah yang benar-benar aku cintai.
Ya, akhirnya karma itu datang juga.
Tidak cukup sampai disitu, karmaku berlanjut ketika aku ditakdirkan untuk jatuh cinta dengan seseorang yang tidak bisa aku miliki. Dialah orang yang menikam hatiku tanpa ampun ketika umurku 18 tahun. Ketika itu aku begitu menyukainya, begitu menaruh banyak harap padanya dan ingin dia juga merasakan hal yang sama. Namun apa yang kudapat justru sebaliknya, dia meninggalkanku dengan begitu tega. Ya, aku kembali dibuat sakit hati.

Ironis. Jika mengingat beberapa tahun lalu dengan mudahnya aku mendapatkan seseorang untuk menjadi kekasihku, dengan mudahnya aku merasa disayangi, kini aku hanya bisa memandangi berbagai kiriman foto pasangan yang bertebaran di akun media sosialku dengan senyum miris. Aku tidak bisa memamerkan kemesraanku dengan pasanganku melalui media sosial seperti mereka, aku tidak bisa menunjukkan pada dunia ‘ini lho kekasihku yang paling kucintai dan mencintaiku sepenuh hatinya’. Jangankan untuk mendapatkan seorang kekasih, yang ada justru hatiku patah begitu tau orang yang kusukai sudah memiliki kekasih. Jangankan untuk merasa dicintai, yang ada justru aku terus merasa dilukai.
Dan luka itu terasa membengkak selama dua tahun belakangan ini. Selama dua tahun semenjak usiaku 18 tahun hingga kini sudah 20 tahun, aku merasa kisah asmaraku semakin menyebalkan saja. Ya, menyebalkan juga menyedihkan. Tidak banyak laki-laki yang mendekatiku seperti saat umurku 16 tahun. Tidak ada lagi jawaban untuk pertanyaan ‘pacarmu anak mana?’. Juga tidak ada lagi perasaan sesaat yang datang dan pergi dengan mudah. Kini aku sudah bisa memahami perasaanku sendiri, aku sudah bisa memahami apa itu simpati dan apa itu rasa sayang.
Dan selama dua tahun terakhir ini, aku merasa begitu gagal dalam urusan asmaraku sendiri. Ironisnya, aku mengalami kegagalan ini dengan beruntun tanpa ampun. Mulai dari dicampakkan oleh orang yang sangat aku sayangi kala itu, dilanjut dengan menjalin hubungan jarak jauh yang kandas tanpa sempat bertemu, dan akhirnya kembali merasakan cinta bertepuk sebelah tangan yang menyakitkan. Kacau, aku merasa begitu galau. Pahit, sedih, kecewa, dan begitu terluka. Karma datang bertubi-tubi.

Ada perasaan aneh yang mengganjal dalam hatiku, ada berbagai pertanyaan menumpuk dalam kepalaku. Apa yang salah denganku selama ini? Apa yang menyebabkan aku mendapat banyak luka ini? Apa karena aku yang dulu selalu meremehkan mereka yang tulus menyayangiku? Mungkinkah karena aku dikutuk oleh mereka yang dengan sengaja atau tidak aku sakiti hatinya? Apakah ini sebuah pertanda agar aku lebih memahami arti cinta dan berhenti untuk bermain-main dengan hati? Juga, apakah aku ditakdirkan mendapatkan semua karma ini agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik?
Aku tidak yakin, namun aku merasa semua ini terjadi agar aku bisa belajar dan lebih memahami perasaanku sendiri. Dulu aku melukai banyak orang, dan aku balik dilukai sebagai balasannya. Dulu aku tidak benar-benar mencintai mereka yang tulus mencintaiku, dan aku balik dicampakkan oleh dia yang benar-benar aku cintai.

Ya, mungkin sudah sepatutnya jika luka dibalas luka. Dan bahagia akan datang setelah luka itu mengering. Semoga saja.

