Sabtu, 21 Januari 2017

Tell Me Why (part 2)

Deg!
Kembali lagi terjadi seperti ini. Perasaan aneh yang belakangan sembarangan muncul ketika aku klik send.Aku menghela napas dalam. Entahlah, aku selalu berdebar cuma karena melakukan hal sepele semacam itu. Mungkin bagi orang lain terlihat biasa, tapi bagiku, ini sedikit membuat nervous.
Aku meletakkan ponsel pintarku di atas meja, enggan meliriknya. Mendadak aku merasa tidak ingin menyentuh ponsel selama beberapa jam. Apa-apaan ini? Apakah aku kembali menjalani pubertas?
Yang benar saja.
Brak! Aku mendengar suara pintu dibanting. Aku mendengus, sudah tahu siapa pelakunya.
"Tumben sepi, biasanya genjrang-genjreng nyanyi ngga jelas lu.", celetuk Andra, sahabatku sejak awal masuk kuliah hingga kini sama-sama bekerja sebagai Teknisi di sebuah Perusahaan Jepang.
"Lo jadi ketemu Mama Camer?", tanyaku seraya mengambil dua kaleng Pepsi dari kulkas.
Andra mengangguk."Kadang gue heran sama dia, bisa aja nyari alasan biar gue temuin.Yang minta dianter belanja lah, ngajakin nonton bioskop lah, dan kali ini minta ditemani cek-up ke rumah sakit. Padahal perginya juga sama si Ghina, tapi kenapa pake acara ngajakin gue segala?", keluh Andra, nadanya terdengar sedikit kesal.
"Namanya juga calon mertua, Ndra. Wajar aja dia mau melihat bagaimana lo bersikap terhadap dia sama Ghina. Lagi diperhatiin tuh, diteliti, diamati, lo cocok kagak jadi menantunya, lo baik ngga buat Ghina. Yang kayak gitu-gitu mah harusnya lo udah tau sendiri lah.", timpalku enteng.
Andra mencibir, "Lo ngomong kayak gitu seolah lo udah pernah ketemu sama camer aja, elah. Itu si Brietta jangan lo gantungin kayak jemuran mulu, Do. Pacarin, tembak langsung, dor!",
"Yaelah, gampang soal itu mah. Nanti juga bakal jadi.", ucapku sok yakin.
"Emang lo beneran yakin bisa jadi sama dia? Dari nadanya sih engga", Andra sepertinya bisa membaca pikiranku.
Aku menghela napas pendek, "Gue jadi mikir ulang sejak Brietta ketemu nyokap pas selamatan rumah baru bulan kemaren."
"Jangan-jangan ini soal kalungnya Brietta ya?", lagi-lagi tebakan Andra tepat.
"Iya, itu masalahnya. Kelihatannya sih sepele ya, tapi buat gue, buat keluarga gue, ngga sesepele itu."
Andra terkikik, "Buset deh si Rado, kapan sih lo berenti jadi anak mami? Nih ya, kata gue mending lo hajar aja dah daripada nyesel belakangan lo. Jadiin dah si Brietta, jangan lo keburu takut duluan sama tanggapan keluarga lo. Yang ngejalanin kan elo, Do, bukan mereka."
"Enak lo bisa ngomong begitu. Gue yang lulusan pesantren gini kalau tetep nekat begitu bisa-bisa dicoret dari kartu keluarga. Ntar dibilangnya gue ngga ngejalanin apa yang udah diajarin selama di pesantren dulu, melanggar syariat, penista agama. Lo tau sendiri kan waktu gue  milih kuliah jurusan teknik mereka menentang keras, dan malah nyuruh gue ke jurusan Pendidikan Agama?"
"Tapi akhirnya lo nekat masuk teknik dan mereka fine-fine aja kan?", potong Andra cepat.
Aku mendengus, "Yeah, tapi lo tau sendiri kan gue ngga dibiayain kuliah sama sekali sama orangtua gue?"
"Iyalah, orang lo kerja di toko Kakak gue demi bayar kuliah," Andra terbahak mengingat masa-masa kelam itu. "Inget banget dah lo cuma makan satu kali demi ngirit, ngga ikutan jajan bareng gue sama Baim, tapi paling semangat kalo dateng ke ulang tahun temen sekampus demi bisa makan enak. Anjrit gue pengen ketawa kenceng banget setan!",
Aku cuma bisa melempari Andra yang terbahak-bahak seperti orang kesurupan dengan botol dan kaleng kosong.
"Jadi intinya", Andra menghentikan tawanya, "Lo ngga berani buat ambil resiko lagi kali ini?"
"Yah, lo tau itu lah."
"Terus kenapa masih aja lo deketin Brietta kalo begitu?"
"Kenapa tanya? Karena gue suka sama dia, bego!"
"Kalo suka diungkapin, bego."
"Kami beda agama, tolol!"
"Kalian semua bego, cuma gue yang pinter!"
Sebuah suara sumbang tiba-tiba muncul. Ah, makhluk menyebalkan satu ini datang juga.
"Kumpulan Sabtu malam harus banget pake Pepsi?", tanya Baim, nggak penting.
"Kenapa lo ke sini? Ngga ngapelin Namira?", tanyaku seraya membuka kulkas, mengambil satu kaleng Pepsi lagi.
"Namira ngga perlu diapelin, ngga minta juga dianya.", jawab Baim enteng.
Tiba-tiba tangannya memungut Sampoerna Mild yang sedari tadi tak tersentuh di atas meja.
Aku dan Andra saling pandang, heran.
"Marlboro lo mana, Ndra? Tumben adanya ini doang.", dengan lincah tangan Baim mengambil satu batang dan memantiknya.
"Anjrit si Baim berulah!", umpat Andra.
"Heh, bajirut! Lagi kesambet setan mana lo?", tanyaku histeris, mengingat bahwa Baim sudah tidak merokok lagi sejak semester dua kuliah, tak lama setelah kakak kandungnya meninggal akibat kanker paru-paru. Aku masih ingat saat di pemakaman kakaknya, Baim membuang semua batang rokoknya di atas pusara kakaknya sambil berkata 'makan tuh rokok gue, bawa semuanya sambil menghadap Tuhan' Dan sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Baim bersama Dunhill kesayangannya lagi.
