Sabtu, 18 Maret 2017

Tell Me Why (Part 9)

10 missed calls from Namira Ramadhina.
Baim menghela napas pendek. Entah kenapa dia masih ingin terus mengabaikan gadis itu dengan cara apapun. Tidak mengangkat telponnya, tidak membalas pesan-pesannya, menghindari agar tidak bertemu dengannya, padahal mereka bertetangga. Dan sudah cukup sering Namira datang ke rumahnya untuk bertemu, tapi Baim selalu mencari alasan agar tidak menemuinya atau sengaja pergi ke rumah Rado atau kos Andra dan menginap di sana.
Dan yang membuat heran, Namira tidak pernah lelah untuk terus mencoba menghubunginya.
Baim bingung, sebenarnya apa yang diinginkan oleh gadis itu? Kenapa dia bersikap seolah tidak ingin Baim memutuskan dirinya seperti itu sedangkan dia sendiri tidak ingin berkomitmen secara serius dengan Baim. Aneh.
Baim mengambil tasnya dari loker kemudian menghampiri Andra yang juga baru mengunci lokernya.
"Si Rado mau cuti berapa hari itu? Gila aja empat hari ngga masuk kerja.", celetuk Andra begitu melihat Baim menghampirinya. Baim mengangkat bahu.
"Jenguk aja yuk, kali aja dia sakit parah atau apa gitu."
"Dia bukannya sakit parah Im, tapi depresi gara-gara ditolak mentah-mentah sama orangtuanya Brietta."
"Ngga mentah-mentah juga kali, Ndra.", ralat Baim. "Cuma cara mereka aja yang terlalu blak-blakan. Kalo gue yang digituin ya juga pasti shock lah."
"Ya udah mending kita ke rumahnya aja dah daripada penasaran.", ujar Andra.
Begitu mereka keluar dari pabrik menuju tempat parkiran motor, sebuah panggilan dari orang yang sama untuk Baim pun datang lagi.
Namira.
Baim mendengus, "Dia kok jadi nelponin gue mulu ya, Ndra?", tanya Baim pada Andra yang sudah siap dengan motornya.
"Itu tandanya dia kangen sama lo, Im. Udahlah angkat aja, ngapain sih lo ngehindar lama-lama begitu? Untungnya apa coba?", ujar Andra enteng. "Jangan suka melihara gengsi lo, kayak cewek aja sih ah."
Baim termenung sesaat. Seolah termakan oleh ucapan Andra, jemarinya secara spontan menekan tombol hijau pada layar handphonenya.
"Lo di mana sekarang? Udah balik kerja?", suara lantang terdengar begitu Baim mengangkatnya.
"Mau ke rumah Rado.", jawab Baim seadanya. Dadanya berdesir kencang tiba-tiba. Apakah ini efek sudah terlalu lama dia tidak berbicara dengan Namira? Baim tidak terlalu yakin.
"Nanti temuin gue kalo balik dari sana. Kita perlu bicara, penting. Dan tolong kali ini lo jangan ngehindarin gue, Im."
Baim tidak merespon, ditekannya tombol merah pada layar handphonenya, memutuskan pembicaraannya dengan Namira.
"Ngomong apaan dia?", tanya Andra penasaran.
Baim menggeleng pelan, "Bukan hal penting."
"Serius lo?", tanya Andra lagi yang tak yakin dengan jawaban Baim.
"Udahlah, bahas ntar aja. Urus si Rado dulu ayo lah.", tukas Baim seraya menstater motornya lalu melaju meninggalkan parkiran pabrik.
*
Sesampainya di rumah Rado...
Andra dan Baim saling pandang, suasana canggung begitu menyelimuti ruang tamu rumah ini. Di depan mereka sudah ada orangtua Rado yang menyambut mereka dengan aura yang kurang menyenangkan. Sedangkan Rado masih mengurung diri di kamar, enggan keluar menemui kedua temannya.
"Sebenarnya sudah dari awal saya mengingatkan anak itu agar selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. Buat apa dia selama sembilan tahun di pesantren kalau segala ilmunya tidak pernah dia gunakan?", ucap Haji Hanafi, Papa Rado dengan wajah kesal.
"Saya sudah pernah melihat gadis itu sewaktu datang ke acara syukuran rumah baru ini, secara visual memang enak dipandang, tapi bagi kami tampang saja tidak cukup. Akhlaklah yang paling utama. Bagaimana kami bisa melepaskan anak bungsu kami dengan seorang gadis yang pakai jilbab saja tidak, eh malah pakai kalung salib. Tentu saja kami menolak dengan keras!"
Baim menelan ludah. Andra lebih kelihatan tegang juga bingung harus bagaimana. Masalah ini terasa begitu berat jika sudah menyeret kedua orangtua Rado yang notabene dari keluarga muslim yang taat.
"Umi sih ngga masalah Mas mau berteman dengan siapa saja, dari suku mana saja, dari agama apa saja, cuma yang Umi ngga suka, kenapa Mas malah menjalin hubungan khusus dengan gadis yang tidak seagama dengan dia, dengan kami. Harusnya dia bisa mengenalkan seorang gadis muslim yang solehah, mengkhitbahnya, lalu menikah segera. Tapi yang terjadi malah seperti ini, Umi ngga habis pikir sama dia.", Hajah Siti Syarifah, Mama Rado ikut ambil suara.
"Dan sekarang anak itu mengurung diri di kamar merenungi nasibnya yang ditolak oleh keluarga gadis itu? Benar-benar anak dungu! Buat apa dia sia-siakan waktu yang berharga untuk ibadah demi seorang kafir!"
Baim dan Andra kompak tersentak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Papa Rado begitu marah mengenai masalah ini. Sempat terpikir oleh Baim, Rado akan segera dijodohkan dengan gadis yang dulu sempat dikenalkan oleh orangtuanya. Baim ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika mereka bertiga sedang berkumpul di rumah Rado, teman Papa Rado datang beserta Istri dan anak gadisnya. Dan gadis itulah yang rencananya akan dijodohkan dengan Rado. Tapi Rado menolaknya dengan alasan dia ingin mencari pasangan hidupnya sendiri tanpa acara perjodohan. Kontan saja Papanya sangat marah padanya, karena dia merasa sudah mencarikan sosok yang paling tepat untuk Rado tapi Rado malah menolaknya mentah-mentah.
Sejak itu, hubungan Rado dan Papanya sedikit renggang. Bahkan Rado sampai keluar rumah dan menempati kos yang tak jauh dari kos Andra. Tapi belakangan ini, Mama Rado selalu menyuruhnya untuk pulang ke rumah dan tidak perlu kos lagi. Rado pun menurutinya meskipun sesekali dia tetap pulang ke kosnya.
Setelah mendengarkan keluh kesah orangtua Rado, Baim dan Andra pun izin untuk menemui Rado di kamarnya. Tak disangka, Rado menyambut kedua sahabatnya dengan tangan terbuka.
"Bau lo! Ngga mandi berapa hari buset dah?!", tanya Andra seraya melepas pelukan Rado sambil tangannya menutup hidung.
Baim pun merasakan ada aroma tidak sedap dari Rado yang seperti tidak mandi selama empat hari.
"Serius Do lo ngga mandi empat hari?", susul Baim.
Rado menggeleng keras. "Gue mandi, cuma ngga pake sabun aja."
"Buset dah!" Andra melempar bantal ke arah Rado. "Parah banget sih ini anak!"
"Kayaknya bentar lagi gue bakal dikirim ke Mesir nih nyusulin kakak sulung gue. Atau ngga gue dilempar lagi ke pesantren biar diurusin kakak kedua gue. Njrit, sial bener gue.", celoteh Rado dengan wajah kuyu.
Andra terbelalak, "Serius lo, Do? Eh terus kerjaan lo di sini gimana, Nyet? Masa iya lo mau resign gitu aja? Sayang banget kali, Men."
"Kalo bokap gue udah ngomong gue bisa apa, curut? Mana bisa gue nentang bokap gue terus-terusan. Yang ada ntar gue dikutuk jadi batu cobek." Rado menghela napas pendek, "Lagian gue sama Brietta udah tamat, Ndra. Ngga ada harapan sama sekali."
Baim menepuk bahu Rado pelan, "Seenggaknya lo udah berusaha untuk mencoba sebisa lo. Ngga ada yang salah soal itu, apalagi soal perasaan lo."
"Dan Brietta udah tau kalau lo suka sama dia tuh udah cukup, Do. Paling enggak, kejujuran lo ke dia bisa bikin perasaan lo lega dan ngga ngerasa ngegantungin dia lagi. So, dia jadi ngga bertanya-tanya lagi kan?", susul Andra. "Soal lo bakal dilempar ke Mesir atau pesantren lo yang di Surakarta itu kita ngga bisa bantu apa-apa, Men. Ini udah jadi masalah intern keluarga lo. Kita sih maunya apa aja dah yang terbaik buat lo. Yah, ambil hikmahnya aja lah, Do, kali aja di sana lo bisa ketemu jodoh lo."
Rado tersenyum simpul mendengar celotehan Andra yang menurutnya sedikit waras.
"Tumben omongan lo lagi rada bener, Ndra? Biasanya lo yang paling sesat di antara kita bertiga."
"Anjrit, lo. Gue berusaha ngehibur malah dicengin! Bukannya bilang makasih lo!", tukas Andra mengomel.
Rado terkekeh, "Thanks berat, Bray. Lo berdua emang yang terbaik deh buat gue. Sayang lo berdua batangan, coba kalo ngga, udah gue kawinin lo berdua dah."
Kontan saja Rado segera diserbu jitakan maut dari kedua temannya kemudian disusul tawa lepas mereka dengan serempak.