Rabu, 08 Oktober 2014

Terimakasih, Kamu



Waktu menunjukkan pukul 3 sore dan aku masih berkutat dengan laptopku, duduk seorang diri di pojok kafetaria  kampus dan hanya ditemani secangkir kopi mocca yang sudah dingin. Suasana kafetaria sore itu sudah tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini hari Sabtu jadi hanya beberapa yang terlihat mondar mandir di kampus. Sedangkan aku memang ada kelas pagi hari ini, dan harusnya aku sudah pulang semenjak pukul 11 siang tadi. Tapi yang ada aku malah menghabiskan waktu di kafetaria hanya untuk menikmati wifi gratis. Tadinya aku meminta Riris untuk menemaniku, tapi dia lebih memilih pulang dengan pacarnya. Ya, dia memang tipikal teman yang sangat baik.. pada pacarnya sendiri.
Aku menguap lebar seraya meneguk kopiku hingga tandas. Mataku memandang sekeliling, aku baru pernah melihat suasana kampus begini sepi. Atau mungkin di lingkungan gedung fakultasku saja? Yang dari tadi terlihat hanya anak-anak fakultas hukum yang gedungnya paling dekat dengan gedung fakultas bahasa.
Aku tercenung. Tiba-tiba terlintas satu nama dalam kepalaku; Remy. Dia kan anak hukum, apakah dia juga sedang disini sekarang? Ah, apa-apaan ini? kenapa aku jadi mempedulikan dia sedang berada disini atau tidak? Aku menepuk dahiku sendiri kemudian kembali menyibukkan diri dengan laptopku.
“Hei, Ol!”,
Aku terperanjat kaget. Suara itu terdengar begitu familiar. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilku ‘Ol’.
Aku mengangkat kepalaku. Dan dugaanku benar.
“Oh.. hai.”, sahutku pada orang itu. Remy Anggara.
Laki-laki dengan senyum menawannya itupun langsung duduk disebelahku. “Sibuk, Ol?”, tanyanya sambil menengok layar laptopku.
“Ah, engga. Cuma lagi browsing aja.”, jawabku sekenanya. Tiba-tiba aku teringat pertemuan terakhirku dengan Remy tempo hari. Ketika aku bertemu dengan dia juga kekasihnya. Seketika perasaanku menjadi aneh.
“Kamu ada kelas hari ini?”, tanyaku. Remy mengangguk.
“Iya, jadwalnya sih malah sampe malam. Tapi ternyata Cuma sampai jam segini aja. Kena PHP dosen lagi deh.”, jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Oh..”
“Kamu pulang naik apa Ol?”
Aku sedikit tersentak mendengarnya. Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan dia..
“Naik bus paling.”, jawabku. “Motorku lagi masuk bengkel, lagi servis.”
“Oh kalau gitu bareng aku aja pulangnya. Kebetulan aku mau ke daerah komplek kostmu itu.”, katanya dengan wajah sumringah.
Aku mendadak bingung hendak merespon apa. Apakah aku harus menerima ajakannya? Atau aku tolak saja?
“Mau ngga? Ya terserah aja sih, tapi kalau menurut aku mending sama aku aja daripada harus naik bus sore-sore gini yang jamnya macet, mana berdesakan, panas pula.”
“Eeng..”, aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. “Ya udah deh.”
Remy tersenyum lebar.
*
“Nih.”, Remy menawarkan jaketnya untuk aku kenakan. Aku yang dalam kondisi sedikit menggigil menggeleng pelan.
“Ngga usah, Rem. Pake kamu aja.”, tolakku halus.
Mataku memandang langit yang mulai gelap. Entah bagaimana ceritanya, saat diperjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku dan Remy pun memutuskan untuk berteduh di emperan toko. Hanya aku dan Remy yang berteduh disana. Dan suasana canggung tentu saja seketika menyeruak.
Tiba-tiba Remy mendekat dan mengenakan jaketnya padaku. Aku tercengang.
“Harusnya tadi kamu bawa jaket dari rumah. Mana tau kan kalau bakal hujan tiba-tiba begini.”, kata Remy masih dengan senyumnya yang menawan.
Aku tidak menyahut. Pikiranku kembali pada kejadian tempo hari, hari dimana aku bertemu Remy dan kekasihnya. Saat itu sore hari dan juga tengah hujan deras.
Aku meringis mengingatnya. Kenapa bisa seperti itu? Kenapa aku ditakdirkan untuk bertemu Remy dalam suasana seperti ini? Apakah ini merupakan sebuah pertanda? Tapi pertanda apa? Pertanda untuk melupakan dan mengenyahkan namanya dari hatiku?
“Ol..”, panggil Remy pelan, membuyarkan lamunanku.
“H-hah? Apa Rem?”
“Can I ask you something?”
Aku mengangkat alisku. “Mau tanya soal apa?”
“Tapi kayaknya mendingan kita kesitu dulu deh, kayaknya ada warung kopi tuh. Nggak enak kali ngobrol disini. Mana dingin.”, tunjuk Remy pada sebuah warung yang berada diseberang toko.
Aku mengangguk, “Ya udah.”
Dengan menggunakan jaket Remy yang dijadikan payung dadakan, aku berjalan beriringan dengan Remy. Dan entah kenapa, jantungku ini berdebar dengan kencangnya.