Tapi kali ini, apa-apaan dia? Apakah tobatnya cuma sesaat saja?
"Ngga usah nanya kenapa. Gue cuma lagi iseng.", ucap Baim tanpa beban, seakan tidak memedulikan ekspresi wajahku dan Andra yang cengo-cengo bego.
"Brietta bales chat lo, tuh, Do.", celetuk Baim sambil dagunya menunjuk ke arah ponselku.
Ya, terlihat ada notifikasi pesan masuk di sana.Tapi entah kenapa kali ini aku tidak berani membukanya.
"Rado si anak mami ini sekarang udah jadi pengecut, Im.", tukas Andra seraya menyambar kotak rokok yang dimonopoli Baim. "Gue yang beli aja belom nyicip, setan!" umpatnya kemudian.
"Gue bukan pengecut ya maaf maaf aja", sanggahku yang langsung disambut tawa Baim dan Andra.
"Cemen lo, Do!", olok Andra. "Ngakuin perasaan aja ngga berani cuma gara-gara kalung salib doang."
"Bajirut! Itu bukan masalah 'kalung salib doang' ya! Ini masalah iman coy!"
"Tinggal diungkapin aja sih, Do. Ungkapin, biar Brietta tau gimana elo ke dia.", ujar Baim.
Mendadak aku geram dengan pembicaraan ini.
"Lo lo sendiri gimana? Lo, Ndra, cemen mana sama lo yang sampe sekarang ngga berani ngelamar Ghina?"
Andra tersedak seketika, "Njrit, bukannya gue ngga berani ngelamar Ghina, gue cuma belom siap aja. Gila aja lo ngelamar anak orang ini loh bukan mau ngawinin kucing persia. Ngga bisa asal lah, Do."
"Pasti lo ngasih alasan ke Ghina soal materi lagi, kan?", tebak Baim. Dan tepat akurat.
Andra mengangguk lemah, "Ya nyatanya emang kayak gitu, men. Gue belom siap modal apapun buat Ghina. Gue cuma ngga mau dia susah karena gue yang kayak gini. Gue harus mapan dulu baru bisa jadiin dia bini gue."
"Ampun dah.", aku menepuk dahiku sendiri, "Kalo nunggu lo mapan mau bakal sampe kapan, kunyuk?"
"Ya pokoknya sampe gue seenggaknya udah punya rumah sendiri, ngga ngekos kayak sekarang. Yakali gue mau tinggal di kosan sempit bareng Ghina. Lagian emangnya dia bakal mau sama kondisi gue yang begitu?"
"Kalau dia ngga nerima kondisi lo yang sekarang, dia ngga bakalan minta dilamar, nyet! Bego amat sih lo? Yang peka makanya jadi cowok.", olokku yang disambut hantaman kecil dari Baim.
"Apaan lo?", aku melotot pada Baim.
"Lo sendiri juga bego, nyet! Itu Brietta lagi nungguin kejelasan dari lo, mau jadian apa kagak. Makanya yang peka jadi cowok."
"Mampus lo dibalikin! Hajar, Im!" Andra mengompori.
"Tai lo semua!", umpatku kesal.
Andra dan Baim terkekeh.
"Sumpah kalo lo manyun gitu, Do, lo imut abis. Serius gue ngga bohong!", goda Andra sambil terus tertawa geli.
"Diem, setan!"
"Eh tapi, Im", Andra mengalihkan pandangannya ke Baim. "Bukannya lo ada acara sama Namira ini hari?"
Baim mengangguk, "Siang tadi ketemunya, itupun cuma bentaran doang. Dia ada acara sama klub menulisnya."
"Namira bukannya lagi sibuk nulis novel ya, Im?", tanyaku.
"Iya, bentar lagi kelar katanya."
"Dan abis itu lo ngelamar dia?", tanyaku lagi.
"Ngomongin soal lamaran mulu, lo. Tembak dulu Briettanya!", timpal Andra mengejek.
"Urusin dulu si Ghina sono!"
Baim meringis, "Enak jadi lo, Ndra, ngga perlu susah buat bikin cewek lo mau dilamar. Soalnya dia yang minta duluan.",
"Bukannya di mana-mana emang cewek duluan yang ngebet minta dilamar?", tukas Andra.
"Namira beda. Dia ngga kayak cewek lainnya yang nungguin kapan bakal dilamar. Yang ada dia ngga mau itu terjadi pada dia."
Aku tercengang. Andra kembali tersedak.
"Gue heran kenapa dia sebegitu tidak tertariknya dengan sebuah komitmen. Lama-lama gue mikir, sia-sia aja ya dua tahun ini gue sama dia."
"Emang lo pernah nyoba ngomongin soal ini sama Namira, Im?", tanya Andra, "Siapa tau dia emang belom siap aja, sama kondisinya kayak gue ini."
"Najis banget Namira yang cakep begitu disamain sama lo yang abstrak.", ejekku yang kemudian disambut tinju kecil dari Andra.
Baim menggeleng, "Masalahnya bukan karena dia ngga siap atau belum siap. Dia emang ngga tertarik buat berkomitmen. Dia bilang semua itu seakan mengekang dia, mengikat dia dengan berbagai hal yang cuma bikin hidup dia ribet. Namira cewek yang suka kebebasan."
"Njir, selama ini ngapain dong lo pacaran sama dia kalau tahu bakal kayak gini?", aku menggeleng tak mengerti.
"Itu sih..", Baim meletakkan sisa batang rokoknya di asbak, "Karena gue suka sama dia."
Aku tertegun.
Benar, semua pertanyaan atas segala masalah ini sebenarnya hanya membutuhkan satu jawaban; Aku suka dia. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya masing-masing.
Dan aku, entahlah, aku masih belum tau akan bagaimana. Di satu sisi, perasaan ini semakin tak terkendali. Di sisi  lain, aku harus mengesampingkan ego demi keluargaku.
Ternyata yang kuhadapi kini, tidak semudah bayanganku.