"Lo buruan lamar si Ghina gih. Ngga takut apa lo kalo emaknya tau-tau jodohin dia sama orang lain gara-gara lo ngga bertindak juga?", ucap Rado pada Andra setelah tawa mereka reda.
"Yah, lo malah jadi bahas soal gue sama Ghina. Udahlah santai aja lo, Do. Bakal gue jadiin kok si Ghina. Tinggal tunggu waktunya aja nanti.", timpal Andra, enteng.
"Yakin lo segera dijadiin?", tanya Baim menggoda.
"Emangnya elu yang malah mutusin cewek lo sehabis ciuman di mobil?", sindir Andra lengkap dengan tatapan jahilnya.
Wajah Baim memerah.
"Geblek emang si Baim, habis ciuman tuh baiknya dikasih cincin, eh malah diputusin. Lo suka ngatain gue sama Andra gila tapi lo sendiri lebih sableng. Bego lo emang!", olok Rado sembari terkekeh.
"Brengsek! Si Ghina nih pasti yang bocorin ke lo ya! Ini lagian si Namira ngapain cerita detail banget sih ah elah bikin malu aja!", keluh Baim menahan malu.
Terdengar tawa lantang Rado dan Andra secara serempak.
"Im, lo mending balikan aja deh sama Namira. Pertahanin dia apapun rintangannya. Selagi lo ada kesempatan, selagi lo berdua ngga dibatasi perbedaan yang bikin fatal. Jangan sampe akhirnya lo nyesel belakangan, Im. Gue ngomong gini karena gue ngga pengin lo ngerasain yang semacam gue gini. Sumpah Im ngga enak banget.", ucap Rado menasehati.
Baim terdiam sesaat, berpikir.

TING!

From: Namira Ramadhina
Temuin gue sekarang. Bisa?
 
Baim menghela napas panjang. Kali ini dia harus kembali memutuskan, jalan keluar mana yang akan dia pilih. Anggaplah kemarin hanya sebuah try out.

to be continued..


Selasa, 07 Maret 2017

Tell Me Why (Part 8)

Canggung.
Rado menghela napas untuk kesekian kalinya. Rasa gugup sejak satu jam lalu belum juga lenyap, padahal jam makan malam sudah lewat. Matanya hanya melirik malu-malu pada Brietta yang kini duduk di sampingnya, yang juga balas meliriknya.
"Sebenernya nih ya, Do..", Brietta membuka suara, "Ada satu hal yang pengin banget gue ungkapin ke lo daritadi. Ini ganggu gue banget jujur aja."
Rado terkesiap, "Soal apa?"
"Outfit lo!", Brietta menunjuk pakaian yang dikenakan Rado. "Asli gue ngga ngerti sama lo! Lo kira mau kondangan pake kemeja batik kayak gitu? Astaga, Rado! Untung bonyok gue ngga komen soal ini loh!", omel Brietta seraya menepuk dahinya sendiri.
Rado tercekat, "Ah! I-ini, anu, gue bingung mau pake apaan, Bri. Dari pada kelamaan nyocokin baju jadi ya milih yang keliatan mata aja, hehehe", ucapnya sambil terkekeh malu.
"Lo bener-bener ngga modis sama sekali, iyuuuhhh!", Brietta melempar tatapan jijik. Tapi Rado tak tersinggung akan hal itu, di matanya sikap Brietta justru terlihat manis dan imut.
"Udah, laen kali mending lo pake baju yang kayak biasanya aja deh daripada sok formal pake batik begini. Asli ngga matching abis!"
"Lain kali?", ulang Rado, "Emang bakal ada 'lain kali'?"
Brietta mengangkat bahunya, "Ya siapa tau aja ya kan?"
Rado tidak menyahut, diseruputnya teh lemon buatan Brietta perlahan.
"Do, maafin semua ucapan orangtua gue ya," ucap Brietta tiba-tiba setelah jeda cukup lama.
"Mereka ngga salah apa-apa lagi, Bri. Wajar kalau orangtua mau ngasih yang terbaik buat anaknya. Anggap aja itu sebagai proteksi dini dari orangtua lo."
"Tetep aja gue ngga ngerasa enak sama lo. Mereka bersikap seolah kita udah ada apa-apa aja. Padahal nyatanya kan ngga gitu."
"Hmm, jadi lo emang cuma nganggap gue sebagai teman biasa aja ya."
Brietta tercenung, "Lah, lo maunya kita bisa lebih dari itu emangnya?"
Rado tidak menjawab, namun Brietta bisa membaca dari ekspresi wajahnya.
"Dulu orangtua gue pernah kayak begini juga. Waktu gue masih kelas 2 SMA." Brietta meneguk teh lemonnya, "Dan cowok yang lagi sial itu namanya Yusuf."
Rado mendengarkan Brietta antusias.
"Gue sama Yusuf teman satu kelas, bisa dibilang akrab sih karena sering dapat kelompok yang sama. Bahkan teman-teman lain sampe nyomblang-nyomblangin gue sama dia. Berhubung gue waktu itu gampang baper, jadi ya gue mulai ngerasa naksir beneran sama dia. Cuma Yusuf sendiri, gue ngga tau dia gimana sama gue.Gue ngga pernah nanya apa dia suka sama gue atau engga, yang gue tau cuma dia suka berteman sama gue.", Brietta tersenyum mengingat ceritanya.
"Sampai suatu ketika gue baru ngeh kalau ternyata dia suka sama gue. Yusuf itu orangnya super polos, masih kayak anak kecil sikapnya. Jadi dia ngga tau gimana caranya ngungkapin apa yang dia rasain ke gue. Yang dia lakuin cuma ngisengin gue, gangguin gue, ngejahilin gue, tapi di satu sisi dia bisa jadi orang yang baik dan perhatian banget sama gue. Di situlah gue tau, kalau dia punya rasa yang sama kayak gue. Tapi begonya, dia ngga pernah ngeh sama kalung gue.", Brietta menghela napas panjang.
"Yusuf itu orang yang taat beribadah, dia selalu usahain salat tepat lima waktu, kayak elo. Di manapun dia berada, kalau sudah waktunya buat salat, dia pasti cari tempat buat salat. Dan begonya lagi, saat itu dia dan beberapa teman lagi main ke rumah gue. Sekitar jam setengah empat, dia izin ke belakang, waktu itu gue ngga ngeh dong dia mau ngapain. Dan ternyata dia ketemu nyokap gue yang lagi bikin cemilan di dapur, dan dia nanya ke nyokap gue di mana tempat buat salat dan di mana arah kiblatnya. Dan lo tau jawaban apa yang nyokap gue kasih waktu itu? Nyokap gue malah nanya balik, "Kiblat itu apa?"", Brietta terkikik geli mengingatnya.
"Setelah itu nyokap langsung interogasi gue. Nanya siapa Yusuf dan apa hubungannya sama gue? Ya gue jawab aja kalau kami teman dekat di sekolah. Dan lo bisa nebak sendiri gimana kelanjutannya setelah itu."
"Nyokap lo ngelarang lo deket sama Yusuf?", Rado menebak.
"Yep.", Brietta mengangguk, "Nyokap bilang kalau lebih baik gue ngga usah dekat-dekat lagi sama dia. Alasannya karena kami ini berbeda dan kami ngga akan bisa jadi sama. Nyokap takut kalau ini diterusin bakal berakibat buruk buat gue sendiri. Dia ngga mau pengalaman pahitnya terulang sama gue."
Rado tercenung, "Pengalaman pahit nyokap lo?"
"Ya, dia pernah pacaran sama mualaf. Tadinya orang itu Katolik juga, sama kayak nyokap. Cuma begitu udah pacaran selama tiga tahun, mereka putus. Kata nyokap karena tiba-tiba orang itu mutusin buat jadi mualaf. Nyokap kecewa berat, padahal dia sayang banget sama itu orang. Tadinya nyokap bersikeras mau mempertahankan hubungan di tengah perbedaan itu, cuma orangtua nyokap menentang keras. Mereka bilang buat apa menjalin hubungan dengan orang yang berbeda agama sedangkan yang satu agama aja banyak. Yah, ngga lama nyokap ketemu bokap dan nikah deh. Jadi ketauan kan kalau yang pacaran lama belum tentu berjodoh. Apalagi yang beda agama."
Rado mendengus, "Tapi banyak loh yang beda agama tetap berjodoh"
"Nah, kalau yang itu udah jadi urusan Tuhan. Kita kan sebagai manusia ngga pernah tau segala rancanganNya."
"Lo kalau kayak gini keliatan pinter loh, Bri", puji Rado setengah meledek.
"Iya, pinter nyinyir!"
"Tapi, Bri..", ucap Rado begitu tawanya reda. "Gue beneran suka sama lo asal lo tau aja."
Brietta mengangguk, "Gue tau, lo kan pernah bilang kalau lo suka sama gue karena muka gue mirip Laura Basuki, kan?"
Rado terkekeh, "Iya muka lo emang cantiknya kayak dia. Cuma bedanya di nasib doang, dia bisa jadi artis film terkenal sedangkan lo cukup jadi artis radio kampus aja."
"Dan lo kalau lebih modis dikit, lo keliatan kayak Fedi Nuril loh," Brietta terbahak.
"Lah? Katanya mirip Vino G Bastian?"
"Ah, dia kecakepan, mana muka rada bule gitu. Muka lo apanya yang bule? Bulepotan iya!"
Rado dan Brietta tertawa lepas, seakan mengabaikan segala sesak menyeruak dalam dada yang sengaja mereka sembunyikan.