“Tadi kamu mau ngomongin soal apa?”, tanyaku begitu pelayan mengantar pesanan kopi dan kue kami.
“Ah iya,”, Remy membetulkan posisi tempat duduknya. “Sebenarnya aku udah mau nanyain ini sejak lama sama kamu.”
“Nanyain soal apa?”
Remy menghela napas pendek, “Sebenarnya kamu lagi kenapa sih, Ol?”
Aku mengerutkan dahiku, “Kenapa apanya? Aku baik-baik aja.”.
“Tapi menurutku enggak begitu.”
“Emangnya aku terlihat gimana?”
“Kamu kayak lagi galau. Bener?”
Aku tersentak. Kenapa dia bisa tau?
“Aku sering baca status galaumu di timeline Twitter belakangan ini. Di PM BBM juga begitu. Apa ada seseorang yang melukai hati kamu?”, tanya Remy dengan begitu tepatnya.
Iya, itu kamu. Jawabku dalam hati.
Aku berusaha menjawab dengan tenang, “Engga kok, aku baik-baik aja. Tulisan galau itu Cuma iseng-iseng belaka. Tau sendiri kan aku anak bahasa, ya merupakan hal yang wajar kalau aku suka ngerangkai kata-kata.”, jawabku.
Mimik wajah Remy berubah, dia seperti tidak mempercayai jawabanku.
“Ol, kalau ada cewek ditanya ‘kenapa?’ dan dijawab ‘nggak apa-apa’ berarti memang ada apa-apa.”
“Loh, nyatanya aku memang nggak apa-apa Rem. Aku Cuma iseng doang.”
“Iseng?”, kali ini Remy memandangku lebih dekat. “Kamu nggak keliatan begitu.”
Aku mengibaskan tangan didepan wajah Remy, “Udahlah Rem, aku tuh nggak apa-apa. Serius.”
“Ayolah Ol, katakan yang sebenarnya. Siapa tau aku bisa membantu kamu.”
Aku menghela napas pendek, “Kenapa kamu begitu peduli? Memangnya kalau aku beneran kenapa-kenapa, apa itu mengganggu kamu?”, tanyaku tajam.
Remy mengangguk, “Aku teman kamu, Ol. Wajar kan kalau aku peduli dengan temanku? Tapi ya kalau kamu nggak mau cerita, oke, aku hargai privasi kamu.”, ucap Remy tenang seraya meneguk kopinya.
Aku terdiam. Ada pertentangan dalam hati dan pikiranku. Hatiku seolah memaksa agar aku mengatakan semuanya pada Remy. Tapi aku berpikir jika aku mengatakannya, apa akan merubah keadaan? Kurasa tidak.
Mataku memandang keluar. Hujan masih deras dan aku rasa waktuku masih panjang di warung kopi ini. Kuteguk teh hangatku perlahan sambil terus menimang nimang apakah aku harus menceritakan semua kerisauanku selama ini pada Remy atau tidak. Apa bukan hal yang salah jika aku mengakui tentang perasaanku padanya?
Remy tidak bertanya lagi, dia kini sibuk dengan handphonenya. Suasana menjadi canggung kembali. Aku menggigit bibir bawahku. Mungkin harusnya aku katakan saja.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. “Rem..”
Remy mengalihkan pandangannya dari layar handphone kearahku. “Ya, Ol?”
“Aku mau jujur satu hal sama kamu. Aku tau mungkin yang mau aku katakan ini nggak bakal berpengaruh apapun, tapi aku Cuma ingin kamu tau tentang apa yang aku pendam selama ini.”, ucapku dengan nada sedikit bergetar karena gugup.
“Oh, tentang apa?”
Aku kembali menghela napas, “Ya, kamu bener. Ada seseorang yang melukai hati aku.”
Remy tercengang. “Apa aku boleh tau siapa dia?”, tanyanya penuh antusias.
“Dia.. teman kuliah aku. Kami kuliah di kampus yang sama namun di fakultas berbeda. Meski begitu kami sering bertemu karena gedung fakultas kami berdekatan.”, jawabku dengan tenang. Remy terlihat memperhatikan ceritaku.
“Apa dia orang yang aku kenal?”, tanya Remy lagi. Aku mengangguk.
“Iya, kamu sangat mengenalinya.”
“Apa dia tampan?”
Aku menahan tawaku, “Iya, tampan sekali.”
“Apa dia seorang mangaka?”
Aku sedikit tersentak.
“H-hah..”
“Apa dia adalah aku?”
Aku terperanjat kaget. Seketika aku merasa ada ratusan bunyi petasan dibelakangku.
“Apa aku benar?”, tanya Remy, kali ini dengan mimik wajah serius.