Senin, 16 Januari 2017

Tell Me Why (part 1)

"Okay!", ucapnya setelah beberapa menit hanya diam dan berpikir panjang. Satu kata keluar dari mulutnya yang kurasa cukup untuk menjadi jawaban atas segala keresahan, kebingungan dan kecemasan yang tengah kami hadapi bersama. Aku tersenyum lega, beban berat di punggungku seakan lenyap.
"Jadi?", tanyaku semringah, "Kapan kamu mau ke rumah dan bilang sama Papa Mamaku?"
Andra mengangkat bahunya, sekilas dia terlihat ragu saat memandangku.
"Aku masih belum tahu, aku masih belum siap seratus persen",ucapnya tanpa mengacuhkan ekspresi bahagiaku yang seketika kembali murung berkat sikapnya barusan.
Apa-apaan sih orang ini?
"Andra, baru aja kamu bilang okay loh. Aku pikir kamu udah siap dengan semuanya. Tapi kamu kok..", aku berdecak heran. "Aku butuh ketegasan kamu ya. Kita udah berapa lama pacaran sih? Masa iya kita mau gini-gini aja?"
"Iya aku tahu, tahu banget maunya kamu apa makanya aku bilang okay tadi. Ya tapi kan ngga secepat itu juga kali, Ghina.", Andra menghela napas pendek. Terdengar lelah, sepertinya.
"Modal aku belum cukup, Ghin. Rumah aja belum kebeli sampai sekarang. Masa iya aku biarin kamu tinggal di kontrakan sempit sama aku?"
Aku mendengus, "Kenapa masalah materi terus sih yang jadi alasan?"
"Ya karena kita memang membutuhkannya. Sangat. Emang kamu pikir sewa gedung, katering, pelaminan, penghulu, mau dibayar pake kata Terima Kasih doang?"
"Ndra, aku cuma minta kamu ke rumah, bilang soal semua rencana kita ke orangtuaku, dan mereka akan ikut membantu, kok. Toh Papa dan Mama sudah merestui kita sejak awal kita pacaran. Kamu cuma perlu bilang tentang niat baik kita biar ngga ada lagi keresahan buat semua orang."
"Keresahan semua orang? Ini cuma kamu doang yang merasakan, Ghin."
"Mama selalu tanya kapan kamu bakal ngelamar aku, Ndra. Selalu. Aku mesti jawab gimana lagi selain 'belum tahu'? Aku cuma ngga mau kamu kehilangan kepercayaan orangtua aku, Ndra. Makanya aku minta kamu tegas sama hubungan kita. Kasih aku kepastian segera, jangan biarin aku gelisah terus dong!", aku mengusap pipiku yang mendadak basah oleh air mata.
"Iya, oke, aku udah menyanggupinya, Ghina. Cuma masalahnya di sini aku belum siap untuk sesegera mungkin menyiapkan semuanya. Aku akan bilang ke orangtua kamu kalau semuanya sudah siap. Sabar dong, sayang. Kamu ngga usah gelisah dan mikirin yang enggak-enggak. Kamu percaya aja sama aku, ya."
Aku menghela napas pendek.
"Okay."