"Makasih buat makan malamnya. Ternyata makanan khas Manado enak-enak juga ya?", ucap Rado begitu Brietta mengantarnya ke gerbang.
"Ah, andai lo bisa nyicipin babi panggang buatan nyokap, deuh itu masterpiecenya nyokap tuh!", Brietta mengacungkan kedua jempolnya.
"Bab..ah, okay. Kalau yang itu maaf-maaf aja nih ya", Rado terkekeh.
Brietta balas tersenyum, "Hati-hati pulangnya, ngga usah ngebut lo bawa motor."
"Lah, siapa juga yang suka ngebut?"
"Lo! Ngaku aja deh lo selama bukan gue yang bonceng motor lo, lo ngebut mulu kan bawanya?"
Rado tengsin, kebiasaan buruknya diketahui Brietta.
"Duh, iya iya. Makasih lo buat perhatiannya."
"Ya udah gih sana balik, ini udah jamnya gue nonton drama Korea nih!"
"Yaelah udah tua juga masih demen Korea-Koreaan."
"Bodo! Udah sana balik lo!"
"Duhh, iya Princess Bee yang bawel. Balik dulu ya!"

Brietta memandangi Rado yang berlalu dan menghilang di tikungan. Hatinya mendadak tak karuan. Ada sesak, begitu banyak, sampai rasanya dia tak bisa lagi menahan genangan kecil yang sedari tadi bersiap tumpah di pelupuk matanya.
Begitu dia berbalik badan, dilihatnya sang Mama memandanginya, seolah tau benar apa yang dirasakannya saat ini.
"Maafin Brietta, Ma..", bibir Brietta bergetar. Air matanya tumpah begitu sang Mama memeluknya.


Rado menghentikan motornya di sebuah trotoar sepi. Dipandanginya sekeliling, hanya ada beberapa penjual makanan dan tak banyak orang yang lewat. Tangannya merogoh kantong celanaya, diambilnya handphone dan menekan nomor Baim. Entah kenapa saat ini dia begitu ingin menghubungi temannya yang satu itu.
"Eh, ngapain lo nelpon? Gimana dinner sama camernya? Sukses ngga?", tanya Baim begitu telpon diangkat.
Rado terdiam, mendadak mulutnya terkunci.
"Halo? Rado? Eh, malah diem ini bocah. Di mana lo sekarang?", tanya Baim lagi
"Im..", ucap Rado lirih
"Apaan? Ditanyain lo ada di mana sekarang elah!"
"Im..", bibir Rado bergetar, nafasnya mendadak sesak. Dan sakit.
"Woy! Di mana lo?", kali ini suara Andra yang terdengar.
"Ndraaaaa..",
"Eh? Lo kok ngerengek kayak bayi gitu sih, Do?" tanya Andra lagi. "Di mana lo, nyet?"
"Andraaaaaaa...", tak sadar mata Rado sudah basah. Tangannya memegang dadanya sendiri, semakin air matanya keluar, dadanya terasa semakin sakit.
"Do? Eh, halo? Rado? Woy, di mana lo?"
Rado mengabaikan panggilan kedua temannya. Yang ingin dia lakukan kini hanya menumpahkan segala sesak juga sakit yang begitu luar biasa. Tak peduli jika ada orang yang memandanginya dengan penuh heran.
Malam itu, Rado menumpahkan semuanya, membuang segalanya. Menangis sejadi-jadinya.


Selasa, 21 Februari 2017

Tell Me Why (Part 7)

Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan Rado masih saja sibuk mengeluarkan satu pakaian dari lemari, mencocokannya dengan celana, menggeleng, kemudian melempar kemeja itu ke tempat tidurnya yang sudah penuh dengan bermacam-macam pakaian. Rado menggeleng lagi, kali ini lebih keras.
"Kenapa ngga ada yang cocok? Ngga ada yang pas? Gue harus pakai apaan, anjrit!", keluh Rado, panik. Dia melihat ke arah jam dinding di kamarnya, jarum jam berjalan tanpa iba makin membuatnya pusing tujuh keliling.
"Oke, ini aja!", ucapnya mantap mengambil keputusan. Diambilnya kemeja batik warna beige yang dipadukannya dengan blue jeans kesukaannya.
Rado tersenyum seraya menganggukan kepalanya berkal-kali. "Gue oke, gue keren, gue kharismatik!", gumamnya sambil melihat bayangan dirinya sendiri di cermin.
Krieett! Rado tersentak begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Mas mau ke mana? Kondangan?", tanya Mamanya heran melihat Rado begitu tumben berpakaian rapi.Di  mata Mamanya, Rado hanya akan berpakaian rapi jika hendak pergi ke pengajian, Masjid, atau kondangan saja. Selain itu, dia akan memakai baju seadanya, bahkan cenderung berantakan dan tidak pernah matching.
"Eh tapi itu harusnya jangan pakai celana jin dong, pakai celana bahan warna hitam biar lebih pas.", tunjuk Mamanya yang disambut gelengan dari Rado.
"Umi, Mas lagi buru-buru. Kayak gini aja deh ya, kan udah bagus juga."
"Emang temen Mas yang nikahan yang mana? Baim atau siapa itu yang bandel banget. Ah, Andra."
"Bukan keduanya, Mi. Lagian Mas bukan mau kondangan kok."
"Lah terus ke mana?"
Rado terdiam sejenak, bola matanya memutar, memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk dikatakan pada Mamanya.
'Yang bener aja, masa gue harus jujur ke Umi kalo gue pergi undangan makan malam orangtua gebetan? Yang ada bisa panjang nih diinterogasi dulu.', ujarnya membatin.
Tak lama sebuah 'panggilan' menyelamatkan Rado. Brietta menelpon di saat yang tepat.
"Umi, Mas berangkat dulu ya. Ini udah ditungguin temen.", Rado meraih tangan Mamanya dan mengecupnya lembut.
"Emang mau ke mana sih, ah? Umi penasaran ini, Mas."
"Nanti aja kalo udah balik Mas ceritanya. Oke, Mi? Assalamualaikum."
Dengan cepat Rado mengambil kunci motor dan jaketnya, melesat cepat ke rumah Brietta dengan perasaan campuraduk. Panik, takut, gugup, tapi ada senangnya juga.
'Gue harus tenang, gue harus tenang', sepanjang perjalanan Rado hanya bisa berusaha menenangkan dirinya sendiri.