Aku bergeming. Entah kenapa rasanya bibir ini terkunci, seolah tak sanggup berkata apa-apa lagi. Siapa Remy itu? Apa dia seorang paranormal?
“Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?”, tanyaku setelah sekian menit hanya bisa terperangah.
Remy tersenyum tipis, “Aku nggak berpikir, tapi aku merasa. Jadi aku benar?”
Dia merasa? Jadi selama ini dia tau jika aku menyukainya? Tapi kenapa dia malah..
“Ol..”
Aku mengangguk pelan. “Iya, kamu benar.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Kalaupun aku bilang, apa kamu bisa menerima perasaanku ini?”, aku kembali menghela napas panjang.
“Aku udah lama suka sama kamu Rem. Aku terlalu nyaman sama kamu sampai aku berharap terlalu tinggi kamu bisa merasakan hal yang sama. Tapi nyatanya aku keliru, aku rasa selama ini kamu Cuma menganggap aku teman biasa.”, ungkapku tanpa ragu.
Remy memandangku dengan nanar. “Tapi kenapa? Kenapa kamu bisa suka sama aku?”
“Kenapa ya? Aku juga nggak tau pasti. Aku Cuma merasa kamu begitu spesial.”, jawabku dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Tapi yang bikin aku nggak nyangka, kenapa disaat kamu udah tau tentang perasaanku, kamu malah jadian sama orang lain? Apa kamu sengaja melakukan itu biar aku nggak mengharapkan kamu lagi?”
Remy tersentak mendengar pertanyaanku. “Maaf, Ol. Bukannya bermaksud menyakiti kamu, tapi aku memang nggak punya perasaan lebih buat kamu.”
Aku mendengus, “Iya aku tau. Udah keliatan jelas.”
“Tapi aku respect sama kamu, Ol. Aku harap kita bisa tetap jadi teman baik ya.”, Remy menggenggam tanganku, dan seketika aku merasa hangat.
Aku tersenyum tipis, “Iya. Kita bakal jadi temen baik sampai kapanpun.”
Tepat di detik itu, air mataku menetes perlahan. Entah kenapa, perasaan sakit itu seolah kambuh lagi.
Terlihat diluar hujan mulai reda seakan menunjukkan empatinya padaku. Ya, seolah memintaku untuk menghentikan derai air mataku dan segera mengeringkannya. Sebuah pertanda jika aku harus mengobati luka dan menata hatiku kembali. Dan sore ini, aku telah diberi kesempatan untuk mengungkapkan segala risau yang ada, membuang segala sakit yang kurasa. Bersama hujan yang turun dengan derasnya.
*
“Ol..”, panggil Remy begitu kami keluar dari warung kopi itu.
“Hm?”
“Maaf ya kalau aku menyakiti hati kamu.”
Aku menepuk bahunya pelan, “Udahlah, lupain aja.”
“Kamu berhati besar, Ol.”
“Ah, enggak. Aku nggak sekuat yang kamu pikirkan. Ini aja aku lagi nahan biar ngga nangis.”, ucapku dengan nada bercanda.
Remy menggeleng keras. “Plis jangan nangis Ol. Kamu cewek yang kuat, kayak Chitoge Kirisaki.”
“Dan kamu cowok yang begitu pengertian, kayak Raku Ichijou.”
Remy tertawa pelan. “Iya, aku kayak Raku. Eh, bukan. Aku kayak Al Gazali.”
Aku menepuk bahu Remy, kali ini lebih keras. “Dih!”
Kami pun tertawa serempak, kemudian berjalan meninggalkan warung kopi yang menjadi saksi bisu pengakuan perasaanku pada Remy sore itu. Dan jujur saja, meski tidak merubah apapun, aku merasa begitu lega setelah mengatakannya.

“Rem..”, panggilku sebelum Remy menyalakan mesih motornya. Dia menoleh.
“Kenapa?”
“Terimakasih.”
Remy tercenung, “Terimakasih buat apa, Ol?”
Aku tersenyum tipis, “Terimakasih karena udah pernah menjadi orang yang begitu spesial buat aku. Dan maaf juga kalau selama ini aku menyusahkan kamu dengan sikapku yang kekanakan.”, ucapku tulus.
Remy tidak menyahut, dia hanya menggenggam tanganku erat. Memasang senyum menawannya untuk kesekian kali. Namun kali ini senyumnya seolah mengisyaratkan agar aku  tak perlu lagi merasa terpesona padanya.
Perasaanku kini padanya, sudah benar-benar berakhir. Bersamaan dengan redanya hujan sore ini.