*

Sabtu siang yang mendung. Cuaca yang mendukung untuk tidur siang dan bersantai-santai setelah lima hari padat dengan jadwal pekerjaan. Ya, kurasa aku bisa menikmati acara tidur siangku kalau saja dua orang ini tiba-tiba mendobrak pintu kamarku seenak jidat.
"Namira, Brietta, tolong dengan sangat silakan keluar dari kamar tuan putri Ghina ini tanpa meninggalkan jejak suara apapun. Plis, kalian ganggu tidur siang gueee!", jertitku seraya melempar kedua temanku dengan bantal.
"Aw! Maygat Ghinaaaaa! Gue ke sini sengaja mau ngehibur elo hunny bunny sweety. Lo katanya abis berantem sama Andra?", tanya Brietta menyusulku ke tempat tidur.
"Lagi?",tanya Namira dengan alis terangkat satu."Dia masih belum mau buat ngelamar lo?"
Aku mendengus, kesal karena diingatkan oleh masalah yang satu itu.
"Gue kira Andra bakal berubah dan lebih berpikir dewasa. Tapi nyatanya dia masih gitu-gitu aja. Selalu aja bilang 'okay' with 'tapi'. Kesel ngga sih kalian kalau jadi gue?"
"Kesel! Gue bakal sama keselnya kayak lo, Ghin!", Brietta mengangguk keras. "He's not a gentleman I think. Kurang apaan sih lo buat dia?"
"Ya kan? Coba, hampir enam tahun pacaran kami cuma gini-gini aja. Gila lo gue tahun ini masuk 26 coy! Nyokap gue aja dulu umur segini udah masukin gue ke playgroup tau nggak?"
"Lo pake acara masuk playgroup segala, Ghin? Baru tahu loh gue.", Brietta takjub.
"Bukan itu masalahnya, Briii!"
"Lagian elo kenapa ngebet banget sih minta si Andra buat ngelamar lo? Dianya aja santai selow gitu kok. Ngga takut lo kalo si Andra malah jadi ilfeel sama lo gara-gara lo paksa mulu?"
Kontan saja aku menepuk lengan Namira keras. "Lo kok ngomongnya gitu sih, Mir? Jangan bikin parno deh. Andra tuh ngga bakalan kayak gitu ke gue. Kalian tau sendiri kan dia cintanya kayak gimana sama gue?"
"Yang namanya cinta juga bisa kadaluarsa kali, Ghin", timpal Namirah enteng.
"Lo pikir roti kali ah kadaluarsa.", balas Brietta diiringi tawa renyah.
"Namira plis jangan bikin parno! Lo mah kebiasaan banget suka begitu. Heran gue, betah-betahnya si Baim sama lo bertahun-tahun."
"Kenapa jadi beralih ke Baim,sih? Urus Andra dulu, sono."
"Lo sendiri kenapa ngga mau pas Baim nyoba ngutarain niat baiknya dia ke lo bulan kemaren?", tanyaku.
Namira berdecak, "Ya karena gue emang belum mau."
"Mir, lo tuh harusnya bisa nentuin mau dibawa ke mana hubungan lo sama Baim."
"Kayak lagunya Armada aja," timpal Brietta lantas menyanyikan bait dari lagu dari band itu.
Buru-buru aku menutup mulutnya dengan guling.
"Kalian udah pacaran dua tahun loh, Mir. Umur kalian udah 26 tahun ini, gue ingetin aja."
"Urus dulu tuh si Andra baru lo ngurusin gue sama Baim, oke?"
"Tuh kan, lo mah gitu kalau dibilangin, Keras kepala!"
"Namira tuh males sama yang namanya komitmen, Ghina sayang. Maybe dia lebih suka sama hubungannya yang kayak sekarang ini. Santai, mengalir seperti air.", Brietta menengahi.
"Ralat, bukannya males. Gue belum siap aja jadi seseorang yang terikat oleh orang lain. Kayaknya ngga bebas, gitu.", bantah Namira.
"Judulnya sama aja lo kayak Andra, nyet!", aku melempari Namira dengan bantal.
"Belom ada satu jam gue di sini elo udah lempar-lempar bantal berapa kali, Ghin?", tanya Brietta kesal. "Eh, by the way tumben banget si Rado ngga bawelin gue di WhatsApp. Biasaya chatnya bisa nyampe berkali-kali dalam sehari."
"Dan sekarang  lo nyariin Rado, gitu? Wah, ada perkembangan nih.", goda Namira sambil terkekeh.
"Lo aslinya suka kan sama Rado? Ngaku lo!", tanyaku.
"Eh, Bri, hidup lo udah kebanyakan mecin, masih aja mau ditambahin gengsi. Ngga sehat, tau.", tambah Namira lagi.
"Apaan sih kalian berdua? Kenapa malah jadi gue yang kena? Hellaawww, gue sama Rado ngga ada apa-apa and he's not my type. He is so so so.. iyeeewwwhhh. Ngeselin asli gila!" Brietta bergidig.
"Lama-lama bakal kemakan juga tuh gengsi. Gue berani taruhan dah!"
"Heh! Urusin dulu si Andra sono baru ngrempongin gue sama Rado yang so so iyeuh itu!"
"Lo ngomongin Andra mulu sih? Pusing gue ah!"
"Udahlah, Ghin mending lo biarin aja si Andra yang memutuskan bakal gimana. Jangan lo paksa gitu, nantinya dia bakal tertekan loh. Kalaupun dia mau ngelamar lo, pasti bakal dia lakuin kok.", ujar Namira.
"Seenggaknya dia udah bilang okay kan, Ghin? Ikutan kesel sih gue, cuma ya, ya udah sih. Lo yang banyakin sabar aja. Cewe kan cuma bisa nunggu, walau yang ditunggu juga belum pasti bakal gimana.", tambah Brietta. Kali ini terdengar ada nada sumbang di akhir kalimatnya.
"Lo kok jadi baper gitu?", tanyaku sedikit menggoda.
"Sebenernya lo diem-diem nungguin si Rado nembak lo atau ngelamar lo, kan?", tambah Namira.
"Gue tabok lo berdua ya!", Brietta balas melempar bantal ke arahku dan menghajar Namira dengan guling.

TING!!

Sebuah nada notifikasi pesan masuk berbunyi.

From: Rado 

Hi, Princess Bee. 

"Ciyeeeeeeeeeeeee", seru Namira dan aku serempak. Brietta kontan menutup mukanya dengan bantal, menahan malu juga bahagia yang menyeruak dalam dada.