*

"Jadi ini yang namanya Rado?", tanya Papa Brietta dengan senyum ramah.
Rado mengangguk, canggung. "Iya, Om."
"Sudah lama kenal sama Brietta?", 
"Iya lumayan lama, Om. Dari kuliah semester awal."
"Satu jurusan?"
"Engga, Om. Saya masuk teknik mesin."
Rado berkali menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Rasa tegang dan canggung begitu menyelimutinya. Brietta yang duduk disampingnya berkali memberi 'kode' agar dia tidak terlihat gugup, tapi tetap saja Rado sulit untuk menyembunyikan perasaannya.
"Nah, Nak Rado, ini masakan favorit keluarga kami, ikan cakalang bakar. Cobain deh. Nak Rado bisa makan kalo yang ini kan?", tanya Mama Brietta. Spontan Brietta mendelik ke arah Mamanya.
"Ma..", bisik Brietta seraya memberi kode agar jangan mengungkit soal bisa atau tidak Rado memakan masakannya. Namun Mamanya pura-pura tidak melihatnya.
Rado berdehem, "Iya bisa, Tante. Kebetulan saya juga suka makan ikan bakar, kok."
"Ikan apa aja yang bisa kamu makan? Biar lain kali Tante masakin."
"Apa aja bisa saya makan selagi masih lazim buat dimakan, Tante. Semua yang ada di laut boleh dikonsumsi kok sebenernya."
Mulut Mama dan Papa Brietta kompak membulat, "Oohh..."
"Nahh, berarti gampang kan kalo gitu. Ayo, ayo silahkan dimakan, dinikmati hidangannya.", ucap Mama Brietta lagi.
"Enak banget, Tante. Gurih dan sedikit pedas juga, saya suka.", ucap Rado begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya.
Mama Brietta terlihat senang dengan ungkapan Rado.
"Jadi..", Papa Brietta tiba-tiba memandang serius ke arah Rado. "Kamu mau bagaimana dengan anak Om?"
Kontan saja Rado tercekat kaget, nyaris saja disemburkannya nasi yang baru masuk ke dalam mulutnya. Dia terbatuk-batuk, tersedak.
"Pa..", Brietta berbisik pada Papanya. "Bisa ngga jangan bahas soal itu dulu. Kita nikmatin makan malamnya aja dulu, Pa."
"Loh, kan enak kalau makan sambil ngobrol, Bri. Yang penting dikunyah dulu makanannya, ditelan, baru bisa ngobrol.", Brietta hanya menggeleng heran mendengar jawaban nyeleneh dari Papanya.
'Di mana-mana yang namanya makan kan ngga boleh sambil ngobrol. Gimana sih ini orangtua?', batin Brietta kesal.
"Jadi gimana Nak Rado? Kamu sebenarnya sedekat apa sama Brietta?", susul Mama Brietta dengan raut wajah penuh binar penasaran.
Rado menelan ludahnya yang mendadak begitu pahit terasa.
"Saya..Saya sama Brietta cuma teman dekat, Om Tante. Ngga ada hubungan lebih dari itu.", jawab Rado senatural mungkin. Padahal hatinya begitu tidak menentu karena dia sendiripun tidak tahu akan bagaimana dan akan diapakan hubungannya ini dengan Brietta.
"Cuma teman dekat?", ulang Papa Brietta tak yakin.
"Iya, seperti layaknya teman biasa, cuma sedikit lebih dekat. Tapi cuma dekat dalam artian akrab kok, ngga lebih dari itu."
"Kamu suka ngga sama Brietta?", tanya Mama Brietta to the point.
Rado terhenyak, Brietta lebih terlihat kaget.
"A-anu.. Saya..", mendadak Rado terbata. Dipandanginya wajah Brietta yang juga telihat gugup.
Kembali Rado menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
"Iya, saya suka sama Brietta."

Rado seketika ingat awal pertama kali dia melihat Brietta di kampus. Saat itu di koridor dia dan kedua temannya sedang berjalan santai sambil bergurau, tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Seorang gadis berwajah oriental dengan postur langsing dan tinggi semampai. Rado hanya tertegun memandangnya sampai tidak menggubris ucapan 'maaf'' dari gadis itu yang kemudian buru-buru lari meninggalkannya yang termangu dan terpesona.
Rado berani menyebutnya sebagai Cinta Pada Pandangan Pertama.

"Saya sudah memendam rasa sama Brietta sejak pertama kali bertemu, Tante, Om.", ungkap Rado jujur. Entah kenapa tiba-tiba ada hasrat yang memaksanya untuk jujur seperti ini, ada bisikan kuat yang mendorongnya untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Dan Rado tidak bisa memungkiri, dia lega setelah mengucapkannya.
Brietta tertegun, dia sebenarnya sudah sadar sejak lama soal perasaan Rado terhadapnya. Brietta tahu kalau Rado menyukainya, bahkan sebenarnya perasaan Brietta terhadapnya juga tak biasa. Hanya saja Brietta tahu, bahwa mereka tidak akan berhasil. Mungkin.
Papa Brietta mengangguk mengerti, "Om menghargai perasaan kamu terhadap Brietta. Om juga senang karena Brietta disukai oleh laki-laki yang baik seperti kamu. Tapi kamu tahu sendiri kan, Brietta, keluarga kami dengan kamu itu berbeda.",
Rado mengangguk pelan. Mendadak telinganya sakit mendengar kalimat barusan.
"Tante sama Om cuma mau yang terbaik buat Brietta. Jujur saja Tante suka sama Rado, karena Tante lihat Rado anak yang baik dan sopan. Tapi kami sepakat untuk mencegah kalian agar tidak lebih jauh lagi."
Rado tercekat mendengar ucapan Mama Brietta yang blak-blakan seperti itu. Dia sama sekali tidak menyiapkan mental untuk mendengar hal seperti ini.
"Ma, Pa, kan tadi Rado udah bilang kalau kami cuma teman dekat, ngga lebih dari itu. Soal perasaannya terhadap Brietta juga cuma rasa suka sebagai teman kok. Kami sama sekali ngga kepikiran soal yang lebih dari itu.", Brietta tidak mau tinggal diam. Mau tak mau dia harus 'menyelamatkan' Rado dengan cara seperti ini.
"Kamu sendiri bagaimana dengan Rado? Maksud Papa, perasaan kamu?", tanya Papa Brietta.
Kembali Brietta tertegun. Diapun sendiri tidak begitu paham dengan apa yang dirasakannya pada Rado.
"Aku cuma nganggap dia teman biasa, Pa."
Rado merasa matanya panas. Entah karena sebab apa. Tapi yang dirasakannya hanyalah perasaan yang sakit luar biasa.

to be continued..