to be continued 



Minggu, 04 Januari 2015

Sudah Waktunya Untuk Pindah



Dia menghilang lagi. Seperti biasanya, seperti yang sudah-sudah.
Aku melirik handphone yang seharian ini tidak mengeluarkan bunyi apapun. Tidak ada notifikasi apapun, tidak ada pesan, tidak ada panggilan satupun. Tidak masalah sih, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Cuma yang sedikit membuatku gelisah adalah orang itu. Dia tidak lagi usil mengirimiku pesan. Sejak rencana pertemuan kami yang gagal itu, dia tidak lagi mengusikku dengan pesan singkatnya. Dia menghilang, seperti  yang sudah aku prediksikan sebelumnya dengan Riris.
“Pasti setelah ini dia bakalan ngilang lagi deh,” ucapku pada Riris di sela-sela mengerjakan artikel untuk aku post di blog pribadiku.
Riris yang tengah asyik menonton drama Korea di laptopnya langsung memalingkan wajahnya ke arahku dengan tatapan sebal, “Olla Mikhaila yang polosnya bukan main, bukannya kamu tau sendiri kalau dia emang selalu begitu sama kamu kan? Selalu, Olla. SELALU! Udah deh nggak usah sok ngeluh gitu”, ucap Riris ketus.
“Kenapa harus selalu begitu, ya? Kenapa dia bisa seenaknya bersikap begitu sama aku? kayak ngga ada rasa bersalahnya apa gimana gitu. Ya paling engga dia bilang ‘kita ketemunya lain kali  ya’ atau apa kek. Dia mah...”
“Kamu masih aja ngarepin dia? Ya ampun Olla..”, Riris menepuk dahinya sendiri seraya menggelengkan kepalanya.
“Bukan gitu, Ris. Cuma aku heran aja, dia kayak nggak ada inisiatif ngajakin ketemuan lagi apa gimana. Dia kok hobi banget nyiksa perasaan aku gini ya? Aku bingung deh, sebenarnya aku pernah berbuat jahat apa sih sama dia sampai dia setega ini sama aku?”
“Nah kan, mulai lagi dramanya. Udah lah, La. Kalau dia nggak ngabarin kamu lagi ya nggak usah diharapin lagi, nggak perlu kamu tunggu lagi. Jangan bikin nyesek perasaan kamu sendiri lah.”
“Aku begini karena aku masih pengen ketemu dia, Ris. Aku pengen banget ketemu Irham lagi”.
“Itu kan kamu yang pengen. Si Irhamnya sendiri pengen juga nggak? Realistis aja, kalau dia emang niat dan pengen ketemu kamu, pasti dia udah ngusahain buat ketemu. Tapi kamu lihat nyatanya kayak gimana, dia nggak bersungguh-sungguh dengan apa yang dia udah katakan sendiri.”
“Ya, dia malah ngilang lagi sekarang”, ucapku lesu.
“Nah, itu tau. Udahlah, masih banyak ada hal lain yang lebih penting buat kamu pikirin daripada kamu ngabisin waktu buat si Irham kunyuk itu.”
*
Jam dinding kafetaria menunjukan pukul 11 siang. Belum waktunya makan siang sih sebenarnya, tapi berhubung tidak ada mata kuliah pada jam segini, lebih baik aku nongkrong di kafetaria sambil menulis artikel untuk blog pribadiku yang lama tak terurus.
Di tengah aku menulis, aku merasa ada seseorang yang mendekati mejaku. Begitu aku menoleh..
“Hey, Olla. Lagi ngapain?”, sapanya dengan ramah diikuti senyumnya yang sumringah.
“Hey, Fabian. Lagi nulis-nulis aja nih buat blog”, sahutku seraya tersenyum.
Melihat Fabian berdiri di depanku begini aku jadi teringat kejadian sewaktu di rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Saat dia menyatakan perasaanya padaku dan memelukku dengan begitu hangat.
Seketika aku langsung berpikir, kenapa waktu itu aku tidak menerima perasaannya ya? Jika saja aku menerima perasaannya kemudian menjadi pacarnya, mungkin sekarang aku tidak perlu lagi pusing soal Irham yang datang dan menghilang seenaknya itu.
“Oh, temanya tentang apaan? Lihat dong, boleh ngga?”, Fabian mengambil kursi kemudian duduk di sebelahku. Tercium aroma parfumnya yang khas.
Mendadak aku merasa ada degupan kencang begitu kepala Fabian dan kepalaku saling bersentuhan pelan. Terlebih ketika desahan nafasnya yang terasa di pipiku.
Tunggu, aku tidak sedang gugup karena Fabian kan?
“Kamu baru kena PHP seseorang, La?”, tanya Fabian sambil matanya tak lepas dari layar laptopku.
“Ah, engga kok. Iseng aja nulis begituan, buat isi-isi blog doang”, jawabku sekenanya.
Fabian tidak menyahut, dia asyik membaca tulisanku yang baru setengah jadi sambil mengangguk sesekali. Tampangnya terlihat begitu serius. Dan jujur saja, melihatnya seperti itu membuat perasaanku membaik.
“Tulisan kamu bagus ya, simpel sih keliatannya tapi enak dibaca”, puji Fabian.
“Sori nih, aku nggak ada receh buat bayar gombalan kamu,” ujarku dengan nada bercanda. Fabian terkekeh pelan.
“Aku serius tau, tulisan kamu tuh cakep. Udah coba buat ngirim ke penerbit?”
Aku menggeleng, “Jangankan ke penerbit, ngirim buat majalah aja seringkali ditolak. Cuma di mading kampus doang nih yang langsung diterima terus dipajang.”, aku tersenyum kecut.
“Lah, kok nadanya pesimis gitu? Ya kamu coba lagi dong La, jangan berhenti berusaha.”
“Penginnya sih gitu, tapi gimana ya, rasanya udah capek aja berkali-kali ditolak. Apalagi ditolaknya dengan berbagai alasan, yang katanya monoton lah, yang katanya mainstream lah, klise lah, apa lah, ini lah, itu lah. Aku udah berkali ngirim cerpen dengan berbagai tema loh padahal, tapi tetep aja dapet alasan penolakan yang sama. Capek, ah.”, aku mengibaskan tangan di depan mukaku.
Fabian tersenyum simpul mendengar keluhanku.
“Kamu kok lucu gitu ya, La?”
“Hah?”
“Iya, lucu. Aku kira kamu orangnya selalu punya semangat, nggak gampang nyerah, penuh kerja keras dan punya rasa optimis tinggi. Tapi kayaknya perkiraan aku salah ya?”
Aku tertegun. Seketika bibirku terkunci, tidak bisa merespon ucapannya yang begitu menusuk hingga bagian organ terdalam.
“Aah, sorry sorry, omonganku terlalu sotoy ya? hehe, maaf La, nggak bermaksud menyinggung kok”, ucap Fabian begitu menyadari kediamanku yang cukup lama.
Aku menggeleng pelan, “Nggak, Yan. Kamu bener. Tapi dimana letak kelucuan yang kamu maksud?”
“Oh, itu. Kalau aku bilang sih, wajah kamu yang lucu. Menipu.”
“H-hah?”
“Sorry, tapi menurutku pribadi, wajah kamu itu wajah yang bisa menginspirasi. Tapi ternyata wajah kamu menipu, aslinya malah kamu orangnya gampang pesimis. Hehe, aku sotoy banget ya?”
DEG! Aku baru pertamakali menemui hinaan berbau pujian seperti itu. Menohok sekali.