Rabu, 15 Februari 2017

Tell Me Why (part 6)

Mataku tertuju pada layar ponselku. Lima belas panggilan tak terjawab. Aku menghela napas pendek. Apakah aku pantas mengabaikannya seperti ini? Apakah tidak terlihat kekanakan? Ah sudahlah.
Aku menutup wajahku dengan bantal, berusaha untuk tidur. Namun sebuah ketukan pintu mengurungkan niatku.
"Siapa?", tanyaku dengan nada malas.
"Gue, Bang.", suara Mail, adikku menyahut.
Ah, paling dia mau mengambil stik PS yang kupinjam semalam. "Masuk aja, gak dikunci."
Begitu dia masuk, dia tak langsung mengambil stik PSnya, dia malah menghampiriku ke tempat tidur.
"Bang.."
"Apaan? Gue mau tidur ah, tuh stik lo di atas meja."
"Tau ngga sih lo kalo lo dicariin mulu sama Namira?"
Aku tersentak, sedikit terkejut. "Ngapain dia nyariin gue?",
"Ya mana gue tau. Lagian lo beberapa hari ini kayak lagi main kucing-kucingan sama dia. Kenapa lagi sih lo?"
"Ngga kenapa-napa. Udah ah sana lo ganggu gue mau tidur aja", aku berusaha mengusir Mail.
Tangan Mail merebut bantalku secara kilat. "Putus ya lo berdua?"
Aku mendengus. Itu sebuah pertanyaan retoris, Adikku.
"Siapa yang mutusin?", Mail mulai bawel, "Dia ya?"
"Gue", jawabku singkat.
Mail diam, dia memandangku dengan dahi berkerut.
"Ke mana perginya semua cinta yang selalu lo utarakan itu, ha?"
"Apaan sih lo? Kenapa jadi sok puitis begitu ngomongnya? Baru aja main drama, lo?", aku terkikik pelan mendengar celotehan Mail, adik sematawayangku yang baru duduk di kelas 2 SMA itu.
"Jawab gue, Bang!"
"Gue putus bukan berarti udah ngga cinta lagi, Nyet. Ada banyak alasan."
Mail mencibir, "Aneh lo. Dulu aja pas ditanya kenapa bisa suka sama Namira lo bilang ngga perlu alasan buat suka sama seseorang. Eh pas udah putus aja baru ada alasannya. Ngga jelas emang lo pada."
Aku tertegun. Kenapa aku merasa ucapannya terdengar begitu tepat?
"Bang, gue juga baru putus sama cewek gue.."
"Lo putus lagi?", aku melotot. "Buset dah! Sebulan lo ganti pacar berapa kali, Ismail?!"
Mail menepis tanganku yang memegang bahunya. "Bukan saatnya bahas soal gue. Kita kan lagi ngomongin soal lo!"
"Iya oke, terus kenapa?"
"Gue akhirnya nyesel Bang, kenapa gue biarin dia mutusin gue. Harusnya gue pertahanin orang kayak dia, yang baik, sabar dan sayang banget sama gue. Tapi malah gue nyia-nyiain dia."
"Jadi lo yang diputusin?"
"Deandra itu Bang, baik banget orangnya, cantik, banyak yang suka sama dia, banyak yang ngejar-ngejar dia dan cari perhatian dia. Tapi dia malah milih gue yang nilai matematika sama fisikanya aja selalu masuk bottom three."
Aku menahan tawa saat dia menyebut dua kata terakhir.
"Dia mutusin gue karena dia bilang gue ngga bener-bener sayang sama dia, Bang. Padahal gue aslinya sayang, cuma gue ngga tau aja gimana cara buat nunjukinnya. Lo tau kan Bang kalo gue orangnya rada kaku kalo sama cewe?"
"Rada kaku tapi bisa gampang dapetin cewe dalam jangka waktu yang singkat. Pake jurus apaan lo?"
"Anjrit jangan ngalihin issue dulu ah! Itu karena gue emang kharismatik di mata cewe-cewe, Bang."
"Tapi aslinya lo cuma anak manja cengeng."
"Kenapa malah jadi ngomongin gue?", Mail meninju bahuku cukup keras.
"Okay okay! Set dah, sakit, Nyet!"
"Gue sekarang mau memperbaiki hubungan gue sama Deandra, Bang. Gue sadar kalo dia emang yang terbaik buat gue."
Aku mendengus. "Yakin bener kedengarannya. Tau dari mana lo kalo dialah yang terbaik buat lo?"
Mail mengangkat bahunya, "Gue sih cuma ikutin kata hati aja. Lagian selagi ada yang kelihatan tulus sayang sama gue kenapa ngga gue pertahanin? Gue cuma takut ngga ada lagi yang kayak dia, Bang."
Gue takut ngga ada lagi yang kayak dia.
Kalimat itu terkunci otomatis dalam otakku. Kembali aku menghela napas.
"Tapi hubungan gue sama Namira ngga sesimpel itu. Kami udah sama-sama dewasa, harus lebih mikir jauh ke depan. Kalau salah satu di antara kami ada yang ngga serius dengan itu, buat apa terus diupayakan agar terus bersama? Bukannya itu jadi sesuatu yang sia-sia doang?"
"Serumit apa sih sebenarnya? Dia udah ngga suka sama lo lagi?"
"Mail, ini bukan soal perasaan gue ke dia gimana atau dia ke gue gimana. Ini soal kelanjutan hubungan gue sama dia. Mau diapain nih hubungan kalau Namira diajak nikah aja ngga mau?"
Mail mendelik kaget, "Dia ngga mau nikah sama lo maksudnya? Terus dia maunya sama siapa?"
Aku menepuk dahiku sendiri. Kupikir Mail sudah cukup dewasa untuk umurnya yang sudah menginjak 17 tahun, tapi ternyata dia masih sepolos anak SD.
"Dia ngga suka sama yang namanya komitmen. Intinya, dia ngga tertark buat nikah. Dengan siapapun. Termasuk gue."
Mail tertegun, "Kok separah itu sih, Bang? Dia normal nggak sih jadi cewek?"
"Ya normal lah, cuma jalan pikirannya aja yang sedikit abnormal. Gue juga masih ngga ngerti sama dia padahal udah bertahun-tahun kenal. Meski lo kenal sama orang begitu lama, bukan berarti lo bisa tau segalanya, bahkan segala apapun yang dia pikirin. Lo belum tentu bisa mengerti."
"Tapi lo masih sayang dia kan, Bang?"
Lagi-lagi sebuah pertanyaan retoris.
"Apa masih perlu gue jawab?"
*
"Jangaaannn!", Rado merebut kotak Marlboro yang baru mau aku ambil.
"Kenapa sih? Bagi dikit kali, ah."
"Lo tuh yang kenapa?", Andra menepuk bahuku pelan, "Kenapa lo jadi demen ngerokok lagi? Dan kenapa lo putus sama Namira?"
"Gue cuma iseng.", jawabku ringan.
"Alasannya gitu mulu, lo." Rado memantik rokoknya. "Stres berat lo ya ngurusin Namira?"
"Dia beneran ngga mau diajak nikah, Men. Udah mentok nih gue, buntu banget pikiran rasanya.", ucapku sambil berusaha mengambil kotak rokok yang dimonopoli Rado.
"Bangke! Jangan ah! Kalo mau beli sendiri sono!", Rado menepis tanganku kasar.
"Eeeh, para bujangan Mama malam Jumat bukannya Yaasinan malah ngerumpi sambil bakar-bakar ya?", suara Mama Rado muncul tiba-tiba. Sontak Rado melempar kotak rokoknya ke arah Andra. Andra yang terkejut dengan kemunculan Mama Rado kontan menyembunyikan kaleng Bintang di belakang punggungnya. Aku hanya berpura-pura tidak kaget dan memasang senyum canggung.
Kami bertiga salah tingkah.
"Malam, Tante. Baru pulang dari arisan ya?", sapaku, masih dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"Kalian udah pada makan? Kebetulan Mama bawa bolu gulung nih, teman Mama yang bawain tadi.", ucapnya seraya menghampiri kami di teras belakang dengan sekotak bolu gulung ukuran besar.
"Oh, iya makasih Tante. Jadi ngerepotin.", ucap Andra sambil terus menyembunyikan kalengnya.
"Bolu ini cocok loh kalo dimakan sambil minum soda gila."
Aku tertegun, Rado memasang tampang kaget, Andra terlihat shock.
Istilah soda gila yang sering diucapkan Mama Rado berartikan minuman keras, bir, atau dalam hal ini, Bintang yang sedari tadi digenggam Andra.
"Anjrit!", seru Rado lantang seraya meninju lengan Andra begitu Mamanya masuk kembali ke dalam rumah. "Itu kaleng lo masih keliatan, bego! Lagian lo ngapain bawa bir ke rumah gue sih? Tau sendiri keluarga gue kayak gimana! Mereka tau gue masih ngerokok aja suka disewotin!", tukas Rado mengomel.
"Iya maaf maaf, kebiasaan gue nih. Lagian di rumah Baim biasanya aman-aman aja.", Andra ngeles.
"Beda rumah beda aturan, nyet!"
"Lo juga sih, Ndra, masih aja kebiasaan ngebir. Ketauan Nyokapnya Ghina mampus lo.", timpalku.
"Ah ini buat pengusir stres gue aja, Im. Pusing gue mikirin maunya Ghina. Ngga beda kan sama lo yang pusing sama Namira?"
"Beda, Jing! Baim ngga minum kayak lo, ya!", Rado masih sewot.
"Udah-udah ah. Iya gue salah, gue minta maaf. Oke, pren?", Andra memberi V Sign pada Rado.
"Lo sendiri gimana sama Brietta, Do?", tanyaku
Rado menghela napas pelan, "Gue diajakin makan malam di rumah Brietta, Im. Belum siap mental gue."
Sontak aku dan Andra mendelik kaget.
"Udah mau seriusan aja lo sama dia?", Andra terkikik pelan.
"Wah, udah ada kemajuan pesat nih." timpalku
"Kemajuan biji lo! Ini gue takut bakal diapa-apain sama keluarga dia tau, bisa mampus gue di sana!"
"Lo suruh pindah agama jangan-jangan?", Andra usil menakut-nakuti.
Tanpa babibu lagi sebuah tinju keras dari Rado melayang mengenai paha Andra.

to be contiued..

Kamis, 02 Februari 2017

Tell Me Why (part 5)

Akh!
Aku terpekik sendiri saat jariku menekan tombol send. Sial. Harusnya aku cuekin saja semua chat dari orang itu. Tapi kenapa malah aku membalasnya dengan penuh niat begini? Tapi entah kenapa diam-diam aku ingin sekali membalasnya. Tapi kalau aku membalas terus yang ada dia jadi besar kepala dan kegeeran, nanti pikirnya aku suka sama dia lagi. Aih. Pikiranku jadi semrawut ngga jelas begini kalau berhadapan dengan dia.
Rachmadi Dulhazan, atau yang akrab dipanggil Rado. Pertama kali aku tau nama lengkapnya, ketika dia berniat mengantarku pulang kuliah tiba-tiba di tengah jalan ada razia, saat Polisi memeriksa kartu identitas, SIM, dan surat lain, aku tak sengaja melihat nama lengkapnya tertulis di KTPnya. Seketika itu juga aku tertawa kencang sampai Polisi bertanya padaku apanya yang lucu. Aku hanya menjawab kalau aku baru tahu nama lengkap orang yang mengantarku ini berkat adanya razia, aku bahkan berterimakasih kepada Pak Polisi. Rado, yang saat itu hanya malu karena aku tertawakan, hanya diam saja tanpa bantahan apa-apa.
"Kenapa? Nama gue terlalu bagus buat lo sampe ketawa ngga kenal situasi begitu?", tanya Rado begitu sampai di depan rumahku, saat itu.
Aku membungkam mulutku sendiri yang masih belum bisa berhenti terkikik. "Sori, Do. Habisnya lo aneh aja sih, nama bagus begitu lo samarin jadi Rado. Biar apa coba?"
"Ini sih gara-gara dulu waktu di pesantren ada guru gue yang lumayan galak dan berkumis tebal, namanya Pak Rahmadi, sama kayak nama gue. Temen-temen gue yang jahil waktu itu suka ngejekin gue, katanya kalau udah gede bakal kayak beliau. Galak, suka ngomel, kumisnya kayak pagar istana Presiden. Gue risih lah, makanya gue bikin nama panggilan sendiri aja yang kedengaran lebih keren."
"Tapi asli gue ngga akan tahu nama lengkap lo kalo ngga ada kejadian razia kayak tadi tau ngga? Hahahahaha"
Rado mendengus, "Udah sana masuk. Langsung tidur ya, jangan kebanyakan begadang. Nanti mata panda lo tambah gede."
Kontan aku mencubit lengannya gemas. Kesal sekaligus malu karena dia tahu kalau aku bermata panda, kantung mataku memang agak besar dan kehitaman seperti panda. Tapi sekaligus senang sih, karena itu artinya dia memperhatikanku. Gadis mana yang tidak suka bila diperhatikan, iya kan?

Eits. Aku tersadar dari lamunanku begitu balasan chat dari Rado datang.

Ya udah, gimana kalau Sabtu sore?

Hm? Sejenak aku berpikir. Akhir-akhir ini Rado sering mengajakku pergi, tapi tak selalu aku turuti. Kadang ngga enak juga sih kalau menolak terus, lagipula mau beri alasan apa lagi?
"Brietta", suara Mama terdengar di balik pintu kamar, "Ayo sayang kita berangkat, nanti kita terlambat acaranya."
"Iya bentar Ma"

Buru-buru aku membalas pesan Rado sebelum Mamaku mengomel

Gue kabarin nanti ya. Nyokap udah nungguin nih mau pergi

Oke, take care ya Princess Bee

Nafasku tercekat saat membacanya. Entah kenapa saat dia memanggilku begitu, dadaku seketika berdebar.
*
"Bri..", panggil Mama di tengah perjalanan
"Kenapa, Ma?"
"Yang suka ngantarin kamu pulang kerja itu siapa namanya? Radit?"
"Rado namanya, Ma.", ralatku. "Emang kenapa?"
"Ah engga, Mama cuma suka aja ngelihat dia. Anaknya cakep, sopan, terus kelihatannya pekerja keras ya?"
Aku mencibir, "Cakep apanya, Ma? Muka standar begitu, mana orangnya nyebelin, bawel, rese deh pokoknya."
"Tapi di mata Mama dia cakep loh, bersih gitu mukanya. Suka perawatan kali ya? Eh, Bri, kapan-kapan kamu ajak dia makan malam di rumah kita gih."
"Ha? Ya ampun, Ma.." keluhku.
"Loh, Mama mau pamer skill masak Mama loh"
"Dih, Mama ini kenapa sih ngebet banget? Akunya aja biasa aja"
"Dia doyan pork kan ya, Bri? Siang ini dia ikut misa kan?"
Eits. Mama mulai ngelantur, harus aku hentikan sebelum jadi berabe.
"Rado ngga makan babi, Ma."
Mama seketika diam, lalu menolehku yang duduk di bangku belakang.
"Rado ngga pergi ke Gereja kayak kita, Ma. Dia sholat Jumat di Masjid."
 Dan setelah itu, sepertinya Mama enggan membahas soal Rado lagi.
Yah, baguslah.
*
Sabtu sore, akhirnya aku putuskan untuk menemui Rado sepulang kerja. Dia pun mengabari akan menjemputku, tapi aku menolak dengan alasan lebih baik kita bertemu langsung saja di tempat janjian.
Sejak kemarin, moodku tiba-tiba memburuk.Ini bukan soal Mama lagi, tapi sepertinya ini sudah jadi urusan intern keluarga. Ah sial.
"Udah pesan makan?", tanya Rado begitu menghampiriku di sudut kafe.
"Ngga nafsu, males. Lo aja sana.", jawabku dengan jutek.
Rado mengamati wajahku, seolah dia mencoba meneliti apa penyebabnya, "Bri, kalo lo emang lagi sibuk atau ngga pengen ketemu gue, ya ngga apa-apa."
Aku menggeleng pelan, "Ngga. Gue emang sengaja nemuin lo di sini. Ada yang perlu gue omongin."
"Apaan?"
"Nyokap gue..", aku menatapnya lekat-lekat. "..suka sama lo"
Rado terbelalak. Kaget? Jelas iya, banget. Sebuah pernyataan yang sangat tidak terduga bukan?
"Dia mau ketemu lo besok malem. Lo mau kan makan malam di rumah gue?", tanyaku tak yakin jika Rado mau mengiyakannya.
"Be-bentar", Rado membetulkan posisi duduknya. "Dalam rangka apaan neh? Jangan bikin gue ngira yang engga-engga nih."
Aku menghela napas pendek, "Mau ngomongin soal kita."
"Ha?!"
"Iya, dia mau ngomongin soal KITA", aku menekankan kata 'kita' dengan tegas. "Dia ngiranya kita udah pacaran. Mau diseriusin kayaknya."
Rado menggeleng tak percaya, "Wait..ini mendadak banget sumpah. Gue aja belom ada persiapan apa-apa. Gu-gue harus gimana? Harus bawa apaan? Apa perlu orangtua gue juga ikutan?" Rado seketika panik.
"Do!", aku menepuk dahiku sendiri. "Lo cuma harus bawa diri lo sendiri, okay?"
"A-ah, okay.."
 Aku bisa lihat butir-butir keringat dingin yang membanjiri wajahnya.
Gugup ya? Sama.

to be continued..