“Aahh, ganti topik deh, ganti topik!”, aku mengalihkan pembicaraan. Fabian Cuma terkekeh sambil mendorong bahuku pelan.
Namun begitu aku hendak melanjutkan mengetik, tiba-tiba mataku menangkap sosok bayangan yang belakangan ini menghilang dan baru saat ini dia muncul lagi di kafetaria kampus. Lelaki tinggi berambut ikal yang akrab dengan jaket Adidas putih dan terkenal dengan senyumnya yang menawan ; Remy Anggara.
Tidak, tidak. Aku tidak sedang dalam keadaan ingin melihatnya, yang ada aku malah sudah tidak begitu peduli lagi tentang dia. Selama ini aku baik-baik saja meski tak melihatnya di kampus, aku bahkan tidak merasa rindu atau terbayang akan wajahnya. Ya, sekarang aku sungguh baik-baik saja, tanpa dia.
“Kamu ngeliatin siapa?”, tanya Fabian yang sepertinya mengamati arah pandanganku.
“Oh. Itu ada temenku”, jawabku seadanya.
“Siapa? Remy?”
Aku tersentak kaget. Fabian ini cenayang atau apa sih? Eh tunggu, kalau diingat, Fabian dan Remy kan berada dalam satu fakultas yang sama. Entah mereka satu kelas atau tidak.
“Kamu kenal sama dia?”, tanyaku dengan wajah dongo.
Fabian mengangguk, “Iya kenal. Bukan temen sekelas sih, cuma beberapa kali kami ketemu di acara seminar.”
Aku ber-Oh panjang.
“Kamu juga akrab sama Remy?”
“Yaa kalau dibilang akrab sih lumayan, dulu.”
“Dulu? Berarti sekarang udah nggak?” tanyanya. Uh, sepertinya Fabian mulai kepo.
Aku mengangguk.
“Kenapa? Kok bisa?”, tanya Fabian lagi. Dia benar-benar kepo ternyata.
“Aku juga nggak tau kenapa bisa begitu. Susah dijelasin deh”, jawabku sekenanya. Jujur saja aku malas menceritakan awal mula bagaimana aku bisa dekat dengan Remy hingga renggang seperti sekarang pada Fabian. Apa untungnya?
“Atau dulunya kalian ini pernah pacaran?”
Aku mendengus, “Pacaran? Boro-boro. Yang ada aku kena jebakan friendzone”, Okay, sekarang aku malah membuka aibku sendiri.
Fabian terbelalak, “Jadi kamu korban friendzone-nya Remy juga?”
Aku tertegun, “Barusan kamu bilang ‘juga’?”
“Iya, banyak teman cewekku yang kena juga. Nggak tau deh gimana ceritanya, tau-tau mereka heboh gitu kalau liat Remy.”
“Heboh?”
Fabian mengangguk, “Suka teriak gitu, ngedumel sendiri, katanya Remy itu PHP, tukang friendzone. Selidik punya selidik, Remy itu suka kalau ditaksir sama banyak cewek, makanya sikapnya seenaknya begitu sama yang suka sama dia. Kayak.. ”
“Semacam ngasih harapan tapi habis itu ditinggal gitu aja?”, potongku.
“Nah, persis!”
Alhamdulillah, aku tidak meneruskan perasaan (bodoh) itu.
“Ternyata begitu.”, aku mengangguk seraya meneguk lemon tea-ku.
“Ya begitulah, selain tenar diantara cewek-cewek fakultas hukum, dia juga terkenal tuh di fakultas teknik. Apalagi teknik sipil. Dan nggak aku sangka, kamu juga sempat suka sama dia”, ucap Fabian dengan nada meledek. Matanya seolah mengejekku ‘bodoh Lo! Olla bego!’
“Yan, kamu nggak lagi ngejek aku dalam hati kan?”
Fabian melongo, “Hah? Ngapain aku ngejek kamu, La?”
“Karena aku pernah naksir sama orang kayak dia.”
“Loh, apa salahnya naksir sama orang kayak dia? Buat urusan hati mah ngga ada yang salah kali, yang ada Cuma ‘nggak tepat waktu’.”
“Iya sih, kamu bener juga.”
“Eh, lanjutin nulisnya dong!”, Fabian menunjuk laptopku.
“Ah, iya bentar. Aku mau nengok facebook dulu.”
“Hah? Kamu masih main facebook? Kuno banget ih, dasar alay!”
Aku melotot tajam pada Fabian. Kontan dia mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Begitu aku membuka akun facebookku, yang terlihat pertamakali adalah sebuah status dari akun bernama..
“Irham..”, ucapku lirih.
Dan akhirnya dia muncul kembali. Bukan lewat pesan singkat, tapi muncul dalam linimasa akun facebookku. Entah aku harus menangis bahagia atau berteriak kesal melihatnya.
“Siapa tuh? Kamu kenal?”, tanya Fabian, mulai kepo lagi.
“Temen.”, jawabku singkat. Kali ini aku benar-benar enggan membahas pria bernama Irham Ramadhan itu.
“Dulunya dia anak band SMA bukan? Kayaknya aku juga pernah ketemu sama dia deh.”
OMAIGAT FABIAN! Siapa kamu ini sebenarnyaaa?! Kenapa semuanya kamu kenaal?! Sebuah kebetulan yang aneh.
Aku bertanya penuh antusias, “Hah? Kok tau? Kamu ketemu di mana?”
“Dulu dia di SMA 20 kan? Nama bandnya.. apa tuh ya? Lupa.”
“Veloz band.”
“Nah itu! Dulu dia pernah ngisi acara pensi SMA aku sama bandnya. Aku bahkan sempat kolaborasi sama dia.”
“Emang kamu bisa nyanyi?”
“Bukan jadi vokalis sih, tapi aku jago main drum loh,” kata Fabian, membanggakan dirinya.
“Gitu ya?”
“Dia mantan kamu?”
Good question, Fabian.
“Iya, mantan. Mantan gebetan,” jawabku lesu. “Ah udah ah, ngga usah bahas orang itu.”
“Dari cara pandang kamu ngeliat akun dia aja aku langsung tau kalau kamu menyimpan something, La. Ngga ada salahnya kan kalo kamu share ke aku?”
“Terus kalau aku udah share ke kamu, setelah itu apa?”
“Sebenarnya aku udah tau masalah kamu sama Irham dari Aldi dan Riris.”