Sabtu, 28 Januari 2017

Tell Me Why (part 4)

Bosan. Lelah. Gerah.
Entah aku yang sudah jenuh dengan situasi seperti ini atau memang aku tidak pernah menikmatinya,  tapi nyatanya hari ini terasa begitu panjang dan lama.
Masih setia mengikuti dua wanita di depanku yang sibuk melihat display kanan-kiri sambil terus heboh membicarakannya, aku sembari menyibukan diri dengan ponselku. Curhat.
'Anjrit, kesel banget gue hari ini. Bebasin gue, bro. Bebasin!' tulisku kemudian mengirimkannya ke dua temanku yang kadang jadi bajirut itu.
Tak lama salah satu orang membalas, 'Gue juga pengin bebas, bro.Capek'
Ha? Aku tercenung membaca balasan Baim. Kenapa dia? Baru saja mau membalas pesan Baim, mendadak ada seruan yang cukup memekik telingaku.
"Andraa, ayo dong, Nak. Jangan jalan sambil main HP, ah.", tegurnya yang melihatku sibuk dengan ponsel. Aku tersenyum canggung.
"Iya, Tan..eh, Ma."
Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, "Kebiasaan kamu ya masih suka panggil Tante, dibilangin suruh panggil Mama aja. Toh ngga lama lagi kan Andra bakal jadi anak Mama juga.", ujarnya seolah tanpa beban, tanpa memperhatikan raut wajahku yang mendadak cengo ketika mendengarnya.
Terlalu cepat anda menyimpulkannya, Nyonya Tua, aku membatin.
"Sayang ayo makan dulu. Mama mau makan apa, Ma?", Ghina, si anak manja ini sepertinya ingin memperlambat waktu agar aku lebih banyak menghabiskannya dengan dia dan Mamanya.
"Mama lagi pengin sop buntut di restaurant langganan kita itu loh, Ghin.", jawab Mama.
Aku terhenyak, "Eh, bukannya itu rada jauh dari Mall ini ya, Ma? Kenapa ngga makan di resto yang ada di sini aja?", aku coba menawar tapi kemudian sebuah cubitan kecil mendarat di lenganku.
"Kalo Mama mau ke sana, ayok. Kebetulan aku juga pengen makan itu, Ma. Udah lama ngga makan sop buntut.", kata Ghina seraya matanya melolot ke arahku.
Sial. Aku kalah.
*
"Makasih loh, Ndra, mau nemenin Mama jalan hari ini. Moga selanjutnya ada kesempatan lagi ya, soalnya masih banyak tempat yang mau Mama datengin bareng Andra dan Ghina.", ucap Mama Ghina begitu turun dari mobil.
Aku tersenyum tipis, "Iya, Ma. Semoga ya."
"Ya udah Ma, Ghina anter Andra balik dulu ya."
"Hati-hati Ghin, jalan lagi ramai banget itu."
Ghina mengangguk kemudian memberi kode untuk tancap gas.
"Andra pamit dulu, Ma.", ucapku seraya melambaikan tangan pelan.

Aku menghela napas panjang. Tiga jam akhirnya berlalu juga. Setelah sampai kos baiknya langsung tidur saja.
"Lihat kan tadi," celetuk Ghina, "Mama tuh begitu penginnya kamu ada buat dia. Pengin kamu jadi anaknya juga. Ngerti ngga sih maksudnya apaan?"
Nah, mulai lagi.
"Iya, jadi menantu kan maksudnya?"
"Kamu udah dikodein kayak gitu bukannya langsung ambil tindakan cepat malah mematung aja. Kamu ngga mau jadi menantu Mamaku?", tanya Ghina yang ingin aku jawab IYA dengan lantang. Tapi jelas saja aku tidak bisa menjawab seperti itu, nyawaku taruhannya.
"Kalau ini masih soal materi, aku ngga maksain kamu buat benar-benar siap dulu kok. Soal itu bisa dipikirin sambil dijalani. Yang penting kan ketegasan kamu dulu yang diutamakan, Ndra."
Lagi-lagi aku menghela napas, "Ngga segampang itu, Ghina. Aku ini laki-laki, calon kepala rumah tangga, jelas aja segalanya harus dipersiapkan matang-matang. Kalau sekarang ini persiapanku belum ada limapuluh persen."
"Kamunya sendiri udah ada usaha buat mewujudkannya apa belum? Jangan-jangan cuma buat alasan doang"
"Ngapain aku buat-buat alasan sedangkan nyatanya memang begitu?"
"Seenggaknya kamu bicarain sesuatu dulu dong sama orangtuaku. Biar mereka ngga kepikiran terus soal kita."
"Ghin, selama ini kita baik-baik aja, ngga ada yang perlu dikhawatirkan"
"Kalau kamu ngga segera bertindak, jelas itu yang mengkhawatirkan. Aku cuma takut bakal..", Ghina menggigit bibirnya, seolah enggan melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Takut bakal apa? Bakal pisah?"
"Aku ngga mau kita kayak Namira dan Baim, Ndra"
Aku terhenyak. "Hah? Emang mereka kenapa? Jangan bilang kalau mereka.. putus?"
Tak disangka Ghina mengangguk. Aku tercekat. Pantas saja Baim mengirim pesan seperti itu padaku.
"Kapan?", tanyaku
"Dua hari yang lalu.", jawab Ghina, lesu. "Aku mampir ke kedai Namira, dan di sana dia akhirnya cerita soal itu. Aku sendiri ngga nyangka mereka bisa putus begitu aja."
Aku  mendengus, "Mereka ngga putus begitu aja, pasti ada alasan kuat kenapa mereka ngga bisa sejalan lagi. Aku denger dari Baim kalau Namira ngga mau berkomitmen sama dia. Mungkin itu alasannya."
"Sama kayak kamu, kan?", Ghina mendelik ke arahku.
"Ha? Apaan sih? Kok malah dibalikin ke aku?"
"Ya Namira sama aja kayak kamu, ogah ngomongin soal komitmen."
"Jelas beda jauh lah", bantahku ,"Namira ngga tertarik sama komitmen, sedangkan aku mau, sangat mau, cuma keadaannya aja yang belum memungkinkan."
"Gitu aja alasan kamu sampe SBY jadi presiden lagi."
Dahiku berkerut, "Yakali SBY jadi presiden lagi, ngga mungkin lah!"
"Ya itu maksud aku."
Ah. Aku baru ngeh apa yang diucapkannya.
"Ghina..", tangan kiriku meraih tangan kanannya. Menggenggamnya lembut.
"Aku tuh sama kamu cintanya udah mentok, ngga bisa tengak-tengok ke mana-mana lagi, cuma sama kamu doang. Aku mau nikah kok sama kamu, mau hidup sama kamu sampe tua bangkotan, sampe maut memisahkan. Sekarang aku lagi usaha dulu buat mempersiapkannya, aku harus punya modal yang cukup dulu buat ngehidupin kamu nanti. Aku ngga mau kamu hidup susah gara-gara aku. Lihat sendiri, aku ke mana-mana masih pake motor, masih ngekos, buat DP rumah aja belum ada. Jadi tolong bersabar dulu buat aku ya."
Kali ini aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ya, biasanya aku paling malas membahas soal ini. Tapi pada akhirnya aku menyadari bahwa memang sudah umurnya untuk memikirkannya. Cuma kadang yang bikin kesal adalah ketidaksabaran Ghina, apa lagi kalau sudah bawa-bawa orangtuanya, menuntutku untuk segera melamar. Tentu saja aku akan melamarnya, segera. Ini cuma soal waktu.
Ah, bukan. Bukan cuma soal waktu. Tapi soal materi juga. Itu yang selalu saja bikin kepala pusing.

Ghina mendorong bahuku pelan saat aku mau menciumnya.
"Lah? Jual mahal amat nggak kayak biasanya."
"Aku ngga mau ciuman di mobil, nanti putus kayak teman kita."
Aku terbelalak, "Namira sama Baim abis ciuman terus putus?!"

to be continued..