Aku tercengang. Apa dia bilang? Aldi dan Riris? Ohh, bagus ya! Kenapa mereka mulutnya ember banget?!
“Nah itu kamu udah tau kan, terus ngapain aku ceritain lagi?”
Fabian menggeleng, “Aku memang tau, tapi akan lebih afdol aku dengar langsung dari si empunya kan?”
Aku menghela napas pendek.
“Intinya.. aku masih nggak bisa menyingkirkan segalanya tentang dia dari dalam otak sampai hati aku, Yan. Aku masih terlalu sayang sampai aku keliatan kayak orang bego begini. Ya, aku memang sempat suka sama beberapa orang, pernah pacaran pula. Tapi semuanya nggak bisa bikin aku lepas dari bayang-bayang seorang Irham. Sikap dia yang sering datang kemudian hilang semaunya bikin aku kacau sekacau-kacaunya. Mau lupain gimana kalau dia nggak menghilang secara total.”
“Kamu ngedoain dia mati?”
“Bukan gitu!”, duh ini Fabian kenapa malah ngelawak?
“Aku Cuma mau dia nggak muncul lagi dihadapan aku, aku bakal lebih tenang kalau dia nggak ngasih kabar. Iya sih, bakal kangen banget nantinya. Tapi itulah yang terbaik, kupikir.”
Fabian mengangguk mendengar curahan hatiku. Entah dia benar-benar mengerti atau Cuma sok mengerti.
“Belakangan aku tau kalau dia udah nggak punya pacar lagi. Dan dia beberapa kali ngasih kabar dan sempat ngajak ketemuan. Tapi ternyata cuma omong doang, karena akhirnya aku nggak ketemu dia sama sekali. Padahal aku kira kami bakal dekat lagi kayak dulu. Yah, mungkin aku aja yang terlalu banyak berharap”, aku tersenyum miris.
Fabian mengalihkan pandangannya ke laptopku, kemudian menggeser pointer dan mengklik sebuah foto.
“Kamu bilang dia udah putus, tapi kenapa yang aku lihat beda begini ya?”, tanya Fabian dengan nada retoris, begitu menunjukkan foto sepasang pria dan wanita dengan background pemandangan pantai lengkap dengan sunset-nya yang indah. Sebuah foto yang membuat perasaanku terganggu, sekaligus menegaskan alasan mengapa Irham tak lagi usil mengirimiku pesan. Pahit sekali. Namun mau tak mau harus aku telan dan rasakan. Karena bagaimanapun juga, Irham memiliki jalan hidupnya sendiri, dan aku tidak berhak mencampurinya dengan perasaan seperti ini.
Aku tersenyum, “Kayaknya dia udah berhasil pindah dengan cepat.”
Yang lebih tepat ingin aku katakan adalah, ‘ternyata kami memang tidak berjodoh.’
“Lalu gimana sama kamu?”, tanyanya lagi.
“Aku? Aku kenapa?”
“Kamu kapan pindah?”
Lagi, pertanyaan yang bagus dari Fabian. Saking bagusnya aku sampai tidak tau harus menjawab apa. Aku hanya merespon dengan senyum tipis.
Tanganku menggeser pointer ke bawah, melihat satu persatu status yang terpampang di linimasaku. Namun tak lama pandanganku kembali terhenti pada sebuah postingan foto.
“Siapa?”, Fabian mulai kepo lagi.
“Dia? Kamu kan bisa baca sendiri, namanya Odie Ananta.”, jawabku asal.
“Siapanya kamu?”
“Kenapa kamu jadi kepo banget?”
Fabian terkekeh. “Sorry..”
Aku menggeleng pelan. Kemudian kembali memandang foto itu dengan nanar. Sebuah foto sepasang kekasih yang memamerkan cincin putih di jari manis mereka masing-masing dengan senyum bahagia. Aku iri melihatnya, sungguh iri.
“Kamu pengin posting foto begitu juga?”
“Kenapa nanya begitu?”
“Ya habisnya kamu ngeliatnya penuh penghayatan banget sampai nggak berkedip begitu.”
“Hah? Masa?”
Fabian memandangku dengan tatapan penuh simpati. Apa aku begitu kasihan di matanya ya?
“Kamu juga harus segera pindah, La. Emang nggak capek stuck di satu tempat terus?”
“Capek lah. Tapi kan kamu tau, kalau pindah nggak semudah pengucapannya.”
“Ah, kata siapa? Buktinya nih..eh, bentar”, suara dering handphone terdengar dari kantong celana Fabian. Sepertinya ada sebuah pesan masuk. Mataku melihat ekspresi Fabian yang senang ketika membaca pesan-yang-entah-dari-siapa itu.
“La, lusa kamu kosong nggak?”
“Nggak tau, mungkin Cuma ada kelas pagi. Kenapa?”
“Ah, gini. Cewek aku ulang tahun, aku mau minta temenin kamu nyari kado buat dia. Bisa nggak?”
Aku tercengang. “H-hah? ‘Cewek’ kamu bilang?”, ulangku dengan nada setengah tidak percaya.
Fabian mengangguk mantap. “Iya, pacar aku. Baru semingguan ini jadian. Makanya, kamu cepat pindah dong! Masa kalah sama aku.”
Aku tertegun. Begitu mudahnya bagi orang lain untuk pindah secepat itu. Benar-benar membuat iri. Aku pun ingin bisa, tapi kenapa aku merasa begitu sulit?
“Okey, lusa jam 2 siang. Gimana?”
“Ah, oke kalau gitu.”
“Ya udah, kamu lanjutin nulisnya ya, pacar aku udah keluar kelas tuh. Jangan lupa, buruan pindah ya!”, ucap Fabian dengan senyum lebar. Kemudian berlari meninggalkan aku yang termangu di kafetaria kampus.
Dia terlihat begitu gembira. Aku iri. Aku iri kepada mereka yang berhasil pindah dengan mudahnya.
*
TUNG!!
Sebuah notifikasi BBM muncul dari layar handphoneku. Ternyata sebuah ‘undangan’ pertemanan.
Aku tercenung membaca nama si pengundang itu.