Kamis, 26 Januari 2017

Tell Me Why (part 3)

Tepat pukul lima sore, aku menutup kedai kecilku bersamaan turunnya gerimis. Aku merogoh ransel untuk mencari payung, tapi sial, ternyata aku lupa membawanya. Ah sudahlah, berlari sedikit ke halte mungkin tak masalah, toh hanya gerimis.
Tapi begitu aku bersiap untuk pergi dari kedai, sebuah mobil berhenti tepat di depan mataku. Sebuah Grand Livina berwarna silver yang begitu familiar. Ah, dia rupanya. Tanpa pikir panjang aku pun masuk ke dalam mobil itu.
"Mobil lo kapan baliknya dari bengkel, sih?", tanyanya begitu aku memasang seat belt, to the point.
"Ngga tahu," aku mengangkat bahuku, "Kata abang-abangnya sih paling lama dua minggu. Ini kan baru lima harian.Belom dikabarin lagi gue."
"Pastiin sana udah bener apa belom itu mobil." tukasnya.
"Eh gue ngga nyuruh lo buat jemput-jemput gue ya. Masih bisa naik taksi atau bus kok.", balasku sedikit sewot.
Dia melirik ke arahku, mencibir "Ngambek. Gitu aja ngambek. Baperan dasar."
"Lagian lo kayak ngga ikhlas gitu."
"Ikhlas kok ikhlas. Apa sih yang engga buat pacar gue yang tersayang ini, ha?", godanya sambil terkekeh pelan.
"Basi lo, ah.", aku membuang muka, memandangi jalanan yang lumayan ramai sore ini.
"Mau empek-empek ngga?", tawarnya tiba-tiba.
"Ha? Kenapa empek-empek?", tanyaku bingung. Karena biasanya dia menawarkan makan di restaurant cepat saji atau di angkringan Solo.
"Itu, saudaranya Rado baru aja buka warung empek-empek gitu. Gue penasaran pengen nyobain, soalnya katanya baru beberapa hari buka udah laris aja."
"Emang saudaranya Rado ada yang orang Palembang? Setahu gue dia keturunan Jawa-Sunda deh."
"Lah, kenapa jadi Palembang?"
"Kan empek-empek makanan khas Palembang."
Dia terkekeh geli, "Namira sayangku, buka warung empek-empek ngga harus jadi orang Palembang dulu kali. Jadi saudara sepupunya Rado ini dulunya kerja di restaurant di Palembang, sahabatan sama kokinya. Diajarin lah dia cara bikin masakan khas sana, empek-empek salah satunya. Balik Bekasi ya dia coba buka warung sendiri dari hasil belajarnya itu.", ujarnya menjelaskan.
Mulutku membulat, "Gitu ya? Ya udah kalo lo mau, gue sih ngikut aja. Lagian bosen juga lo ajakin ke Richeese Factory mulu."
Dia terkekeh lagi.

*
"Kedai gimana ini hari?", tanyanya begitu pelayan selesai mencatat pesanan kami.
"Lumayan rame sih, mana kan lagi mendung, udara sejuk, banyak lah yang pengin minum teh sama makan kue.", jawabku. "Lo tumben beberapa hari ini ngga ada kerja rodi lagi?"
"Yah, gantian lah sama teknisi lainnya, masa gue mulu yang lembur."
"Duit lo berkurang dong jarang dikasih lemburan."
"Duit mulu yang lo pikirin."
"Lah, kita kan emang butuh duit buat hidup."
"Buat hidup kita butuh udara, air dan makanan. Kalau nikah baru kita butuhnya duit."
Aku mendengus, "Tauk ah." mendadak sebal kalau dia mulai mengungkit soal nikah.
Wahyu Ibrahim, di saat keluarga dan teman-teman memanggilnya Baim, cuma aku yang nyeleneh dengan memanggilnya Wayu. Dia adalah laki-laki yang sejak kanak-kanak sudah berada disisiku, bermain bersama, belajar bersama, masuk ke sekolah yang sama dari TK sampai SMA, dan akhirnya berpisah di perguruan tinggi. Dia memutuskan untuk kuliah di Jakarta mengambil jurusan teknik mesin bersama dua sahabatnya, sedangkan aku memutuskan untuk kuliah di Semarang.
Empat tahun berlalu, akhirnya kami bertemu lagi di Bekasi, bekerja di kota yang sama. Dan entah karena dasar apa, aku menerima dia menjadi kekasihku. Kurasa bukan hal yang sulit untuk menjadi gadis yang berada disisinya selama ini, bahkan dua tahun bersama pun tak berasa. Tapi belakangan ini, dia lagi senang sekali mengungkit hal yang sebenarnya membuatku risih dan sedikit kesal.
Komitmen. Lamaran, Menikah. Ah, aku sungguh tidak menyukai kata-kata itu.
"Nah kan, begitu mulu kan reaksi lo.", Baim menunjuk wajahku.
"Lo lagian cari perkara terus sama gue."
"Cari perkara apaan, Nam? Yang ada gue lagi nyoba meluruskan perkara ini."
"Yu, gini ya..", aku menghela napas pendek. "Lo kalau mulai ungkit hal beginian cuma bikin sakit kepala tau ngga. Daripada lo bikin gue sakit dan kehilangan nafsu makan mendingan stop aja, Okay?"
Baim mendengus, "Mau sampai kapan lo kayak gini sih, Nam? Gue kurang meyakinkan gimana lagi sih di mata lo?"
"Bukan masalah lo yang ngga meyakinkan atau apa, gue cuma ngga suka lo ungkit soal nikah-nikah."
"Kenapa lo ngga kayak Ghina sih yang begitu matangnya udah mikirin hal ini? Kita udah sepantasnya..."
"Yu, plis ya gue ngga suka dibanding-bandingin kayak gitu. Apa lagi Ghina itu sahabat gue, sahabat kita. Ngga etis tau ngga."
"Lo sebenarnya sayang ngga sih sama gue?"
Ah. Pertanyaan itu keluar lagi. Entah kenapa aku kesal dengan sikap Baim yang drama king begini. Terdengar kekanakan dan norak sekali.
"Wayu lo jangan mulai drama deh, Yu. Lo ngajakin gue ke sini buat makan kan, bukan buat debat?"
Baim menghela napas pendek. "Gue cuma pengin kita bisa hidup bareng buat selamanya, Namira. Gue memikirkan masa depan kita berdua. Seenggaknya lo biarin gue nyoba buat ketemu sama orangtua lo, ngobrolin soal kita..."
"Kenapa lo maksain sesuatu yang gue ngga suka sih?"
"Kenapa lo harus ngga suka?"
"Karena gue ngga mau kebebasan gue direnggut sama yang namanya komitmen."
Deg. Aku bisa melihat raut muka yang begitu berbeda dari Baim. Wajahnya memerah, seolah memendam kesal yang mendalam. Aku mencoba untuk tetap tenang, sambil terus menatapnya lurus-lurus.
Kukira Baim akan semakin mengomel atau melakukan tindakan ekstrem seperti menampar pipiku atau semacamnya, tapi ternyata dia hanya diam. Sampai pelayang datang membawakan pesanan, kami sama-sama terdiam. Makan pun tanpa suara, bahkan aku lihat sendiri Baim hanya menyuap sedikit makanannya. Yah, kalau sudah begini, nafsu makan memang bisa lenyap seketika.
*
Baim masih terdiam selama perjalanan pulang. Dia terlihat begitu berbeda dari biasanya. Selama ini jika sedang marah dia hanya akan mengomel sebentar kemudian membaik. Tapi kali ini, apa dia benar-benar kesal padaku sekarang?
"Yu..", panggilku dengan canggung. Matanya menatap lurus ke depan,tapi raut wajahnya begitu kosong.
"Gue kan udah bilang, jangan ungkit soal ini, yang ada bikin kita jadi berantem."
"Ya udah, ", akhirnya dia bersuara
"Ya udah apanya?"
"Ya udah gue ngga akan ungkit soal itu lagi buat seterusnya. Karena emang udah bukan urusan gue lagi."
Aku tercenung, dahiku berkerut, "Maksud lo apaan?"
"Ngga ada gunanya kita begini, Nam. Gue ngga bisa nerusin lagi. Toh kita pacaran juga karena lo kalah taruhan sama gue, bahkan first kiss pun, juga karena lo yang kalah taruhan."
"Sebentar sebentar, lo mau ngomong apaan sih sebenernya?", tanyaku makin bingung.
Baim menghentikan mobilnya tiba-tiba. Wajahnya mendekat padaku, kemudian menatapku tajam.
"Yu.."
Bibirnya menyentuh bibirku, sesaat tapi terasa dalam.
"Itu yang terakhir dari gue. Kita putus aja."

to be continued..