Ariel Damar Suryo

Siapa tuh? Kayaknya aku nggak punya teman bernama Ariel Damar Suryo. Abaikan saja lah, toh aku hanya menerima ‘undangan’ dari orang yang benar-benar aku kenal. Malas rasanya kalau menyimpan kontak seseorang yang tidak aku kenal, bisa jadi aku kena penipuan atau pelecehan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Aku sudah menerka kalau itu adalah Riris yang datang karena ingin numpang mandi.
“Woy, air lancar nggak?”
Tuh kan.
“Iya lancar. Air di kosanmu kenapa lagi, Ris?”
“Biasa, masalah pada pipa air PDAM. Kalau begini terus aku mendingan pindah kos aja deh.”, jawab Riris sambil mencari handuk dalam lemariku. Sudah jadi kebiasaan Riris kalau numpang mandi hanya membawa pakaian ganti saja. Urusan sabun, shampo, pasta gigi sampai handuk, semuanya dia ‘pinjam’ dariku. Ya, dia memang cewek yang nggak modal.
“Eh, aku udah cerita tentang Ariel belum sama kamu? Dia udah invite kamu kan?”
Ariel? Ohh jadi ini kerjaannya si kampret ini lagii?!
“Udah. Dia siapa sih?”
“Sepupunya Aldi. Cakep loh orangnya. Bisa main musik, suaranya juga dahsyat loh.”
“Dari mana kamu tau?”
“Tempo hari kami karaokean bareng. Waktu itu kamu aku ajakin malah molor!”
Oohh, lima hari lalu itu ya? Iya sih, aku lebih memilih tidur setelah menghadiri seminar penulisan yang bukannya memberi pencerahan malah menyebar virus kantuk luar biasa.
Accept aja, La. Aku jamin dia nggak bakal bosenin deh orangnya. Di mana lagi kamu bisa kenal sama cowok cakep bersuara merdu yang jago hampir semua alat musik dan juga ternyata bisa masak kayak chef chef yang di tivi itu, La! Di mana lagi coba?!”, kata Riris dengan penuh energi. Aku melihatnya sambil membayangkan ada api berkobar di atas kepalanya.
“Kenapa kamu ngotot gitu sih?”
Riris mendengus, kemudian melemparku dengan handuk. “Ini anak nggak pernah ada ngertinya juga ya? Ya biar kamu dapet pacar lah, Olla! Sampai kapan mau stuck sama Irham terus, hah?”
Aku tertegun.
Jadi harus segera pindah ya?
*
Mataku memandang sekeliling. Mana dia? Sudah sepuluh menit berlalu sejak jarum pendek menunjuk angka 3. Okay Olla, sabar saja. Kamu udah terbiasa buat menunggu kan? Aku menghibur diriku sendiri.
Tak lama ada sebuah colekan di bahuku. Nah, dia datang juga akhirnya.
“Sorry, tadi susah nyari tempat parkiran. Kalau weekend rame banget sih.”, ujarnya tanpa aku tanya.
Aku mengangguk, “No problemo.”
“Maaf ya aku tadi harus kuliah dulu, jadi nggak bisa jemput kamu deh.”, ucapnya.
“Ngga apa-apa, tadi aku juga ada kelas pagi kok. Lagian kalau aku nggak dateng duluan, bisa-bisa kita nggak kebagian kursi”, kataku sambil menunjukkan dua lembar tiket di tangan.
“Jadi, telat berapa menit nih?”
“Lebih tepatnya lima menit lagi filmnya mulai. Buruan masuk!”

Aku dan dia pun memasuki studio dengan kedua jari yang saling mengait satu sama lain. Sebuah awal mula yang tidak terlalu buruk untuk kencan pertama.

Yeah. Pada akhirnya aku sampai juga di tahap itu. Dan.. ya. Aku berhasil pindah.